Saturday, January 21, 2017

Galaunya Sang Mantan


Sesekali sang bapak harus melongokkan kepala keluar jendela mobilnya melihat keriuhan yang terjadi di Istana. Apa sebenarnya yang sekarang terjadi disana ? Beribu tanya terasa menghujam dibalik kepala, tanpa sedikitpun nyali untuk sekedar menghampiri. Tubuhnya yang menua seperti dipaksa untuk terus berusaha demi mendapatkan lagi penghormatan sebagai orang yang berjasa bagi negerinya. Entah lah, mungkin juga karena kecanduan nikmatnya kue sebagai penguasa. Sekian tahun yang lalu dia pernah berada di dalam sana, dilayani sebagai VVIP, dan dielu-elukan laksana raja. Tapi kini dia meringkuk sendiri didalam puri, hanya ada semangat tersisa dibalik badannya yang mulai membungkuk. Tiba-tiba ada seringai kebuasan yang terlihat dibalik senyum tipisnya, "Aku harus bisa kembali ke sana, bagaimanapun caranya."

Seminggu kemudian sang bapak mengumpulkan kembali kekuatannya, merekalah yang selalu setia karena telah mendapatkan banyak fasilitas ketika masih berada dalam lingkaran kekuasaannya. Walaupun, seperti halnya sang bapak, mereka pun sekarang tersisih dari hiruk pikuk kekuasaan. Mereka adalah bidak-bidak yang setiap saat siap digerakkan, demi nafsu kekuasaan.
"Saya ada berita bagus...!!" Sambil terkekeh dia mencoba menjelaskan niat dan tujuan mereka berkumpul pada hari itu secara panjang lebar. Diskusi berlangsung kurang dinamis bahkan mereka seperti sedang mendapat arahan dari sang bapak, seperti saat masih berkuasa dulu.
"Tapi pak, bukankah kandidat yang bapak ajukan itu samasekali belum pernah terdengar namanya, apa pasti dia mau ?" seorang undangan bertanya.
"Serahkan pada saya, dia pasti akan mengikuti semua kemauan saya, anda hanya perlu mendukung saja,tidak perlu bertanya,paham ?" Sang bapak menjawab tegas.
Suasana jadi hening seketika, para tamu undangan mulai terlihat gelisah. Sampai akhirnya ada salah satu dari mereka yang memberanikan diri untuk bertanya lagi,
"Tapi pak, apa yang bisa bapak lakukan sehingga kita bisa yakin bahwa kandidat kita bisa mengalahkan Sang Jagoan yang posisinya sangat kuat pak ?"
Lagi-lagi suasana sepi saat sang bapak menatap tajam kepada sang penanya. Tiba-tiba sang bapak mengambil handphone dari sakunya dan menelepon seseorang. 
"Tolong  antarkan mereka masuk ke ruang rapat !"  Ujar sang bapak saat menelepon. 
Tak berselang lama masuklah 3 orang laki-laki dengan atribut tertentu diiringi 3 wanita berpakaian seksi dan sangat kontradiktif dengan pakaian ketiga laki-laki tadi. 
Seketika itu juga para tamu undangan terkejut seperti terkena aliran listrik ribuan ampere. Bukan karena keseksian busana para wanita pengiring, tapi karena mereka tahu persis reputasi ketiga tokoh itu. Bahkan salah satu diantara mereka pernah dipenjarakan saat rezim sang bapak masih berkuasa. Bagaimana mungkin sekarang mereka dipaksa untuk bersekutu dengan ketiga pria itu ? Tapi sejenak kemudian mereka segera menyadari itu, politik memang terkadang membuat kita memaksa menelan ludah sepahit apapun, bahkan terkadang membuat diri kita seperti sampah.
"Merekalah jawaban atas pertanyaan saudara tadi. Tidak ada yang mustahil kalau kita mau berusaha, bagaimanapun caranya, berapapun cost nya !" Sang bapak dengan dingin berkata kepada para undangan sambil menjabat tangan ketiganya.
"Ya..berapapun cost nya, semua ada disini..." Tiba-tiba dari ruangan lain muncul seorang wanita yang nampak galak sambil menunjukkan buku rekening bank. Dia istri sang bapak yang memang terkenal tamak. 
Para tamu undangan terlihat saling bergumam tidak jelas dan saling berpandangan, seolah tidak percaya dengan apa yang ada dalam pikiran mantan pemimpin yang selama ini mereka hormati itu.
"Tenang saudara-saudara, kami tidak meminta sepeserpun dari anda semua, kami hanya minta dukungan dari anda dan relawan di lapangan nantinya". Dan yang lebih penting, ini hanyalah target antara saja, ada target besar yang akan mudah kita capai jika ini sukses, bagaimana ?"
"Bapak memang hebat, kami semua kagum dengan strategi dan politik bapak dalam membangun kekuatan, kami siap pak, demi mimpi-mimpi kita semua !" 
Sontak semua tamu undangan berdiri dan bertepuk tangan setelah mendengar dan melihat sendiri apa yang akan dilakukan sang bapak, mantan pemimpin mereka, dalam merebut kembali singgasana kekuasaan. 
"Saudara-saudara tidak usah ragu, kami yang akan mengeksekusi semua strateginya nanti, kita tinggal duduk dan menikmati hasilnya, bagaimana ?" Ucap salah seorang dari ketiga laki-laki itu.
"Betul, kita sudah siapkan strategi yang matang, banyak sekali isu yang bisa kita mainkan. Kita berani  jamin, dengan besarnya dukungan dana semua akan terasa mudah, saya bisa pastikan Sang Jagoan pasti habis...habissss !" Ujar laki-laki satunya dengan berapi-api. 
"Yang perlu bapak-bapak catat, kita bertiga hanya bekerja dibalik layar saja, bukan sebagai tim sukses, jadi kita tidak akan tampil bersama". Laki-laki berjenggot ini menimpali ucapan kedua temannya.
Begitulah akhirnya dengan berbagai cara sang bapak meng endorse sang putra mahkota untuk meraih kembali tahta pemerintahan. Manisnya kue kekuasaan belum bisa dilupakan, mimpi harus terbayarkan walaupun ada sedikit perjudian. 
Dan berkat kerja dari ketiga lelaki yang bekerja secara undercover tadi mimpi sang bapak akan bisa direalisasikan. Sang jagoan berhasil mereka lumpuhkan dengan isu buatan mereka.
Bagaimana kelanjutan kisah sang bapak dan putra mahkotanya ? 
"Insya Allah Bersambung"

