Sesekali sang bapak harus melongokkan kepala keluar jendela mobilnya melihat keriuhan yang terjadi di Istana. Apa sebenarnya yang sekarang terjadi disana ? Beribu tanya terasa menghujam dibalik kepala, tanpa sedikitpun nyali untuk sekedar menghampiri. Tubuhnya yang menua seperti dipaksa untuk terus berusaha demi mendapatkan lagi penghormatan sebagai orang yang berjasa bagi negerinya. Entah lah, mungkin juga karena kecanduan nikmatnya kue sebagai penguasa. Sekian tahun yang lalu dia pernah berada di dalam sana, dilayani sebagai VVIP, dan dielu-elukan laksana raja. Tapi kini dia meringkuk sendiri didalam puri, hanya ada semangat tersisa dibalik badannya yang mulai membungkuk. Tiba-tiba ada seringai kebuasan yang terlihat dibalik senyum tipisnya, "Aku harus bisa kembali ke sana, bagaimanapun caranya."
Seminggu kemudian sang bapak mengumpulkan kembali kekuatannya, merekalah yang selalu setia karena telah mendapatkan banyak fasilitas ketika masih berada dalam lingkaran kekuasaannya. Walaupun, seperti halnya sang bapak, mereka pun sekarang tersisih dari hiruk pikuk kekuasaan. Mereka adalah bidak-bidak yang setiap saat siap digerakkan, demi nafsu kekuasaan.
"Saya ada berita bagus...!!" Sambil terkekeh dia mencoba menjelaskan niat dan tujuan mereka berkumpul pada hari itu secara panjang lebar. Diskusi berlangsung kurang dinamis bahkan mereka seperti sedang mendapat arahan dari sang bapak, seperti saat masih berkuasa dulu.
"Tapi pak, bukankah kandidat yang bapak ajukan itu samasekali belum pernah terdengar namanya, apa pasti dia mau ?" seorang undangan bertanya.
"Serahkan pada saya, dia pasti akan mengikuti semua kemauan saya, anda hanya perlu mendukung saja,tidak perlu bertanya,paham ?" Sang bapak menjawab tegas.
Suasana jadi hening seketika, para tamu undangan mulai terlihat gelisah. Sampai akhirnya ada salah satu dari mereka yang memberanikan diri untuk bertanya lagi,
"Tapi pak, apa yang bisa bapak lakukan sehingga kita bisa yakin bahwa kandidat kita bisa mengalahkan Sang Jagoan yang posisinya sangat kuat pak ?"
Lagi-lagi suasana sepi saat sang bapak menatap tajam kepada sang penanya. Tiba-tiba sang bapak mengambil handphone dari sakunya dan menelepon seseorang.
"Tolong antarkan mereka masuk ke ruang rapat !" Ujar sang bapak saat menelepon.
Tak berselang lama masuklah 3 orang laki-laki dengan atribut tertentu diiringi 3 wanita berpakaian seksi dan sangat kontradiktif dengan pakaian ketiga laki-laki tadi.
Seketika itu juga para tamu undangan terkejut seperti terkena aliran listrik ribuan ampere. Bukan karena keseksian busana para wanita pengiring, tapi karena mereka tahu persis reputasi ketiga tokoh itu. Bahkan salah satu diantara mereka pernah dipenjarakan saat rezim sang bapak masih berkuasa. Bagaimana mungkin sekarang mereka dipaksa untuk bersekutu dengan ketiga pria itu ? Tapi sejenak kemudian mereka segera menyadari itu, politik memang terkadang membuat kita memaksa menelan ludah sepahit apapun, bahkan terkadang membuat diri kita seperti sampah.
"Merekalah jawaban atas pertanyaan saudara tadi. Tidak ada yang mustahil kalau kita mau berusaha, bagaimanapun caranya, berapapun cost nya !" Sang bapak dengan dingin berkata kepada para undangan sambil menjabat tangan ketiganya.
"Ya..berapapun cost nya, semua ada disini..." Tiba-tiba dari ruangan lain muncul seorang wanita yang nampak galak sambil menunjukkan buku rekening bank. Dia istri sang bapak yang memang terkenal tamak.
Para tamu undangan terlihat saling bergumam tidak jelas dan saling berpandangan, seolah tidak percaya dengan apa yang ada dalam pikiran mantan pemimpin yang selama ini mereka hormati itu.
"Tenang saudara-saudara, kami tidak meminta sepeserpun dari anda semua, kami hanya minta dukungan dari anda dan relawan di lapangan nantinya". Dan yang lebih penting, ini hanyalah target antara saja, ada target besar yang akan mudah kita capai jika ini sukses, bagaimana ?"
"Bapak memang hebat, kami semua kagum dengan strategi dan politik bapak dalam membangun kekuatan, kami siap pak, demi mimpi-mimpi kita semua !"
Sontak semua tamu undangan berdiri dan bertepuk tangan setelah mendengar dan melihat sendiri apa yang akan dilakukan sang bapak, mantan pemimpin mereka, dalam merebut kembali singgasana kekuasaan.
"Saudara-saudara tidak usah ragu, kami yang akan mengeksekusi semua strateginya nanti, kita tinggal duduk dan menikmati hasilnya, bagaimana ?" Ucap salah seorang dari ketiga laki-laki itu.
"Betul, kita sudah siapkan strategi yang matang, banyak sekali isu yang bisa kita mainkan. Kita berani jamin, dengan besarnya dukungan dana semua akan terasa mudah, saya bisa pastikan Sang Jagoan pasti habis...habissss !" Ujar laki-laki satunya dengan berapi-api.
"Yang perlu bapak-bapak catat, kita bertiga hanya bekerja dibalik layar saja, bukan sebagai tim sukses, jadi kita tidak akan tampil bersama". Laki-laki berjenggot ini menimpali ucapan kedua temannya.
Begitulah akhirnya dengan berbagai cara sang bapak meng endorse sang putra mahkota untuk meraih kembali tahta pemerintahan. Manisnya kue kekuasaan belum bisa dilupakan, mimpi harus terbayarkan walaupun ada sedikit perjudian.
Dan berkat kerja dari ketiga lelaki yang bekerja secara undercover tadi mimpi sang bapak akan bisa direalisasikan. Sang jagoan berhasil mereka lumpuhkan dengan isu buatan mereka.
Bagaimana kelanjutan kisah sang bapak dan putra mahkotanya ?
"Insya Allah Bersambung"



