Thursday, December 29, 2016

Khamr itu Bernama Agama

                      Picture: id.wikipedia



"Setiap yang memabukkan adalah khamr "                                                     ( HR. Muslim ) 

Berbagai peristiwa dengan latar belakang agama sedemikian sering menemani keseharian kita belakangan ini.
Lebih tepatnya semua peristiwa yang terjadi dipaksakan untuk bisa dibawa ke ranah agama. Mulai dari hal yang sebenarnya belum diketahui jelas kebenarannya, sampai urusan yang nggak penting-penting amat selalu dikaitkan dengan masalah keyakinan.

Saya setuju  dengan statement menteri Agama bahwa kita adalah bangsa yang relijius.
Kurang relijius apa coba, ketika susunan angka-angka yang merujuk peristiwa tertentu bisa kita olah sedemikian rupa dan dikaitkan dengan ayat suci !!
Peristiwa bencan alam yang sepenuhnya rahasia Tuhan kemudian bisa dianggap sebagai azab hanya karena waktu terjadinya sesuai dengan ayat tentang azab !! Dan yang kemarin ramai adalah sakitnya seorang kyai dikaitkan dengan dukung mendukung pilkada, uang terbitan baru bergambar Cut Meuthia gak pake jilbab pun digugat, bangke banget kan tingkat relijiusitasnya !!

Walaupun begitu, tidak semua warga negara Indonesia itu relijius karena memang ada juga kelompok atheis di Indonesia, Indonesian Atheist misalnya, kelompok yang didirikan tahun 2008 ini gencar melakukan gerakan atheistme di sosial media. Walaupun secara ideologi negara hal itu tidak dibenarkan tapi mereka punya perspektif sendiri terhadap Tuhan.
Mereka pun  berkembang ditengah relijiusitas kita, dan sudah ada sejak sebelum lahirnya Indonesia.

Fenomena yang belakangan terjadi adalah adanya kelompok dengan fanatisme yang berlebihan dalam beragama, mungkin karena saking relijiusnya akhirnya malah kebablasan, banyak kalangan yang menyebut dengan mabok agama.
Kesan yang ditangkap justru mereka malah men-Tuhankan agamanya ketimbang Tuhan itu sendiri, musrik !!
Dan saya yakin ini bukan hanya terjadi pada agama tertentu saja, hampir semua agama memiliki kelompok-kelompok seperti ini. Parahnya lagi fanatisme ini bablas sampai menabrak norma kehidupan bermasyarakat.
Saling mengomentari ajaran agama lain, memberikan stigma, bahkan sampai saling adu argumentasi dengan dalil yang diyakini sendiri-sendiri, konyol sekali. Saya bukan orang yang ahli dalam agama dan setiap kali melihat perdebatan agama bawaannya pengen boker aja.
Apakah susah untuk saling diam dan khusyuk ibadah dengan keyakinan sendiri tanpa mengganggu mereka yang punya keyakinan berbeda ? Kemunculan  sosial media semakin memperuncing pertikaian ini.
Padahal saya yakin banyak diantara mereka yang ketika dikonfrontir tidak akan segagah di sosial media.

Kejadian yang masih hangat adalah bagaimana seorang saat berceramah didepan jamaahnya, alih2 memberikan kesejukan tapi malah menghina keyakinan umat yang lain disaat sedang merayakan hari besar.
Padahal jelas sekali dalam kitab sucinya Tuhan melarang umatNya untuk mengolok-olok mereka yang memiliki sesembahan lain.
Buat dia, agama sudah dijadikan sarana provokasi untuk saling berbenturan. Orang ini, jangankan kepada umat beragama lain kepada yang seagama saja dia dengan enteng menyebut munafik, sesat, liberal dan sebagainya hanya karena tidak sepaham dengan cara dia dalam beragama, saya tidak akan sebut namanya.
Ketika kita sudah berdiri dalam suatu golongan maka menyalahkan golongan yang lain adalah sebuah keniscayaan, bener nggak sih ? Sah-sah saja tetapi menganggap diri paling benar dan selalu menilai salah pada orang lain adalah ketololan tak bertepi.

Sangat disayangkan memang jika kemudian beberapa tokoh yang sering muncul di TV dan terlihat alim dan saleh pun ikut larut dalam pesta mabuk ini. Kelemahlembutan yang terlihat selama ini pelan-pelan hilang dan nampaklah wajah yang sebenarnya, towewewewwww.
Fatwa-fatwa yang mengundang kontroversi melesat deras tanpa mengenal batas apalagi solidaritas. Popularitas, uang dan gelimang harta dunia kemudian menjadi tujuan dengan kedok agama.
Terlepas dari ada atau tidaknya niat dibelakang itu, tetapi mengeksploitir emosi massa dengan fatwa agama untuk mencapai niat dan tujuan adalah kebejatan moral yang luar biasa.
Saya anggap mereka adalah pelacur-pelacur agama yang sering bermasturbasi dengan alat bernama fatwa.

Seperti layaknya bartender, mereka meracik khamr yang akan disuguhkan kepada pengunjung. Lengkap dengan tehnik jugling dan dioplos dengan ayat-ayat yang memabukkan tentu saja. Semakin mabuk pengunjung maka akan semakin senang mereka, dagangan mereka laku keras.
Biasanya mereka yang sudah pernah merasakan nikmatnya racikan sang bartender akan ketagihan untuk datang dan memesan lagi, yang tadinya datang sendiri akan mengajak teman lain bergabung, mabuk bersama. Tentu saja sang bartender akan dipuja karena hasil racikannya pas sekali dengan selera mereka, akhirnya sang bartender juga mabuk, mabuk pujian.
Dan karena sedang mabuk,  pengunjung akan sangat mudah dipengaruhi oleh Disc Jockey, partner bartender, mereka akan bergerak pelan saat alunan musiknya lembut, dan akan berubah menjadi beringas saat diberi irama menghentak ditimpali suara DJ. Begitulah kolaborasi ciamik antara bartender dan dj dalam membuat mabuk dan bergoyang.

