Tuesday, November 22, 2016

Menyambut Wiro Sableng

Ada sedikit perasaan lega ketika mengetahui beberapa aktor pemicu kerusuhan dan demonstrasi yang berujung anarki akhirnya dipanggil pihak berwajib. Walaupun sampai hari ini statusnya masih menjadi saksi tapi ada optimisme bahwa kasus ini pasti akan dikembangkan sehingga akan terkuak siapa sebenarnya aktor intelektual dibalik aksi yang lalu.
Masih optimis kalau NKRI akan terjaga keutuhannya asalkan ada ketegasan terhadap siapa saja yang bermaksud untuk melakukan makar walaupun secara tersirat, melalui agenda-agenda demonstrasi yang sudah mereka buat. Agenda terselubung dengan menunggang aksi demonstrasi, jahat sekali memang bagaimana memanfaatkan massa yang saya yakin tidak tahu agenda mereka, mereka hanya dibayar untuk turun ke jalan tanpa tahu konsekwensi dibaliknya, berhadapan dengan aparat yang bersenjata. Ini kejahatan terhadap kemanusiaan. Secara konstitusional memang kegiatan ini dilindungi oleh Undang-undang dan salah satu ciri dari sebuah negara demokrasi. Tapi jika untuk menghadirkan massa kemudian menggunakan uang rasanya kok jauh dari arti demokrasi yang kita harapkan selama ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau aksi demo yang dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah tidak lepas dari isu uang.
Semakin banyak yang datang tentunya semakin banyak pula cost yang harus dikeluarkan oleh penyelenggara. Dan kita tidak bisa menyalahkan para pendemo dengan motif seperti ini. Ditengah himpitan ekonomi dan beban hidup yang semakin berat uang adalah solusinya, seperti oksigen yang dibutuhkan oleh penderita hipoksia. Yang lebih diuntungkan lagi adalah kelompok-kelompok yang memiliki kemampuan untuk memobilisasi massa, bagi mereka aksi demo adalah lahan bisnis bernilai jutaan bahkan mungkin ratusan juta rupiah. Saya sendiri secara pribadi, asal ada imbalan uang, mampu untuk mencari relawan untuk berdemonstrasi, saya banyak bergaul dengan orang pinggiran yang standar hidupnya jauh dari kelayakan, tukang becak, tukang parkir, preman jalanan, tapi tidak segila itu sih, disamping saya masih punya hati nurani.
Tentu saja tidak semua yang hadir adalah massa upahan, mereka yang berada dalam satu garis perjuangan akan rela mengeluarkan apa saja bahkan nyawa sekalipun, tapi berapa gelintir saja yang seperti itu. Apalagi banyak yang sebenarnya menolak aksi demonstrasi karena memang tujuannya yang nggak jelas.

Jangan samakan aksi yang sudah dan akan terjadi beberapa hari lagi dengan aksi mahasiswa dan masyarakat tahun '98. Saat itu pemerintah memang sudah tidak mempunyai legitimasi dimata rakyat, jelas beda dengan pemerintahan yang ada sekarang. Saya kira jika para penggerak demonstrasi berharap akan terjadi lagi peristiwa '98 bersiaplah kecewa, karena saya yakin jauh lebih banyak rakyat yang mendukung pemerintahan saat ini.
Mereka bisa saja mewakili suara umat Islam dengan mengusung tema Aksi Bela Islam III itu hak mereka, tapi faktanya umat Islam yang terwakili oleh 2 ormas terbesar di tanah air sudah jelas sikapnya untuk tidak mendukung. Jadi yang mereka wakili mungkin hanya 5% saja dari seluruh umat Islam di Indonesia. Dan saya juga secara pribadi masih meragukan ke Islaman mereka sih, ya maaf saja, ketika himbauan pemerintah masih dilanggar secara syariat mereka juga sudah melanggar ayat athi'ullaha wa athi'urasul wa ulil amri minkum. Kecuali memang mereka tidak mengakui pemerintahan yang sedang berkuasa saat ini ya, heran juga sih kok masih betah di Indonesia. Lho tapi kan mereka juga menikmati hasil kerja dari pemerintah yang sekarang ? Assssembuhhh...