Thursday, January 19, 2017

Surat Terbuka Untuk Rizieq Shihab


Alhamdulillahi rabbil ‘alaamiin. Washalaatu wassalaamu ’ala asrofil ‘anbiyaa i wal mursaliin, wa ‘alaa alihi washohbihii ajma’iin. Ammaa ba’du.

Bapak Riziek Shihab yang saya hormati,
Sebagai fans berat bapak, sudah lama saya berniat untuk ngajak ngobrol bapak. Tapi saya sadar diri lah pak, saya cumak pensiunan tukang semir sepatu, mana mungkin bapak mau nemuin. Seperti kita ketahui bersama bahwa sekarang negara ini dipimpin oleh Jokowi melalui pemilu yang demokratis, meskipun pada awalnya sempat timbul ketidakpuasan oleh beberapa pihak terutama mereka yang sudah bekerja keras untuk memenangkan Prabowo. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu, dan saya yakin, sebagai seorang negarawan Pak Prabowo sudah move on dari kekalahan saat pemilu yang lalu. Sebenarnya saya juga mengharap Pak Rizieq juga berbesar hati, sebagai pendukung Prabowo saya melihat bapak sudah banyak melakukan upaya yang dibutuhkan untuk memenangkan beliau bahkan dengan cara yang paling kontroversial sekalipun.

Tapi Tuhan berkehendak lain kan pak, ternyata Dia mempunyai skenario yang samasekali diluar dugaan bapak. Mungkin keadaan ini membuat bapak jadi shock dan stress berkepanjangan ya pak ? Bagaimana mungkin seorang Habib doanya tidak didengar oleh  Tuhan, bisa jadi seperti itu yang ada dalam pikiran bapak saat itu bahkan hingga saat ini saya kira, bukan begitu pak ? Bagaimana mungkin seorang Jokowi yang bapak ragukan ke Islamannya bisa memenangkan kontestasi pilpres ? Saya kira memang Tuhan sudah tidak berlaku adil sama bapak, kita demo aja gimana pak ?

Lanjut ya pak, sebagai orang yang awam soal agama saya tentu sangat menghormati keilmuan bapak. Apalah saya ini dibanding bapak yang bergelar Habib, keturunan langsung dari Rasulullah. Tapi perkenankan saya yang awam ini memberikan sedikit catatan kepada bapak, bukan karena benci kepada bapak lho ya, santai aja pak. Jangan juga anggap saya ini kafir pak, walaupun saya sebenernya bisa membaca syahadat lagi jika dianggap kafir oleh orang lain, seperti nasihat dari Gus Dur, orang yang bapak musuhi itu. Toss dulu pak...