Sementara diluar sana, kelompok yang waras dan lebih suka kopi daripada khamr, kebanyakan pengikutnya seperti tidak perduli dengan kelompok "mabuk berjamaah" ini, entah karena mungkin sudah apriori atau kehabisan akal untuk menyadarkan para pemabuk ini.
Sikap tidak perduli karena orang yang waras jumlahnya lebih banyak daripada yang mabuk juga tidak bisa dibenarkan karena mestinya justru ada antisipasi supaya yang waras tidak terjerumus jadi pemabuk karena merasa tidak pernah diajak untuk waras bersama. Serius loh, kehilangan teman ngopi itu galau rasanya.
Saya hanya tertawa saja saat beberapa diantara mereka ada yang berusaha memberikan nasihat, mana ada orang mabuk mau dengerin nasihat ?
Tapi metode itu terus dilakukan, sampai kapan ? Sementara para pemabuk ini justru malah menggandeng beberapa orang dikelompok mereka untuk jadi pemabuk-pemabuk baru.
Yang mabuk banyak, yang kasih nasihat sendirian, mati. Padahal menyembuhkan orang mabuk itu gampang, dibenturin sampai benjol atau minimal disiram air, artinya harus ada aksi bukan sekedar orasi. Wajar sekali kalau orang mabuk akan terlihat sangar, tapi apa yang ditakutkan dari orang yang lagi mabuk? Didorong sedikit juga jatuh, saat jatuh itulah kemudian bisa kita lumpuhkan, masa kaya gitu aja harus diajarin.
Yakinlah penikmat kopi mempunyai kekuatan lebih baik dibandingkan penikmat khamr, saatnya kita keluar dari kedai-kedai untuk merapatkan barisan dan memberi pelajaran kepada para pemabuk.
Holopis Kuntul Baris !!!


Diujung tulisan ini saya akan menyitir lirik lagu Imagine dari almarhum John Lennon, bukan untuk tidak percaya pada agama tapi ada sisi lain dari hidup selain agama, ialah manusia dan Tuhan, itu yang saat ini sedang kita lupakan.

Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one

Wednesday, December 21, 2016

Surat Cinta Untuk Dwi Estiningsih


Kemarin lini masa media sosial diramaikan oleh sebuah berita, entah sempat menjadi trending atau tidak saya tidak begitu tahu, yang jelas bukan tentang 'om telolet om'.

Yang saya maksud adalah cuitan dari seorang wanita yang secara tata lahir terlihat sangat Islami. Mengenakan kerudung panjang ditambah dengan keterangan di bio nya bertuliskan Amar Ma'ruf Nahi Munkar endesbrei endesbrei. Mungkin banyak diantara pembaca yang sudah bisa menebak siapa wanita yang dimaksud, ya dia Dwi Estiningsih.

Saya kurang tahu persis apa yang melatar belakangi wanita ini sampai terlihat sedemikian bencinya kepada orang yang tidak satu iman dengan dia. Lagi-lagi dengan menyebut kafir, seolah mereka yang diluar Islam tidak memiliki Tuhan dan tidak beriman. Bahkan dengan sesama muslim ketika tidak sepaham pun disebutnya sebagai munafik, seolah dia lah pemilik kebenaran absolut.
Apakah dia tidak berpikir bahwa akan sangat mudah bagi Tuhan untuk membuat seluruh umatnya menjadi Islam. Apakah dia tidak pernah membaca ayat bahwa adanya perbedaan untuk dijadikan sarana untuk saling mengenal satu dengan yang lain ?

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Lalu amar ma'ruf seperti apa yang dia lakukan ketika menghadapi perbedaan saja sudah paranoid ?

Belakangan saya tahu ternyata si ibu yang katanya seorang guru ini kerap mengkritisi, tepatnya menyinyiri pemerintah.
Ingat kasus logo BI pada lembar uang kertas 100 ribu yang dikaitkan dengan simbol palu arit ?
Apakah ada permintaan maaf dari  wanita 'muslimah' ini setelah ada klarifikasi dari BI ? Saya kok belum penah mendengar. Mungkin memang sudah didoktrin bahwa minta maaf kepada orang kafir itu haram, mungkin.
Yang jelas akibat twit nya itu banyak pasukan dari negara api yang bersumbu pendek juga langsung terbakar.

Setelah isu pertama berlalu dan berhasil membuat kebakaran, kemudian dia meniupkan isu berikutnya. Momennya adalah penerbitan uang baru dari pemerintah, kali ini isu nya bukan palu arit tapi gambar pahlawan Cut Meutia yang dikatakan sengaja digambarkan tanpa kerudung ! Lagi-lagi dengan dalil endesbrei-endesbrei, dengan hasil olah pikir negatif, si ibu melakukan agitasi.