Semakin lebay lagi akan ada aksi gelar sajadah dan shalat Jum'at di sepanjang Sudirman-Thamrin. Walaupun akhirnya mereka bisa diarahkan untuk melakukan shalat di Monas, pemerintah lewat Kapolri tidak bisa begitu saja disalahkan, yang penting akhirnya mereka tidak mengganggu fasilitas publik.  Kok saya jadi berpikir sebenarnya ini orang mau pada ngapain sih ? Sudah jelas banyak masjid kok masih pada mau sholat Jum'at di Thamrin !! Emangnya mau sholat dalam rangka lebaran kuda ? Dimana rasa syukur mereka sampai-sampai belain shalat di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin, sementara ada saudara yang sudah berjuang bertahun-tahun untuk mendirikan tempat ibadah saja belum bisa diwujudkan ??? Ini lebih pekok daripada rakyat Republik Pekok.

Nggak habis pikir saya, ada ulama model begini di Indonesia, belum lagi yang suka teriak-teriak rasis di sosial media sembari salah mengutip ayat. Kasihan kepada mereka yang ikut terprovokasi, dibela-belain jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk tujuan yang nggak jelas. Bahkan prajurit Kopassus pun tidak pernah berjalan sejauh ini saat upacara pembaretan dan penyematan wing komando.

Lha kalau ulamanya sudah hancur lebur seperti ini pengikutnya kuwi njuk modele kongopoooo ??  Jangan pernah berpikir semua habib itu bener, habib kan cuma gelar, konon katanya keturunan Rasulullah, lha cumak keturunan owk, itu bukan jaminan bagi sebuah kebenaran, kalau keteladanan Rasulullah saya tidak meragukan lagi. Lha wong saya punya kenalan gelare habib ning seneng mendem sobone neng diskotik karo wedokan yo onok. Ya ndak saya ikutin lha habib edan og, gendheng pooo..!!
Bagi saya Habib yang patut jadi panutan ya Habib Luthfi bin Yahya, kalau habib rizieq mboten mawon. Lha kok saiki malah dibolo karo mat dhaniiii yongalaaahh...!! Iki lek Cak Kirun lak wes ngekek sampek elek.

Wes cah, jam loro bengi iki, bal-balan wes molai, tak nonton sek. Hajindul gek rokokku entek sisan...paaiiittt !!!

Monday, November 21, 2016

Rohingya, Toleransi dan Pisang Goreng

Suka kesel aja sama kelompok-kelompok yang sering seenaknya menghakimi orang lain tanpa klarifikasi. Sekarang lagi banyak kan yang seperti itu, mulai dari urusan dukung mendukung di pilkada bisa merembet ke hal yang lain. Aneh....

Beberapa hari ini kita dengar penyerbuan kelompok muslim Rohingya oleh junta militer Myanmar yang didukung oleh kaum fundamentalis Buddha. Sebagai negara demokrasi dengan penduduk muslim terbesar di dunia akan sangat wajar jika berempati dan kemudian menggalang solidaritas untuk muslim Rohingya.
Tetapi jika kemudian menuduh kelompok muslim yang selama ini gencar menyuarakan toleransi tidak pernah berbuat apa-apa untuk solidaritas muslim di Rohingya itu namanya keterlaluan. Ini bukan sekali dua terjadi, berkali-kali radikalis muslim di Indonesia selalu memfitnah dengan tanpa dasar kepada teman-teman penyeru toleransi. Seolah hanya mereka saja yang perduli kepada sesama, ini kan bangsat namanya !!
Kalau kita bekerja dalam diam saat membantu membantu mereka yang dalam masa sulit seperti muslim Rohingya apa salah ? Apakah semua kerja kemanusiaan itu harus dipublikasikan sehingga mata kaum radikal bajingan ini jadi melek ?? Atau mungkin bentuk solidaritas dimata radikalis itu adalah membunuh siapa saja yang mengganggu umat Islam Rohingya ? Terus kemudian ketika kita terbunuh disana kedatangan mayat kita disambut sebagai syuhada Rohingya, difoto dan dibikin meme dengan tulisan Bidadari menanti karena aroma jasadmu yang harum mewangi, prekkkk !!

Kurang ajarnya saat kita aktif membantu saudara-saudara lintas agama seperti saat membersihkan gereja di Samarinda kemarin mereka teriakin kita sebagai antek kafir, liberal, aqidahnya bengkok dan stigma-stigma negatif yang lain, saya sangsi jangan-jangan kepala mereka isinya bukan otak tapi pisang goreng !