Saya, mungkin juga teman-teman yang lain terutama umat muslim sangat bangga bahwa di Indonesia bermukim seorang Habib, keturunan Rasulullah dan bahkan bukan hanya seorang. Apalagi jika mengingat jauhnya jarak waktu antara umat sekarang dengan Rasulullah. Tentunya dengan adanya Habib di Indonesia paling tidak bisa mengobati kerinduan kita kepada sosok Rasul. Kita sebagai orang biasa sangat berharap akan menemukan keteladanan yang dicontohkan Rasul dari seorang Habib, seperti beberapa cerita yang sering kita dengar. Bagaimana akhlaknya, bagaimana tawadhu’nya, bagaimana adabnya bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan. Karomah yang dimiliki seorang Habib tentu sangatlah luar biasa, penghormatan yang didapatnya dari umat pastilah sangat istimewa. Bukankah begitu Pak Rizieq ?

Pak Rizieq,
Kebetulan tanpa sepengetahuan bapak saya pernah beberapa kali mengikuti pengajian yang dipimpin oleh Habib Luthfi bin Yahya. Dari beliau saya bisa melihat gambaran jelas Rasulullah seperti uraian diatas, teduh dan sangat sejuk pembawaannya. Ah pak, tapi beliau tidak pernah membahas siapa yang menjadi bidan saat Yesus dilahirkan, nggak asik ya pak, nggak bikin emosi kita tersulut untuk jihad. Tapi  pak, berada dalam satu majlis dengan beliau mengingatkan lagi bagaimana para sahabat saat masa Rasulullah dulu, hingga waktupun berlalu tanpa terasa. Demikian juga para santri yang menimba ilmu di pesantren beliau, jauh sekali dari kesan beringas dan jumawa, seperti teman-teman kita itu pak.

Dan belum lama berselang kalau Pak Rizieq mengikuti berita dan media sosial, kita melihat bersama bagaimana Habib Quraish Shihab ( yang tidak bersedia dipanggil Habib kecuali oleh cucu beliau ) dan keluarganya saat mengunjungi sahabatnya Kyai Mustofa Bisri. Tidak ada kesan yang mereka timbulkan selain indahnya ahlak Islam, bahkan beberapa dari pembacanya menjadi sangat terharu saat melihat kedekatan beliau berdua, kan lebay ya pak, lebayatun tepatnya krn bapak dari Arab. Begitu juga saat Habib Quraish Shihab berkunjung ke kediaman Kyai Maimoen Zubair, momen saat Habib Quraish mencium tangan Kyai Maimoen adalah momen saat beliau meluruhkan ego sebagai seorang Habib dihadapan ulama sepuh. Masa seorang Habib kalah terhormat sama ulama dari Indonesia ya pak, kita demo lagi nih ?

Pak Rizieq yang terhormat,
Satu hal yang luar biasa dari dua Habib yang saya sebut diatas adalah kecintaan mereka kepada bumi Nusantara, gokil kan pak ! Walaupun nenek moyang mereka dari jazirah Arab tapi mereka memiliki nasionalisme yang tinggi kepada Indonesia. Mereka tetap tidak menghilangkan identitas asli mereka, tapi disisi lain juga sangat menjunjung tinggi kehormatan negara di bumi yang mereka pijak. Yang saya rasakan mereka malah lebih Indonesia dari orang Indonesia sekarang yang malah ke arab-araban pak. Mungkin karena alasan itu ya pak sehingga kita tidak pernah melihat mereka mengerahkan para santri dan pengikutnya untuk demo ini dan itu, ngadu ini dan itu atau provokasi sana dan sini. Apalagi berniat mengubah ideologi NKRI dengan syari’at Islam, jauh sekali dari pikiran mereka saya kira pak. Jangankan yang seperti itu pak Rizieq, saya bahkan belum pernah mendengar mereka mengucapkan kata-kata yang tidak pantas untuk di dengar.

Mereka selalu hormat dan ta’dhim kepada siapapun yang memimpin negara ini, bahkan ketika dipimpin oleh seorang wanita mereka tidak pernah menjegal dengan ayat Al Qur’an, padahal mereka ahli tafsir dan tentu saja hafal Al Qur’an. Atau jangan-jangan karena mereka sebenarnya jauh lebih tahu bagaimana seharusnya menggunakan Al Qur’an daripada kita ya pak ? Mereka pandai sekali menjaga hati ya pak, coba cari informasi pak jangan-jangan pernah menjadi murid Aa Gym. Nggak sih, mungkin mereka hanya sadar ada nama besar dibalik hidup mereka dan konsekuensi dibalik itu sangat berat sehingga harus bisa menjaga maruah sebagai keturunan Rasul.