Seperti kita ketahui bersama beberapa waktu yang lalu pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada beberapa putra terbaik bangsa. Dan gambar mereka diabadikan dalam pecahan rupiah yang baru diterbitkan beberapa hari yang lalu.
Si ibu lagi-lagi memberikan statement yang sangat menyakitkan hati. Menurutnya pemerintah lebih banyak mengangkat pahlawan dari golongan kafir ( kafir versi dia tentu saja ).
Apa yang kita rasakan seandainya kita adalah keturunan dari pahlawan yang disebutnya kafir itu ?  Parahnya lagi, kata si ibu, kebanyakan kafir itu adalah pengkhianat bangsa !
Hebat sekali ibu satu ini, tidak ada matinya dalam usaha memperkeruh suasana dengan provokasi dan agitasi.
Jauh sudah kesan wanita muslimah seperti Aisyah yang lemah lembut. Hilang sudah sakralitas hijab yang digunakan muslimah beradab. Masih mending mbak Najwa Shihab yang walaupun tanpa hijab tapi cara berpikirnya sehat.

Saya kok khawatir dengan kualitas dari anak didik yang dilahirkan dari guru yang isi kepalanya selalu dipenuhi kebencian semacam ini. Jangan-jangan dia juga yang melarang pedagang Sari Roti berjualan di sebuah sekolah di Jogja.
Percuma saja kan jika orangtua susah payah menanamkan pendidikan budi pekerti dirumah, tapi di sekolah si anak diserahkan kepada Ummu Jamil binti Harb ?

Makanya tidak heran jika kemudian si ibu menuai ribuan kecaman bahkan sampai dilaporkan ke kepolisian karena statement ngawurnya.
Mungkin dalam hatinya apa yang dilakukan adalah dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar seperti tuntunan Al Qur'an, jika memang benar demikian adanya berarti ada sesuatu yang salah dalam memahami kandungan Al Qur'an. Karena semua pasti sepakat tidak ada satupun ajaran agama yang menyebarkan kebencian, apalagi ini adalah agama langit.

Tapi saya sih masih berharap si ibu tidak berlindung dibalik ayat untuk pembenaran semua tindakan biadabnya. Al Quran sudah terlalu sering dikotori oleh umatnya sendiri untuk tujuan yang justru tidak sesuai dengan kandungan nilai di dalamnya.
Ironisnya mereka yang bergelimang lumpur kotor itu mengaku sebagai pembela Al Quran nomor wahid. Padahal tanpa di bela Al Qur'an sudah dijamin menempati posisi paling terhormat.
Saya akan lebih senang kalau alasan si ibu itu karena dia frustasi sebab gagal terpilih sebagai anggota legislatif, jadi janganlah membawa kitab suci jika hanya untuk membenci karena telah gagal menggapai syahwat duniawi.

Sekarang mungkin berkas laporan kepada si ibu sedang didalami oleh kepolisian.
Kasihan tentu saja, hanya karena kebencian seluruh keluarganya harus menanggung beban karena si ibu, tambah kasihan lagi jika kemudian harus ditahan. Apalagi jika mempunyai anak dan anaknya masih sekolah, pasti akan jadi pertanyaan oleh teman di sekolahnya.
Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari sebuah ketololan. Berpikirlah sebelum ngetwit, jangan ngetwit dulu berpikir kemudian, karena jejak digital tidak bisa dihilangkan.

Telolet buuu...

Wednesday, December 7, 2016

Surat Terbuka Untuk Presiden

Surat Terbuka Untuk Presiden



Assalaamu'alaikum Wr.wb
Pak, perkenankan saya yang jelata ini menyampaikan sedikit keresahan hati saya sendiri dan mewakili banyak teman-teman dan saudara saya di seantero negeri.
Pak, sebagai rakyat Indonesia saya sangat berterima kasih atas semua kerja keras bapak dalam membangun negeri. Banyak sekali kemajuan yang dicapai selama 2 tahun lebih dalam kepemimpinan bapak. Bapak selalu hadir bersama rakyat saat mereka membutuhkan bapak. Ketegasan bapak dalam pemberantasan narkoba dan korupsi sudah banyak dibuktikan. Pembangunan infrastruktur juga sudah dijalankan di seluruh negeri tanpa kecuali. Murahnya harga bensin di Papua yang disambut dengan pesta adat bakar batu juga prestasi cemerlang bapak.

Tapi pak, ada sebagian saudara saya yang tidak bisa menikmati kemerdekaan sampai saat ini. Bahkan keberadaan mereka seolah dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengganggu iman dan ketauhidan bagi gerombolan yang sering melakukan pembenaran dengan mengusung ayat suci Al Qur'an.
Jujur pak, seringkali kami sebagai umat Islam juga merasa jengah bahkan malu dengan tingkah polah mereka. Kami takut apa yang mereka lakukan lantas di generalisir bahwa seperti itulah wajah Islam sesungguhnya, tanpa keramahan dan selalu membawa keresahan bagi umat lain.
Tidak mudah bagi kami untuk meyakinkan kepada teman kami yang sudah terlanjur apriori. Disaat kami berusaha meyakinkan bahwa kita semua adalah saudara tiba-tiba saja mereka melempar bom ke sebuah gereja. Berulangkali kejadian seperti ini terjadi pak, kami seperti melakukan pekerjaan yang sia-sia, seperti melukis diatas es. Susah payah kami meyakinkan, semudah itu mereka merusak kepercayaan yang sudah kita tanamkan.

Tolonglah kami pak, kami semua merasa sangat iba saat teman kami melakukan ritual keagamaan seringkali di ganggu oleh ormas yang memanfaatkan nama agama.
Saya menangis pak ketika untuk beribadah saja mereka dicekam ketakutan. Saya tidak membayangkan jika itu terjadi pada diri saya, istri saya dan anak-anak saya. Jangankan untuk bertindak dan melawan pak, untuk bersuara saja mereka takut. Keinginan teman-teman saya sederhana sekali pak, mereka ingin beribadah dengan tenang tanpa rasa takut. Mereka tidak akan memerangi kita, mereka hanya ingin melakukan persembahan kepada Tuhannya. Seperti halnya saya yang setiap Jum'at pergi ke masjid dan ke lapangan saat tibanya hari raya. Kejam sekali ketika mereka sedang beribadah di sebuah lahan dengan menggunakan tenda karena tidak ada ijin pendirian gereja pun masih diganggu dengan bermacam tetabuhan dengan menggunakan pengeras suara. Apa salah mereka pak ?