Ini faham yang sangat berbahaya bagi persatuan bangsa, tapi sayangnya banyak pejabat-pejabat diatas tidak menyadari sehingga membiarkan faham ini berkembang dan tumbuh subur. Mestinya para pengambil keputusan bisa mengambil pelajaran bagaimana orang tua akhirnya sampai kehilangan anak yang tiba-tiba menjadi radikalis dan akhirnya menjadi teroris.
Saya punya sebuah contoh, kebetulan sepupu saya sendiri. Bagaimana dia setelah tiba-tiba menjadi radikal berani mengkafirkan bapaknya hanya karena bapaknya seorang pelukis. Padahal sejak kecil sampai saat berumah tangga semua biaya hidupnya ditanggung oleh bapaknya dari hasil melukis, ini kan goblooook !!!

Tidak tercatat sudah berapa kasus hubungan kekerabatan menjadi retak karena ajaran radikalisme yang sekarang sudah menjalar sampai ke pelosok. Belum lagi kasus pengambil alihan masjid yang sebenarnya menjadi fasilitas umum yang bersifat inklusif akhirnya di okupasi oleh para laskar bajingan berjubah dengan membawa nama agama ini. Dan siapapun yang berniat melakukan ibadah di masjid itu harus menurut sesuai dengan syariat yang mereka gunakan. Pak menteri agama mestinya tau lah hal-hal yang seperti ini. Sudah bukan rahasia lagi kok, apalagi mereka sudah semakin terang-terangan dalam gerakannya.

Sungguh, pembiaran hanya akan membuat bangsa ini menjadi semakin hancur. Apa tidak cukup pelajaran yang didapat saat perang etnis di Yugoslavia. Tetangga yang pada awalnya hidup harmonis tiba-tiba bermusuhan dan saling membunuh hanya karena perbedaan etnis, mengerikan, ini tragedi bagi kemanusiaan.
Rasanya gemas saja saat melihat mereka sudah tidak segan lagi berdemonstrasi dengan membawa isu agama dan SARA tapi pemerintah seakan-akan tutup mata. Saya tidak akan berpikiran negatif bahwasanya dalam kondisi tertentu pemerintah juga membutuhkan jasa mereka, sebagai pengalihan isu misalnya, mungkin, saya nggak tahu.

Aktornya sudah jelas ada, bukti berserakan dimana-mana tapi kok ya didiamkan saja. Saat dulu ada penyanyi dangdut melecehkan lambang negara aparat sangat reaktif, tapi hal yang sama  dilakukan oleh pemimpin ormas radikal aparat menutup mata, ini ada apa ? Sudah sedemikian rusak kah penegakan hukum di negara ini ? Saya nggak cerita Ahok, sudah bosan rasanya. Jadi ingat ada sebuah satire yang mengatakan bahwa hanya hukum di surga yang lepas dari kepentingan politik.

Saya sering merasa kasihan kepada teman-teman dan ormas yang berjuang demi tegaknya toleransi. Disatu sisi mereka sudah banyak sekali mengorbankan waktu dan juga materi. Membuka kelas-kelas demokrasi dan toleransi demi persatuan umat. Tapi disisi lain pemangku amanah di negara ini seakan bungkam ketika terjadi aksi intoleran. Silakan baca judul lain di blog ini untuk mengetahui apa saja aksi intoleran yang terjadi di negara ini. Bukan hanya merujuk kepada satu agama atau kelompok tertentu saja karena saya bicara dalam kerangka universal.

Semoga saja tokoh-tokoh sepuh seperti Kyai Maimoen Zubair, Gus Sholah, Gus Mus dan Buya Syafi'i Ma'rif serta tokoh-tokoh pemersatu dari agama-agama lain selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Semoga juga akan banyak tokoh muda yang lahir sebagai penerus perjuangan untuk menangkal berkembangnya faham radikal di Indonesia.
Selamat berjuang demi tegaknya NKRI yang kita cintai bersama.
Tuhan memberkati kita semua.


( Tulisan ini terinspirasi dari tuitnya Mbak Alissa Wahid )

Sunday, November 20, 2016

Pertarungan Rudi vs Riri di AADC

Riri vs Rudi di AADC

(Foto:Bintang.com)

Asli, sebenernya nggak suka nonton film sih, salah, maksud saya gak hobi. Kalau nonton suka aja tapi bela-belain ngantri beli tiket buat nonton premiere perasaan sampai hari ini belom pernah. Sampai suatu hari saya iseng nemenin anak nonton AADC.