Harus kita akui pak, ahlak yang mereka tunjukkan adalah sebagian cerminan ahlak Rasulullah, itu menurut nurani saya lho pak. Buktinya mereka tidak pernah mendapat penolakan saat hadir ke suatu daerah, bahkan ke daerah yang mayoritas penduduknya bukan pemeluk Islam seperti kita ini pak. Ih, apa mereka nggak takut aqidahnya akan bengkok saat menemui orang-orang yang nggak satu agama ya pak ? Apalagi saat membaur dengan masyarakat mereka jarang terlihat memakai atribut muslim seperti kita. Saya saja kalau pergi ke pasar masih selalu pake gamis dan sorban pak, ya seperti bapak itu, padahal cuma beli kopi dan rokok, itupun ngeteng. Agak seneng juga sih ngelihat masyarakat jadi merasa seperti ter-intimidasi, apalagi kalau kita perginya rame-rame kaya mau arisan. Gue dong Islam cuuuy, elo mah apa ??  Bapak suka ngerasa gitu juga nggak sih ? Ah, bapak mah arisan RT aja naik Pajero Sport.

Oh iya pak dalam kesempatan yang baik ini saya juga mengucapkan selamat kepada bapak karena berhasil membentuk opini seolah-olah bapaklah Imam Besar Umat Islam di Indonesia. Bapak pandai sekali dalam menggiring opini, orang tidak bersalah bisa menjadi pesakitan dengan berbagai manuver yang bapak buat, duit bapak banyak ya, saya salut karena bapak sudah seringkali membuat orang yang terlihat pintar menjadi bego seketika. Ck ah..tapi kok saya tiba-tiba menjadi merasa nggak sreg ya dengan manuver-manuver yang bapak buat. Apalagi belakangan bapak melipir minta mediasi damai saat gelombang laporan dari elemen masyarakat datang untuk melaporkan bapak ke Polri, nggak jantan ah pak. Apa bapak merasa takut kalau suatu saat bakal masuk penjara sampai melipir ke DPR minta dukungan pada celengan semar ? Cuma segitu doang nyali bapak ? Cemen ah....

Saya juga kepengin bertanya, sebenarnya apa yang melatarbelakangi keinginan bapak untuk melakukan aksi-aksi selama ini. Bukankah negeri kita sudah damai pak, bapak kepenginnya Indonesia yang seperti apa ? Jangan ngomong masalah syariat Islam di negara yang penduduknya menganut beragam agama dan budaya pak. Pancasila versi piagam Jakarta sudah dikoreksi, dan yang melakukan adalah Mohammad Hatta dan 8 orang lainnya, yang mayoritas juga beragama Islam. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mencapai kesepakatan menghapus kata dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya pada sila pertama, hanya 15 menit ! See pak, mereka ternyata lebih visioner kan ? Konsep penerapan syariat sebagai landasan dalam bernegara itu bid’ah pak, apakah rasul menerapkan itu ? Kalau memang itu solusi mestinya negara-negara di timur-tengah sudah damai sekarang, nyatanya malah nggak karuan kan pak ? Jadi hanya karena kita beragama Islam tidak berarti konsep bernegara pun juga harus sesuai dengan syariat Islam, itu namanya mabuk Islam pak, keblinger ! Apakah rasulullah pernah mengajarkan konsep suksesi dalam Islam ? Bahkan dalam sejarahnya setiap suksesi selalu terjadi pertumpahan darah, bapak pasti tahu lah bagaimana para khalifah akhirnya wafat karena terbunuh. Sekali-kali bapak main lah ke New Zealand, negara yang secara substantif kehidupan masyarakatnya sangat Islami padahal bukan negara Islam. Jangan ke Arab mulu pak disana mah udah banyak orang yang modelnya kayak bapak.

Masih banyak waktu untuk bertobat pak, mumpung hayat masih dikandung badan. Kalaupun bapak bernafsu untuk memimpin negara ini, bertarunglah secara fair, buatlah partai. Bukankah aksi 212 kemarin menunjukkan betapa hebatnya bapak ? Bisa menghadirkan 7,2 juta umat datang ke Jakarta, kenapa bapak tidak ambil momentum popularitas ini ? Atau bapak kena tipu lagi, atau berhalusinasi lagi ? Cara-cara yang bapak lakukan selama ini hanya akan menuai badai pak, percayalah. Bukti sudah menunjukkan banyaknya resistensi bahkan dari kalangan Islam sendiri, jangan lebay lah pak. Menjadi seorang Islam yang nasionalis seperti Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Quraish Shihab akan lebih mudah diterima masyarakat dan tidak akan merubah bapak menjadi nista dimata Tuhan.