Saya sangat mengapresiasi ajakan bapak untuk merawat persatuan dalam kebhinekaan, tapi ajakan saja ternyata belum cukup menyadarkan kaum pembuat onar bahwa pada dasarnya memang terdapat perbedaan dari sejak bangsa ini dilahirkan. Himbauan bapak selalu saja diabaikan, bahkan seperti dilecehkan dengan aksi intimidasi dan tindak kekerasan. Saya tahu bapak seorang penyabar, bahkan saat difitnah sebagai kafir dan keturunan PKI pun bapak tidak pernah over reactive seperti bapak mantan. Tapi hari ini persoalan sudah beda pak, sampai kapan teman-teman saya akan dicekam ketakutan kalau bapak belum mulai melakukan tindakan ?

Penderitaan mereka sudah terlalu lama bapak, janganlah kami yang lemah ini terseret dalam rasa bersalah karena tidak kuasa membantu mereka.
Saat gereja tak mampu mereka dirikan karena tak kuasa melawan ormas bersorban saya sedih, teman-teman saya sedih, rakyat Indonesia juga sedih tapi bapak tidak pernah hadir diantara kami, kenapa pak ? Ketika patung Budha diturunkan di sebuah Vihara bapak juga tak kunjung datang menyapa, bapak kenapa ?
Bapak mantan yang dari dulu tidak pernah memberikan sangsi sekarang justru memanfaatkan keberadaan mereka dan dianggap sebagai kongsi. Apakah ada kepentingan dan manfaat yang bapak ambil dari eksistensi gerombolan intoleran ini ? Enggak kan pak ?
Apalah artinya kalau hasil jerih payah bapak tidak bisa dinikmati oleh semua rakyat Indonesia pak. Berapa juta orang yang hanya bisa tersenyum pahit saat bapak mengumumkan tentang pertumbuhan ekonomi di Indonesia, tentang cita-cita bapak untuk menjadikan Indonesia macan asia. Teman saya dari Ahmadiyah, Syi'ah dan saudara-saudara saya lintas agama mereka pendukung kebijakan bapak, hanya bisa tersenyum, pahit bahkan berlinang airmata karena untuk beribadah saja mereka masih terkendala.

Bapak Presiden yang saya hormati, saya warga NU pak, walaupun keadaan kami compang-camping karena para kyai sepuh kami di bombardir dengan fitnah keji tapi kami masih sanggup bertahan, kami masih bisa memaafkan, keporo ngalah pak walaupun hati kami sakit. Dan dalam sakit itu kami masih berusaha untuk melindungi teman-teman dan saudara kami yang mengalami penistaan yang sesungguhnya. Kami ditempa untuk bisa menerima bahkan dalam kondisi yang paling menyakitkan pak, saat junjungan kami Kyai Abdurahman Wahid dilengserkan kami bisa menerima dengan lapang dada. Tapi sampai kapan kami jadi dijadikan martir sementara bapak hanya diam ?? Kami rela walaupun nasib kami mungkin akan berakhir seperti Riyanto teman kami, gugur dengan memeluk bom saat melakukan pengamanan perayaan natal. Bukan demi bidadari surga pak, tapi demi keutuhan bangsa. Kami seperti halnya bemper mobil pak, kami kuat walaupun harus terlebih dahulu penyok karena melindungi penumpang.

Apa yang diucapkan oleh Kyai Said Aqil saat muktamar kemarin itu mewakili keresahan kami pak, mestinya bapak bisa merasakan itu. Bukan hanya 90 juta an warga NU yang resah, saudara-saudara saya yang berbeda keyakinan lebih resah lagi. Kalau masih kurang, saya yakin Gibran dan Kaesang pun resah pak. Kalau bapak mantan tidak memiliki keresahan serupa abaikan saja pak, seperti halnya bapak mengabaikan dia selama ini, luweh pak, luwehkan saja !!

Bapak mungkin tidak percaya di daerah yang bebas dari gerombolan pembuat onar situasinya jauh lebih tenang. Tidak ada sweeping warung makan saat bulan puasa, tidak ada diskusi atau acara bedah buku yang dibubarkan paksa. Tidak ada teriakan berbau SARA apalagi orasi dan provokasi dengan TOA. Disaat itulah pak teman-teman kami merasa merdeka. Kalau kepala daerah saja dengan gagah berani menolak kehadiran mereka, mestinya dengan kekuasaan yang bapak miliki akan sangat mudah membubarkan bahkan menumpas mereka. Siapa saja pak tanpa memandang latar belakang etnis dan agamanya.
Jangan ragu-ragu pak, jangan takut, umat muslim yang waras dan teman-teman lintas agama pasti dibelakang bapak. Coba saja bapak sowan kyai kami dan meminta agar para santri turun semua ke Jakarta, Jakarta tenggelam pak. Karena kami yakin akan ada jutaan umat lain yang juga akan turut serta bersama kami. Yang kemarin itu belum seberapa, hanya buih saja. Tapi saya yakin para kyai tidak mau melakukan itu, mereka umat pilihan yang terjaga lisan serta hatinya, merekalah warosatul anbiyya yang sebenarnya.