Jadi gini, beberapa bulan setelah berakhirnya penayangan di bioskop, anak saya mendownload film ini atas pesanan nyokapnya,  istri saya, sequel 1 dan 2 sekaligus. Sah aja lah kan udah nonton versi originalnya di bioskop walaupun cuma berdua anak saya ( istri saya sering minta didownloadin film kalau anaknya lg di warnet :-D )

Sequel pertamanya dulu juga udah pernah nonton sih tapi lupa jalan ceritanya, secara 2002 mennn, itu udah lama banget, SBY belum bikin album lagu.

Dengan mengucapkan basmalah, saya, anak-anak dan istri nonton bareng film AADC ini dlm format .dlwrt. ( donlodan warnet ) mulai dari cerita saat  Cinta masih pake putih abu-abu. Tapi karena nonton rame-rame dan anak saya kebanyakan nanya jadi gak khusyuk dan tuma'ninah aja sih. Hingga akhir film saya masih penasaran aja dengan alur ceritanya. Saya mesti nonton lagi nih, minimal jadi tau kan benang merah antara AADC#1 dengan AADC#2. Malam hari setelah anak  berangkat tidur iseng saya tonton lagi, sendirian aja, mulai dari sequel 1 dilanjutkan sequel 2, 4 jam lebihhhh ! Goks... 
                              *****

AADC Sequel 1

Menurut saya emang film ini natural banget karena menceritakan keseharian anak sekolah dan geng nya. Makanya nggak heran film ini jadi box office pada saat itu. Sempat jadi inspirasi anak sekolah dalam urusan percintaan, bahkan ada diantaranya yang tiba-tiba menjadi aktivis mading, nulis puisi. Mungkin mereka mengharap akan bertemu cowok misterius seperti Rangga yang jadi pemenang lomba puisi. Minimal anak sekolah jadi lebih kreatif lah, terlepas dari apapun niatnya. Cowok-cowok yang biasanya bolos pun mendadak rajin sekolah, alasan apa lagi kalau bukan mengharap bisa dapet gebetan anak-anak sekeren geng Cinta, absurd memang tapi itu yang terjadi. Sayangnya tidak ada diantara mereka yang mencoba akrab dengan penjaga sekolah seperti Rangga yang jadi sahabat nya pak Wardiman, mungkin dianggap tidak ada untungnya juga sih, mendingan akrab sama pemilik kantin apalagi kalau punya anak cakep, bisa ngebon, syukur dapat gratisan. Apa menariknya Pak Wardiman coba ? Mau diajakin ngobrol soal sastra dan puisi kan juga gak nyambung. 

Dian Sastro, ex Gadis Sampul yang saat itu boleh dibilang sebagai pendatang baru di dunia film sukses mendelivered peran Cinta di film ini, yakin deh sampai hari ini pasti masih banyak fansnya yang memanggil Dian dengan Cinta, minimal suaminya lah.  Walaupun sebelum dan sesudahnya Dian juga memerankan berbagai karakter dalam film, kesan dia sebagai figur Cinta akan tetap melekat.
Rangga, jarang ada cowok se-introvert dia, nggak heran kalau Rudi Soedjarwo sebagai sutradara agak kesulitan saat mencari figur dengan karakter Rangga. Sekolah di Jakarta gaes, kalau kalian kayak Rangga udah jadi bahan palak temen yang punya geng. Dalam kesempatan yang lain Rudi juga pernah bilang, lebih susah nyari karakter cowok daripada cewek. Apalagi saat itu belum ada media sosial seperti sekarang. Berbahagialah para cowok karena kalian limited, tapi jangan geer dulu, bagaimanapun cewek itu nggak pernah salah, maaf oot...

Setelah di casting untungnya Nicholas Saputra yang kebagian peran Rangga, coba kalau Dede Sunandar, kebayang kan Dian Sastro diklomoh Dede Sunandar, huweeeeek !!

Seorang introvert seperti Rangga memang sering ditemui pada keluarga yang broken home, dan anak introvert juga biasanya jago modus sih, bikin puisi contohnya. Ya karena nggak punya temen, kompensasinya ya nulis puisi, bagus dong daripada nulis cerita porno terus dipajang di Semprot. You nailed that kak Miles ! Etapi kenapa Nico sampai sekarang masih jomblo aja yak ? Jangan-jangan patah hati ditinggal kawin Dian. Bedebah, ni ngapa jadi ngegosip .. !!
Alya, dibalik kehidupannya yang sulit karena konflik orangtuanya dia justru lebih sering jadi problem solver buat Cinta, bandingkan dengan Maura yang ganjen, Karmen yang berotot dan Milli yang loading nya lama. Mereka hanya jadi pelengkap warna kehidupan anak SMA aja sih, lagian kan gak shohih kalau namanya Geng Cinta tapi anggotanya cuma 2, geng apa itu ?? 