Terakhir dari saya sebagai fans berat bapak, perbanyaklah dzikir Yaa Latiif supaya Allah selalu melembutkan hati kita pada setiap kesempatan. Kurangi dzikir di jalanan dengan meneriakan kalimat takbir pak, apalagi dengan menggunakan pengeras suara. Dzikir akan lebih nikmat jika kita lakukan sendiri dalam sunyi. Kurangi penggunaan media online dan jejaring sosial sebagai sarana untuk memprovokasi dan memfitnah. Sekian dari saya ya pak, maaf kalau cerewet, dan ingat pak dzikirnya Yaa Latiif, bukan Yaa Fuluus.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq.

Tuesday, January 17, 2017

Menunggu Ketegasan Jokowi



Setelah memerintah selama lebih dari 2 tahun banyak sudah pencapaian target yang dilakukan oleh pemerintah yang memimpin negara ini walaupun masih terlalu dini untuk menilai. Masih tersisa 3 tahun lagi, kita semua mahfum, di tahun ke-5, yaitu tahun konsolidasi politik, pasti sedikit terpecah konsentrasinya karena akan menghadapi pemilu. Secara hitungan berarti menyisakan waktu efektif 2 tahun lagi bagi Jokowi dan kabinet kerjanya untuk merampungkan semua persoalan yang melilit bangsa.

Tidak mudah untuk mengurai benang kusut yang ditinggalkan pemerintah sebelumnya. Kita tentu tidak boleh begitu saja 100 % menyalahkan kebijakan pemerintah SBY, walaupun kenyataannya banyak meninggalkan persoalan. Mulai dari mewabahnya korupsi yang justru banyak menimpa jajaran pimpinan Partai Demokrat, pembiaran terhadap kasus HAM, mangkraknya beberapa proyek yang dibiayai APBN, serta potensi ancaman dari kaum radikal. Tapi sebagai rakyat kita harus bisa mikul duwur mendhem jero, alih-alih menggugat keterpurukan ekonomi di masa pemerintahannya. Rakyat akhirnya selalu menjadi korban kepentingan penguasa, apes  banget kan.

Sebagai pemilih Jokowi saat pemilu 2014 tidak berarti saya mendukung semua kebijakannya. Jadi salah kalau ada yang mengatakan saya adalah seorang Jokower hanya karena saya ikut andil dalam pemenangan beliau pada Pemilu yang lalu. Mendukung tidak berarti harus meng iya kan semua kebijakan pemerintah. Nyata nya masih banyak sekali PR yang belum diselesaikan beliau sesuai janjinya saat kampanye, walaupun banyak juga pencapaian yang sudah dilakukan.

Satu janji yang sampai sekarang belum direalisasikan adalah program deradikalisasi terhadap ormas-ormas yang oleh mayoritas masyarakat dicap sebagai kelompok radikal dan kerap meresahkan dalam setiap aktivitasnya. Bahkan akhir-akhir ini gerakannya malah semakin menjadi.

Sungguh sangat mengkhawatirkan, karena filosofi yang mereka usung sangat bertentangan dengan kesepakatan para pendiri bangsa yang sudah menjadi konsensus bersama. Mengkhawatirkan karena mereka mengklaim diri sebagai perwakilan Islam lengkap dengan atribut yang sangat meyakinkan, maaf, kearab-araban. Sebagian dari umat Islam malah menganggap pemimpin ormas biadab ini sebagai Imam Besar mereka, padahal ormas Islam terbesar di negara ini tidak pernah menganggap sama sekali, lalu umat Islam mana yang mereka klaim ? Belum lagi statement tentang ISIS yang mereka anggap tidak berbahaya hanya karena mereka anggap sedang berjihad menegakkan khilafah. Padahal sudah menjadi rahasia umum bagaimana laskar-laskar ISIS dengan sangat biadab membunuh warga yang tidak mau bekerjasama dengan mereka. Butuh berlembar-lembar kertas untuk menggambarkan bagaimana kejamnya ISIS, seperti halnya butuh banyak waktu untuk menuliskan satu demi satu keberingasan laskar preman yang mencatut nama Islam ini.