Demikian pak sedikit keresahan saya, mohon maaf jika bapak tidak berkenan dengan apa yang saya katakan. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyepelekan kemampuan bapak sebagai kepala negara. Kami hanya gelisah atas apa yang sedang terjadi, disatu sisi kami ingin sekali membantu saudara-saudara kami dari teror dan intimidasi tapi disisi lain kami juga tidak ingin menabrak konstitusi pak. Dalam konteks bernegara bapaklah pelindung kami, semua warga Indonesia tanpa terkecuali. Dan hanya dengan cara ini kami bisa bersilaturahmi dengan bapak, karena kami juga tidak ingin menggangu kesibukan bapak. Untuk bapak ketahui sudah berapa ratus petisi ditujukan kepada bapak yang diajukan oleh teman-teman saya, ribuan polling disebar di media sosial, semua menghendaki supaya bapak bertindak lebih tegas dan membubarkan ormas anti Pancasila dan anti toleransi.
Kalaupun semua polling dan petisi tidak sempat bapak baca, semoga untuk yang satu ini bapak berkenan sejenak membacanya. Terima kasih bapak, semoga bapak selalu diberi kesehatan dan selalu dilindungi serta diberi petunjuk oleh Tuhan dalam memimpin negeri, aamiin.

Wassalamu'alaikum Wr.wb


Monday, December 5, 2016

Menggugat Para Penemu Sosial Media




Saya menulis ini saat sedang dalam perjalanan dengan kereta menuju kota Solo, sambil membuka sosial media, terasa sumpek sekali rasanya timeline saya, dipenuhi cuitan buzzer dan tim hore pilkada DKI.
Kalau saja timeline di media sosial bisa bicara mungkin dia akan "berkata saya sudah lelah dihujani tulisan dan kebohongan kalian".

Saya kok jadi iri sama Marno Blewah, dan si bapak ustad yang sekarang jadi selebtwit, tidak satupun akun yang dia follow, atau jangan-jangan memang tidak ada seorangpun yang mau di follow sama dia ? Jadi mungkin ada semacam kesepakatan, "biarkan saya folllow akun anda tapi tolong anda jangan follow akun saya". Tenang dan semriwing sekali pastinya timeline di twitternya, bebas dari hiruk pikuk pilkada, selebtwit cari muka dan buzzer-buzzer politik.

Semakin hari tambah sumpek aja di media sosial. Tapi ya gimana lagi lha wong ini jadi satu-satunya hiburan saat santai, jelang tidur dan saat ditinggal pacar kuliah. Yang ditakutkan adalah para jomblo yang karena jomblonya akhirnya masyuk dengan medsos. Lupa mandi, lupa tidur, bahkan lupa kalau masih jomblo. Dan bisa jadi karena frustrasi dengan statusnya malah gabung dengan kelompok-kelompok intoleran, sudah intoleran, radikal, militan lagi. Hanya dengan share berita, gambar hoax, dan video editan dia bisa seketika menjadi terkenal, di follow ribuan akun yang satu nafas dan satu perjuangan. Siapa tahu ada salah satu dari mereka nyantol jadi gebetan. Kalau masih merasa kurang terkenal ya lebih gampang lagi, caci maki saja ulama dan kyai, dalam hitungan jam akun akan menjadi viral, diliput media, bahkan bisa diwawancara. Nah kan, sudah dapat gebetan, terkenal, dapet duit lagi. Kalau sudah seperti ini jomblo tidak lagi identik dengan ngenes. Apalagi jika kemudian dapat tawaran main sinetron.

Makanya ijinkan saya mengajukan protes kepada inventor-inventor sosmed yang katanya orang "Wahyudi" itu. Kenapa sih kalian kok sengaja meluangkan waktu untuk bikin riset sampai akhirnya lahir sosmed ? Kalian itu sudah bikin umat jadi tersesat, saking sesatnya kadang yang laki-laki berubah jadi perempuan hanya dengan mencantumkan avatar palsu tanpa operasi transgender !!! Sering juga dijumpai orang yang sebenernya nggak pinter-pinter amat tiba-tiba bisa jadi dosen dan memberikan kuliah, padahal mungkin hanya lulusan SMA. Kalian juga yang membuat kaum anti Wahyudi menjadi terlihat tolol dengan memanfaatkan temuan kalian untuk propaganda mereka ! Saya yakin kalian pasti tertawa terbahak-bahak saat ada orang menulis "Wahyudi laknatullah !!" di dinding FB atau Twitter. Apalagi saat ada salah satu pengguna sosmed temuanmu ini yang tidak bisa membedakan "Equil" dan miras !! Terus apa motivasi dibalik kalian melakukan riset dan membuat sosmed ? Kalian hanya akan membuat orang yang pandai menjadi bodoh dan orang bodoh semakin terlihat bodoh. Dasar Wahyudi, laknatullah !!

Saya hanya menyayangkan kenapa semua temuan kalian itu kemudian di gratiskan begitu saja. Apakah kalian tidak berpikir bahwa kami disini akan menemukan akun Facebook dengan nama "PutryYankCelaluCemungudKarenaAnendanChayankAmoeh' atau '4koohY4nkM3n4nT1mO3D1pvNc4kr1ndv' mau yang lebih ekstrim lagi ? Nih, Sellaencuz cc'Vey BynyoLoverzsweatt Bolobolloslalu, ini nama apa coba ???