Scene favoritku adalah saat Mamet ketinggalan di airport, clear. Wajahnya itu loh...

AADC Sequel 2 

Dan setelah 14 tahun berlalu di release lah AADC#2, maaak aku turut bersedih buat para veteran AADC#1 yang gak sempet menyaksikan sequel ini. Mang Diman, Frans Tumbuan, Gito Rolies sapa lagi yak ? May you're all rest in peace guys. Thank God saya masih diberi panjang umur untuk nonton lagi Cinta dan Rangga. Kalau ada anak Mojok yang mengkritisi film ini seperti FTV ya sah-sah saja sih, gak tau juga alasannnya, mungkin karena saya gak pernah nonton FTV ! Saya langganan saluran tv berbayar cuy, sayang banget kalau cuma buat nongkrongin sinetron gaje kayak gitu. 

Buat saya ini film bagus sih dan terbukti kan kalau dalam hitungan minggu sudah nembus angka 3 juta penonton, dan diantara mereka ada yang nonton sampai beberapa kali di bioskop, freak banget kan ! Bukan hanya di dalam negeri, di Malaysia dan Melbourne tiketnya juga sold out saat premiere. Jarang film Indonesia bisa sesukses ini, bahkan ada beberapa diaspora yang mewek karena mereka belum sempat nonton di negara tempat mereka bermukim, worth it banget kan.

Cerita tentang Cinta masih nyimpen arsip Rangga padahal dia udah 9 tahun putus dan udah bertunangan, saya kok punya keyakinan banyak diantara kalian juga melakukan ini, move on bukan perkara  mudah gaes. Dan ingatan tentang hubungan dia dengan Rangga seperti sedang dirasakan oleh Cinta sesaat setelah dia sampai di villa di Jogja, saat mampir minum es teh, juga saat dia clubbing bareng geng nya, perhatikan ekspresinya, elo nyesel tunangan ama Trian ya Ta ??  Miles keren karena bisa menyembunyikan pesan ini dengan sangat smooth dan anda harus memberi saya penghargaan untuk ini kak !! 

Sayang sekali karakter Alya dibunuh  padahal dia teman yang paling bisa memahami Cinta, dan adalah alasan yang tidak bisa dipahami dengan menceritakan dia meninggal karena kecelakaan. Miles ini udah kayak orang-orang di medsos yak, senengnya bunuh 'karakter' orang. Maksud saya,  kenapa  Miles gak nyari pengganti Ladya Cheryll buat jadi peran Alya ya ? 14 tahun nggak ada yang inget lah kayak apa profil Ladya Cheryll ketika memerankan Alya. Charlie's Angels kan juga pernah ganti formasi pemain dan gak ada yang mengkritisi, yang penting penggantinya masih cewek.

Secara Alya itu emotionally paling deket dengan Cinta kan, kalian liat deh waktu dia curcol di kamar Cinta malam-malam, terus scene waktu Cinta disidang gegara kebanyakan nuangin sambal di mangkok bakso, selalu Alya yang jadi solver dan jadi orang pertama yang tau rahasia-rahasia yang disembunyikan Cinta. 
Ya sudahlah, mungkin ada pertimbangan lain kenapa Alya dimatikan dalam sequel ini, walaupun saya yakin banyak yang setuju juga dengan pendapat saya tadi. 

Scene favorit saya adalah, saat Cinta maaf-maafan sama Karmen di kamar villa. Kebayang gak kalau adegan itu diperankan 2 orang cowok ? Pelukan sambil nangis gitu... Percaya deh cuma boyband  yang kaya gitu. 
                                *****
Fakta juga berbicara film ini termasuk salah satu film tersukses 2016 dari segi penonton dan banyak mendapat apresiasi dari publik, tak kurang Gubernur DKI didampingi istrinya sampai meluangkan waktu untuk nonton bersama para pemain film ini. 