Sampai kapan pemerintah terus membiarkan anasir-anasir yang jelas sering memprovokasi dengan menebar kebencian ? Sampai kapan pemerintah dengan kominfo nya disibukkan memantau situs-situs penyebar hoax buatan mereka ? Silakan lihat di internet, kebanyakan situs yang membahas tentang Islam adalah hasil ciptaan para radikalis yang mendukung berdirinya khilafah di Indonesia. Beberapa gembong khilafah berdalih bahwa sistem ini hanya sebagai wacana pengganti demokrasi yang mereka anggap tidak cocok karena hasil pemikiran barat yang mereka anggap kafir. Apakah mereka tidak berpikir bahwa era khilafah selalu diawali atau diakhiri dengan pertumpahan darah ? Bagaimana nasib mereka yang bukan muslim, ketika dimasa demokrasi saja beberapa diantara mereka sulit mendapatkan akses untuk beribadah ? Apakah dengan menjadi muslim harus selalu menunjukkan bahwa kita lah yang paling berkuasa atas semua umat ?

Oke saya bisa memahami ghirah atau semangat mereka untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya, dan siapapun umat beragama pasti akan mendambakan itu. Tapi apakah aksi yang mereka lakukan selama ini mencerminkan tindakan yang berpahala ? Kita semua bisa saksikan bersama. Saya tidak bermaksud menjadikan diri saya sebagai Tuhan yang berhak menentukan sebuah tindakan berpahala atau tidak, tapi tanpa menempatkan posisi mejadi Tuhan pun saya rasa semua sudah bisa menilai. Jaminan apa yang mereka berikan ketika sistem khilafah sesuai syariat Islam bisa menyelesaikan masalah di negeri ini, apalagi jika mengingat bahwa ada 5 agama berbeda yang juga di akui negara ini secara kostitusional. Apakah mereka bisa menjamin kemerdekaan tiap pemeluk agama untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinan masing-masing ? Sedangkan sekarang ini mereka sudah menampakan kesombongan sebagai mayoritas. Kita lihat saja betapa reaktifnya orang-orang dalam kelompok ini, ketika melihat sesuatu yang baru dan tidak sesuai dengan selera mereka. Sudah banyak contohnya, mulai dari logo Bank Indonesia, Pahlawan Aceh yang tidak menggunakan hijab dan sebagainya. Diperparah lagi dengan karakter pengikutnya yang begitu mudahnya menelan berita hoax yang notabene disebarkan oleh team cyber mereka.  Jelas sekali negara ini sedang dalam keadaan darurat radikalisme.

Umat Islam yang awam sedang digiring kepada sebuah opini bahwa kelompok merekalah sejatinya Islam yang sebenarnya, sehingga ketika ada orang Islam yang tidak setuju dengan aksi pemimpinnya maka dianggap bukan Islam. Dituduh liberal, sesat, anti Islam, PKI, bahkan kafir ! Bagi para bajingan ini tidak ada ruang untuk berbeda, semua berada dalam satu garis komando, lantas apa bedanya mereka dengan Hitler, Musolini, atau Stalin ? Para pengikutnya tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang dimanfaatkan untuk memuaskan syahwat kekuasaan dengan membungkus diri mereka dengan baju Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Jadi seolah-olah para pengikutnya adalah orang yang siap mati demi mengawal dan membela fatwa ulama. Ulama yang haus darah dan intoleran serta hobi teriak-teriak sambil mengancam untuk membunuh dalam setiap aksi mereka. Ulama yang mata duitan dan bisa diperalat untuk merongrong kewibawaan pemerintah yang sah. Ulama yang menghalalkan segala cara dalam memenuhi ambisi termasuk dengan menyebarkan berita bohong, memfitnah dan mengadu domba instansi POLRI dan TNI. Ulama yang sedang dalam penyelidikan terkait pengiriman bantuan terhadap teroris ISIS di Suriah. Ulama yang anaknya modar sangit di Suriah karena berperang membela ISIS. Ulama yang ditolak kedatangannya di Samarinda karena melecehkan etnis Dayak karena dianggap kafir. Ulama yang melecehkan Pancasila dengan PancaGila, yang anti dengan kebudayaan Indonesia tetapi hidup dan mencari makan di bumi Nusantara, Gokil !