Ini kan akibat kalian gratiskan aplikasi sosmed, semua kalangan akhirnya bebas saja menggunakan sesuai keinginan dan mood mereka. Kalau di protes jawab mereka santai aja, "fesbuk fesbuk guuweeh", apa nggak ngeselin ? Kalau kalian bijaksana mestinya penemuan kalian ini dibanderol dengan harga tertentu sehingga kaum-kaum alay dan para penjahat sosmed akan mikir berkali-kali menggunakan penemuanmu ini. Boleh saja kalian berdalih bahwa saat aplikasi ini ditemukan untuk bisa mengaksesnya butuh perangkat yang harganya mahal. Helllaaaawww, mas Zucker dan teman-teman, ternyata anda nggak cerdas, hari gini 200 ribu bisa beli hape dengan OS android walapun lemot. Dan dari hape lemot itu berapa ratus orang alay yang sudah bikin akun dan membuat pening kepala seluruh umat manusia ?
Dan yang lebih celaka lagi beberapa dari mereka terutama yang jomblo nekat berkenalan dengan harapan bisa kencan di dunia nyata. Tapi yang terjadi fakta antara avatar dan wajah aslinya jauh berbeda, padahal didompet udh bawa bekal alat kontrasepsi, kalau begini kan jadi kentang !

Mas-mas penemu sosmed yang baik, saya yakin tujuan kalian sangat mulia. Awalnya memang penemuan kalian sangat berguna, kami bisa menemukan kembali teman dan sahabat serta saudara yang sudah putus komunikasi sekian lama. Yah walaupun sampai saat ini saya belum menemukan keberadaan sir-siran saya saat masih SD dulu atau mantan yang pertama kali saya klomoh saat SMA. Tapi kondisi seperti itu hanya berlangsung sebentar saja, yang terjadi akhirnya banyak ibu memarahi anaknya, suami yang memarahi istri karena asyik bersosmed sampai masakan gosong atau istri yang memarahi suami karena kegep sedang chatting sama mantannya. Berapa pasangan yang berantem bahkan bercerai karena kecemburuan, berapa orang yang dikeluarkan dari pekerjaan karena menghujat pimpinan di sosmed, sampai ada yang dipenjara karena sosmed, bahkan terbunuh juga karena sosmed ? Walaupun tidak semua kesalahan ditimpakan kepada kalian penemu sosmed tapi ini memang terjadi. Asal kalian tahu tidak semua orang secerdas yang kalian duga dalam menggunakan aplikasi temuan kalian ini.

Di negara saya, yang bisa dikatakan merupakan negara dengan penduduk terbanyak pengguna sosial media, menurut statistik sampai dengan November 2015 tercatat 79 juta penduduk Indonesia adalah pengguna aktif sosmed dan 63 juta diantaranya mengakses lewat mobile internet, tidak afdol rasanya kalau pagi hari sambil ngopi tidak membuka sosmed. Begitulah betapa keadaan disini sudah sedemikian parahnya kecanduan sosmed. Sehingga untuk mendatangi undangan rapat RT yang hanya sebulan sekali pun malas sekali rasanya. Bahkan ada diantara anak-anak yang tidak kenal dengan anak tetangga depan rumah hanya karena mereka lebih memilih asyik dengan sosmed nya, dan sumpah ini saya alami sendiri. Betapa dahsyatnya aplikasi yang kalian ciptakan sehingga bisa menggeser nilai-nilai sosial dalam kehidupan.

Mungkin memang saya dan teman-teman disini yang salah sih. Tidak semua orang disini terdidik sedemikian rupa sehingga memiliki attitude yang baik dalam ber sosial media. Kalau teman-teman saya semua bisa melakukan secara santun dan beradab tidak perlu pemerintah disini mengeluarkan UU ITE untuk menjerat para teroris sosial media, walaupun UU ini masih jadi kontroversi. Memang fakta yang terjadi terutama 2 tahun terakhir ini sepertinya peran sosmed menjadi sangat vital, terutama bagi para politisi, apalagi buzzer.
Tapi tidak bisa dipungkiri banyak diantara kawan-kawan saya yang terpolarisasi juga karena pengaruh sosial media. Mereka begitu larut dengan dunia yang sebenarnya maya sehingga melupakan tempat berpijak yang sebenarnya. Dan sangat memprihatinkan sekali ketika dijelaskan mereka malah memutuskan pertemanan dan justru asik bercengkerama dengan teman didunia maya yang sama sekali tidak diketahui asal-usul dan latar belakangnya. Ikatan mereka hanya berdasar pada kesamaan pandangan dan ide serta misi dalam menghadapi masalah yang sebenarnya juga bukan urusan mereka. Ya seperti saya ceritakan diatas tadi, jomblo ketika tidak bisa menemukan solusi atas kejombloannya bisa berubah menjadi mahluk yang berbeda 180°. Contohnya yang kemarin ramai di medsos adalah bagaimana seorang karyawan sebuah BUMN besar dengan status jomblo menghina seorang Kyai kharismatik. Bagaimana seorang mamah muda, ibu-ibu seger, hanya karena jarang dikeloni suaminya kemudian melampiaskan "kerinduannya" dengan menghina Kyai Maimoen. Jadi begitulah, tidak ada korelasi linear antara tingkat pendidikan dengan kecerdasan dalam menggunakan sosmed.

Kejadian seperti diatas tadi saya yakin tidak pernah terbersit oleh kalian para penemu aplikasi sosial media. Ya sudah kita ambil saja hikmahnya, toh Indonesia dikenal sebagai bangsa yang pemaaf walaupun untuk hal tertentu dengan maksud tertentu kata maaf menjadi sangat sulit untuk diucapkan dan diterima. Kalaupun mau menggugat sosial media, memangnya saya bisa ? Bukankah selama ini saya dan teman-teman yang lain hanya dikenal sebagai masyarakat pengguna, tanpa pernah memiliki inisiatif untuk menciptakan ? Sementara kocek kalian para penemu semakin tebal dengan bertambahnya akun baru, teman-teman saya disini membuat akun baru hanya untuk saling menghina, memprovokasi, mencaci maki dan saling menjatuhkan. Indonesia, kapan kita menjadi dewasa ?

Sudah sampai di Balapan Solo, tengs sudah mau meluangkan waktu untuk membaca.

posted from Bloggeroid

Friday, December 2, 2016

Deklarasi Jaringan Kerja Rakyat DKI






Berangkat dari keprihatinan bersama atas turunnya elektabilitas Ahok yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey, beberapa relawan yang perduli terhadap kemajuan Jakarta membuat sebuah wadah, Jangkar DKI, jaringan kerja rakyat DKI. Saya tergerak untuk mensupport gerakan ini walaupun tidak berdomisili dan memiliki hak pilih di DKI, kenapa ?

Sepertinya bukan jadi rahasia lagi dan mestinya semua setuju kalau kinerja Ahok telah memberikan perbedaan yang sangat signifikan bagi Jakarta, orang yang berpikir waras harusnya mengakui. Ini dibuktikan oleh survey terakhir dari Charta Politika. Tingkat kepuasan warga DKI atas kinerja Ahok 63,3%. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan Agus Harimurti serta Anies Baswedan, ya kan mereka belum punya pengalaman sebelumnya. Akan lebih fair jika dibandingkan dengan survey yang sama terhadap Foke di tahun 2012 yang hanya 40%.
Sebuah perbedaan yang cukup signifikan bagi petahana dalam meraih simpati atas hasil kerjanya. Artinya secara statistik kinerja Ahok sudah sangat bagus, lantas kenapa elektabilitasnya bisa turun ? Ini tentu jadi masalah besar ! Saya sendiri heran apa sih yang dicari oleh masyarakat pemilih di DKI ? Tentu hanya mereka sendiri yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Saya hanya menyayangkan kalau mereka tidak memilih seorang leader karena semata-mata berdasarkan perbedaan etnis dan keyakinan. Apalagi kemudian menjadikan ayat suci sebagai dasar dalam mengambil sebuah keputusan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan urusan kehidupan beragama. Pemimpin juga dalam memutuskan kebijakan akan bertumpu pada aturan dan Undang-Undang, bukan kitab suci agama yang dipeluknya. Faktanya ternyata justru ini yang membuat elektabilitas Ahok menjadi terjungkal drastis.

Hanya karena statementnya di pulau seribu kemudian masyarakat muslim merasa tercederai, tentu saja setelah banyak rangkaian kejadian lainnya disertai bumbu penyedap untuk digoreng garing sehingga terasa lebih kriuk.  Dan sebenarnya juga tidak semua muslim merasa tersinggung dengan Ahok, bukan karena memihak kepada Ahok, tapi lebih kepada kedewasaan dalam beragama.

Siapa pihak yang menggoreng isu ini, tentu saja lawan politik Ahok, itu tidak bisa dipungkiri, tidak usah berargumen bahwasanya ini semata-mata Ahok yang salah, itu naif sekali. Ketika Ahok menjawab serangan musuhnya dengan senjata ayat suci apa yang dia lakukan hanya melindungi dirinya sambil memberikan edukasi kepada calon pemilihnya. Masyarakat DKI diajak untuk berpikir cerdas, bahwa sekarang adalah era demokrasi dan semua warga menempati kedudukan yang sama, bukan untuk pemeluk agama tertentu saja.

Mestinya masyarakat muslim  berterima kasih kepada Ahok yang walaupun bukan muslim tapi memuliakan penduduknya yang muslim.
Terhitung sudah 120 an marbot telah diberangkatkan umroh oleh Pemkot DKI sejak 2014, dan saya haqul yakin marbot itu muslim. Sebagai seorang muslim saya sangat mengapresiasi hal ini, dan tidak semua kepala daerah bisa sebijaksana ini dalam memperlakukan warganya, apalagi dia bukan seorang muslim.
Saya tidak tahu apakah Ahok juga memberangkatkan perwakilan gereja ke Yerusalem, kalaupun iya itupun tidak jadi masalah.

Dibangunnya masjid di Balaikota juga atas inisiatif Ahok, dia malu jika kantor gubernur tidak miliki masjid bagi karyawannya. Bukankah itu bukti keberpihakan Ahok kepada umat Islam ?
Dengan keberaniannya pula dia menutup lokalisasi terbesar di Jakarta, Kalijodo. Bukankan tempat ini yang jadi keresahan umat Islam ? Dia juga menutup beberapa tempat hiburan malam yang menjadi sarang peredaran narkoba. Kurang Islami apa lagi orang satu ini ? Apakah hanya karena dia bukan seorang muslim lantas kita dengan seenaknya njeplak bahwa hasil kerjanya hanyalah sebuah pencitraan ? Dia hanya sedang bekerja dan melindungi rakyatnya dari pengaruh negatif.

Ayo dong kita sama-sama open mind, bicara dengan nurani kita, apakah sudah adil dan Islami perlakuan kita terhadap Ahok ? Apakah hanya karena dia bukan muslim lalu kita membutakan diri terhadap prestasi kerjanya ?  Dan tidak ada jaminan bahkan bagi seorang muslim yang dengan kemuslimannya dia bertindak secara Islami. Selandia Baru sudah membuktikan, negara sekuler dan penduduknya bukan mayoritas muslim tapi justru dijuluki negara paling Islami. Indonesia negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia justru diluar 100 besar negara paling Islami, sebagai muslim saya malu melihat realita seperti ini. Buat saya mending mempunyai negara sekuler tapi Islami daripada negara Islam tapi brutal.