Sungguh, semestinya sebagai umat Islam kita malu memiliki ulama dengan kualitas rendah seperti itu. Belum pernah saya mendengar ada ucapan santun yang terlontar dari setiap ucapannya selain agitasi dan provokasi demikian pula para pengikutnya, belum pernah sekalipun ada tindakan yang tidak anarkis dan kontroversial. Sebaliknya di daerah dimana tidak ada keterwakilan ormas ini suasananya begitu tentram. Logika goblog nya ketidakberadaan mereka justru akan menimbulkan suasana kondusif, bagi umat Islam dan apalagi umat beragama yang lain.

Jokowi sebagai kepala negara semestinya lebih memprioritaskan keutuhan bangsa dari ancaman perpecahan. Beberapa tokoh pro demokrasi ataupun pro kepentingan mungkin akan menentang keras jika pemerintah membubarkan kelompok ini. Tapi apalah arti demokrasi jika akhirnya bangsa ini akan terbelah dalam konflik yang berkepanjangan, apalagi demokrasi kita berlandaskan Pancasila bukan liberal seperti di negara asalnya. Membiarkan faham-faham intoleran tumbuh subur hanya akan menimbulkan keresahan di negara yang multi etnis dan kultur seperti Indonesia.

Bukti sudah nampak jelas di depan mata, laporan dari berbagai elemen masyarakat juga tidak ada kurangnya, alih-alih ditindak tegas, kalian ( pemerintah ) malah seperti terlihat ketakutan dengan intimidasi para gembong intoleran dan pengikutnya. Kalau kalian saja takut bagaimana kalian akan melindungi kami dari aksi kekerasan mereka ? Kalau sudah seperti ini jangan salahkan jika ada beberapa ormas yang komitmen terhadap tegaknya NKRI mengambil sikap sendiri. Bukan dalam rangka memerangi, tapi sekedar shock terapi bahwa lebih banyak yang siap menjaga keutuhan NKRI. Ayo kita show of force untuk menunjukkan kekuatan terbesar sebenarnya ada dipihak mana. Sudah terlalu lama pembiaran ini terjadi, semakin banyak juga umat yang termakan provokasi. Kalau ketegasan Jokowi tidak bisa dinanti jangan salahkan kalau pemilu nanti kami tak memilih lagi, bagaimanapun negeri ini butuh pemimpin bernyali !!

Wednesday, January 4, 2017

Gerai itu bernama Fitsa Hats




Dalam sekejap Fitsa Hats yang mengadaptasi nama sebuah gerai Italian Food menjadi viral. Netizen memang luar biasa, sedikit saja topik yang aneh dalam sekejap mata jadi trending di media sosial.  Belum lama berselang om telolet om malah jadi trending world wide, gila.

Adalah tulisan di Berita Acara Pemeriksaan ( BAP ) salah seorang saksi yang memberatkan Basuki Tjahaja Purnama pada persidangan kasus penistaan agama yang menerangkan bahwa saksi pernah bekerja di gerai pizza hut ( mungkin maksudnya seperti itu ). Namun penulisan di BAP ditulis dengan fitsa hats, entah kesalahan dari penulis BAP yang tidak tahu cara menulisnya atau memang permintaan dari saksi yang notabene adalah orang yang anti terhadap produk asing yang dianggapnya kafir, sehingga ejaannya sengaja dirubah. Atau memang keduanya memang tidak tahu ya, karena sebelum ditandatangani mestinya saksi memeriksa kebenaran tulisan tersebut.

Ah sudahlah, terlepas dari siapa yang salah dalam penulisan itu yang jelas kejadian ini tentu saja sangat memalukan. Ketakar betapa rendahnya kualitas SDM di Indonesia, sehingga menulis ejaan asing yang sebetulnya cukup familiar saja bisa salah, dan ini bukan sekedar typo, tapi lebih ke bodoh.

Jadi ingat beberapa tahun lalu saat di hire untuk melakukan seleksi untuk rekruitmen penyiar di sebuah stasiun radio swasta. Ada beberapa pelamar yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa yang notabene well educated ternyata tidak bisa mengeja kata dalam bahasa Inggris. Ketika saya suruh mengeja tulisan STYX yang semestinya dieja es ti way ex beberapa diantaranya mengucapkan es ti ye ix, ada malah yg mengucapkan stik. Belum lagi ketika disuruh mengucapkan CHOIR, yang harusnya dibaca quaier dibacanya khoir, emang bahasa arab ?!