Sebagai gubernur Ahok hanya menjalankan amanahnya untuk memimpin DKI, dan itu sudah dilakukan dengan baik. Apakah adil jika kita balas dengan caci maki, ancaman dan hujatan yang tiada henti ?
Ahok toh hanya manusia biasa seperti kita dia pasti tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, dia bukan Muhammad yang hatinya sudah disucikan. Kalau Tuhan yang menciptakan kita saja maha pengampun apa iya kita merasa kedudukan kita lebih tinggi dari Tuhan sehingga susah sekali untuk memaafkan ? Kalaupun bukan saudara dalam iman kita masih bisa memandang sebagai saudara dalam kemanusiaan, Islam adalah rahmat buat seluruh alam. Islam tidak akan hancur karena statement Ahok, Al Qur'an akan tetap terjaga kesuciannya karena itu janji Allah kepada kita, Dia yang menjaga, kita sebagai muslim hanya bisa tunduk kepadaNya.

Jakarta sebagai ibukota adalah etalase bagi Indonesia, mari kita pelihara bersama. Janganlah demi nafsu berkuasa kemudian membuat masyarakatnya justru berpikir mundur. Mengangkat isu SARA untuk menjatuhkan lawan politik hanya akan menimbulkan perpecahan, itu cara yang paling primitif dalam berdemokrasi. Kita semua mahfum tidak sedikit biaya, tenaga dan waktu yang dipertaruhkan demi mendapat kekuasaan. Tapi melakukan cara-cara primitif dengan menghembuskan isu SARA adalah tindakan yang paling menjijikkan. Kita sudah 18 tahun berdemokrasi, menjadi role model bagi negara-negara yang lain. Bagaimana kita bisa menyatukan perbedaan dan mensejajarkan semua suku, agama dan keturunan berada dalam kedudukan yang sama sudah diakui dunia. Tidak ada tirani minoritas ataupun sebaliknya, ini yang sangat kita syukuri.

Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk merebut simpati masyarakat Jakarta. Jangan karena pertarungan sesaat kemudian merusak tatanan yang sudah ada. Para paslon dan timnya mestinya justru mengedukasi para voters, berdemokrasilah dengan beradab. Kita tidak akan lebih ditinggikan derajatnya karena fitnah yang kita buat untuk menjatuhkan paslon lainnya. Jakarta juga menjadi role model bagi kota lain di Indonesia. Biarkanlah masyarakat Jakarta memilih sesuai dengan hati nuraninya. Jangan takut-takuti mereka dengan neraka karena tidak memilih pemimpin seagama. Beradu visi, misi dan program bisa dilakukan tanpa saling menjatuhkan.
Masyarakat di luar Jakarta sudah bising dan muak sekali dengan fitnah yang tidak berkesudahan hanya demi sebuah jabatan. Cukupkan pilpres 2014 jadi sebuah pelajaran, jangan karena 5 menit dibilik suara gilanya sampai 7 turunan dan 7 tanjakan.

Selamat bekerja kepada teman-teman Jangkar DKI, walaupun agak sedikit terlambat tapi masih ada waktu buat kalian bekerja demi Jakarta yang bersih. Tinggalkan kebiasaan relawan yang justru bisa menggerus elektabilitas, bermainlah dengan cantik tanpa harus melakukan intrik. Saya tahu ini adalah panggilan nurani sebagai warga yang sudah menikmati hasil dari kerja petahana, tanpa support dana ataupun back up pengusaha apalagi sekedar cari muka dan foto bersama.
Tidak mudah mengembalikan kepercayaan masyarakat tapi pasti kalian bisa. Oya, jangan banyak janji manis, Ahok sudah kerja dan hasilnya terlihat nyata. Janji manis itu kerjaan para jomblo yang ngarep dapat gebetan, sampai hal yang tidak realistis pun dijanjikan bisa dilakukan, kalaupun ada yang meminta untuk memakan kepala sendiri misalnya, mereka pasti janji bisa dikerjakan, yang penting gebetan ditaklukan.

Saya bukanlah bagian dari relawan, saya hanya seorang yang mengharapkan suatu hari kita seluruh rakyat Indonesia bisa berjalan bergandengan tanpa harus membedakan agama, suku, ras dan golongan. Ahok bagi saya adalah simbol, bahwa di negara yang mayoritas pemeluk Islam tidak mempermasalahkan apa agama pemimpinnya. Seperti halnya London yang memilih seorang muslim sebagai pemimpin.

Saya mengajak teman sesama muslim untuk tafakur sejenak, berapa banyak dosa yang sudah kita perbuat dengan menyebar fitnah hanya karena Ahok ?
Apakah jika Ahok tidak menjadi gubernur karena hasil fitnah akan menjadikan kita manusia paling mulia disisi Allah ?
Berapa banyak fitnah dan dusta yang harus kita sebarkan agar orang percaya kebenaran menurut pemahaman kita ?
Berapa banyak orang yg harus kita sesatkan agar orang mengakui bahwa kita adalah orang yang lurus dan ahli sorga sehingga mereka mau memilih kita ?
Seberapa sering kita harus membodoh-bodohkan dan nyinyirin orang agar khalayak percaya kita cerdas dan mau memilih sebagai penguasa ?
Berapa banyak lagi nyawa yang harus mati, tubuh yang harus dilukai, orang yang harus didustai dan difitnah,  agar Tuhan memasukkan kita ke surga ?
Dan berapa banyak lagi kebencian dan hasud yang harus disebar agar orang-orang mau mengikuti kebenaran yang kita yakini?