Bukan bermaksud merendahkan atau bahkan sok tahu tapi kualitas SDM yang seperti ini memang harus dibenahi, jangan salah, mereka bekerja di instansi pemerintah. Sebuah pekerjaan yang banyak diidamkan tapi tidak mudah untuk bisa dicapai, bukan karena faktor ketidakpandaian tapi lebih banyak karena faktor x. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa mereka yang tidak menguasai bahasa inggris, minimal secara pasif, adalah warga negara kelas dua. Ungkapan satire tentu saja, mengingat begitu pentingnya penguasaan bahasa inggris disemua lini, terlebih di instansi pemerintah.
Jangan kaitkan dengan nasionalisme karena ini adalah dua sisi yang jelas berbeda, menguasai bahasa Inggris secara baik tidak berarti tidak nasionalis. Kurang nasionalis apa orang sekelas Soekarno yang menguasai banyak bahasa.

Kalau Malaysia yang didominasi etnis melayu saja kemampuan bahasa Inggrisnya bagus mestinya Indonesia juga demikian. Sebenarnya bukan masalah Malaysia yang pernah dibawah penguasaan Inggris toh Indonesia yang lama di jajah Belanda penduduknya yang saat ini  menguasai bahasa Belanda juga bisa dihitung dengan jari.

Kembali lagi ke Fitsa Hats, ini adalah contoh kecil betapa orang Indonesia tidak terdidik dengan baik. Saya jadi bingung apa yang ada dibenak orang yang menuliskan ini, kalau dibilang dia tidak pernah melihat bagaimana bentuk tulisan yang sebenernya rasanya mustahil, karena gerai ini tersebar di setiap sudut kota Jakarta. Kalau dia menulis fitsa hats sebagai rujukan dimana saksi pernah bekerja, kira-kira tempat bekerja seperti apa yang ada dibenak penulis fitsa hats ini ? Barangkali sejenis bank atau mungkin tempat pencucian mobil.
Tidak bermaksud menyalahkan siapapun, juga bukan membela saksi dari FPI, tapi ketika tulisan seperti ini dikonsumsi oleh publik ini memalukan sekali. Apalagi tertuang dalam BAP yang notabene adalah bahasa hukum. Tentu akan ada konsekwensi-konsekwensi hukum dibalik kesalahan penulisan seperti ini, bisa jadi BAP nya dianggap tidak sah kan ? Mungkin saja, saya tidak tahu bagaimana konsekwensi hukum untuk kesalahan tolol seperti ini, gugur sebagai saksi ? Who knows ? Kesimpulannya baik penyidik maupun saksi sama-sama tidak menguasai bahasa dengan baik, fatal.

Saya juga tidak menyalahkan teman-teman netizen yang membuat ini jadi viral, mereka merasa excited sekali ketika ada sebuah kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berseberangan pendapat. Seperti kita tahu Ahok yang pertama kali mengangkat hal ini di media online saat di wawancara, maka berpestalah para pendukungnya. Saat demam pilkada seperti sekarang ini, semua bisa dijadikan bahan bully, media sosial memang kejam. Ketambahan yang terjadi adalah fakta, tidak ada fakta saja para pendukung cagub berani bikin dan sebar hoax. Dampak sih dipikir belakangan, yang penting ngetrend, sukur bisa nambah follower.

Sudah seharusnya institusi yang berkaitan, dalam hal ini Polri mestinya mawas diri, ini bukan masalah sepele, menyangkut wibawa instansi sebagai penegak hukum. Mungkin saya salah, tapi hendaknya kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Apalagi Polri sedang jadi sorotan dari masyarakat terkait pembiaran terhadap tindakan intoleran dan kesan seolah terintimidasi oleh massa anti Ahok. Walaupun disisi lain mendapat pujian karena detasemen anti terornya berhasil membekuk pelaku rencana teror.
Polri mestinya malu saat Ahok menertawakan tulisan di BAP, walaupun saat itu terkesan Ahok menertawakan saksi. Tapi fakta bahwa tulisan itu tertuang di BAP itu riil, dan siapapun pasti mahfum bahwa yang membuat BAP adalah petugas di kepolisian.

Kita berharap semua institusi penegak hukum bisa lebih profesional lagi, kalau masalah bahasa saja dianggap sepele bahkan sampai tidak menguasai bagaimana kita yakin bahwa mereka bisa bersikap independen dalam menegakkan hukum di negeri ini ? Di kerubungi massa takut, diintimidasi plonga-plongo, disuruh mengamankan malah mengawal. Cukupkan kebodohan ini, sudah 2017 masa iya masih gitu-gitu aja kinerjanya. Jangan sampai ada lagi sarkas yang mengatakan hanya ada 3 polisi baik di negara ini Pak Hoegeng, Polisi Tidur, dan Patung Polisi.
Salam Tri Brata !!