Riri detail banget penggarapannya, Rudy, sutradara AADC#1 agak ceroboh, kenapa ? Tonton deh adegan saat Borne melototin puisinya Rangga di mading tidak lama setelah dia gebukin Rangga, puisi yang bolak balik dibaca oleh Cinta  kalimat terakhirnya adalah  "Atau kuharus lari ke hutan, belok ke pantai". Tapi yang di pajang di mading adalah "Atau kuharus lari ke pantai, belok ke hutan". Hal yang kelihatannya sangat sepele, tapi bisa juga tidak, karena puisi ini yang mengantar perjodohan Rangga dan Cinta. Tapi ya gapapa lah daripada "Atau kuharus lari ke hutan, belok ke mantan"... Parah kan.
Selamat lagi buat kak Miles dan Riri yang juga sudah bisa bawa AADC#2 meraih beberapa nominasi dan jadi film pembuka pada festival film di Fukuoka. Selamat juga buat kesuksesan luar biasa di FFI kemarin walaupun dengan film yang beda, Athirah. Udah bisa di download belum ya ? :-P

Masih banyak yang penasaran apakah akan dibuat sequel berikutnya karena dulu memang tidak ada rencana untuk bikin sequel 2. Saya kira sih masih banyak yang bisa dieksplorasi dari ending cerita kemarin. Produser kan kayak Tuhan di dunia film, dia bisa melakukan apa saja dalam menghidupkan skenario. Asal jangan nunggu 14 tahun juga sih, kalau karakter yang diceritakan sudah terlalu tua akan sulit sekali mencari casting nya. 

Yakali karakter Cinta diperanin oma Ratna Sarumpaet dan Rangga diperanin opa Malih Tongtong ??? Demi Tuhan saya gak rela !!! 

LDR kaum fakir kelon ?

(Foto:Bintang.com)

Nggak tau kenapa tiba-tiba pengen nulis tentang LDR, Long Distance Relationship, Lungguh Dikancani Rantang ( versi MbahNyut ) atau apapun istilahnya. Kalau menurut fatwa Wikipedia, A long-distance relationship (LDR)  is an intimate relationship between partners who are geographically isolated from one another. Partners in LDRs face geographic separation and lack of face-to-face contact. Membacanya saja sudah berasa kepingin nangis sejadi-jadinya, andaikan jarak itu seperti tergambar dalam peta yang ketika dilipat sedemikian rupa kemudian tidak berarti apa-apa....sigh. 

Jujur saja, saya sebenernya terinspirasi dari seorang teman yang kebetulan saling follow di twitter, dia bisa dikatakan penganut LDR garis keras dan sangat bangga dengan statusnya selama ini. Screen name nya Citra Orwella, saya biasa panggil Mak Plecit, mengadopsi panggilan dari temen dlm circle dia. Secara personal nggak kenal sih, cuma karena dia sering nyampah terutama malam hari, dari yang sifatnya personal seperti urusan seberapa lama dia mandi, urusan mendidik anak, sampai urusan ranjang dia tumpahin semua di timeline omegaddd, seolah-olah seperti dia nggak punya follower, kan bangke.....! Untuk manusia bergender perempuan ( Cit lo bener perempuan kan, gw gatau sumpah ) Citra ini boleh dikatakan juaranya LDR, juaraaak. Katanya sih udah dia jalani selama beberapa tahun, dari sejak punya anak pertama kali sampai sekarang anaknya 2, itu bener anak lo kan cit ? Alasannya sih karena suaminya sering pindah dinas setiap 2 tahun sekali, itu kantor apa sih bisa labil gitu cit, agen jamu MLM ? Gila ya kok saya bisa tahu sedetil ini tentang Citra, ya iya laah, kan karena dia sering nyampah itu tadi. Kalau Citra suruh deskripsikan siapa saya ya jelas kesulitan lha wong saya pendiam, hihiii. Wajar sih namanya dosen komunikasi, tapi emang kudu secerewet itu ya, sampai urusan durasi mandi aja dikomunikasiken ke follower, saya ndak respon tuit dia kalau lagi nyampah tentang mandi. Tapi justru ini sebenernya yang jadi pertanyaan besar, bener kamu perempuan sementara durasi mandimu cuma 17 detik ??? Ini perempuan macam apaaaahh ?? Oke kita tinggalkan Mak Plecit dengan thoriqoh LDR nya.
Saya sendiri selama lima tahun termasuk penganut aliran LDR juga, jadi sebenernya saya nulis bukan dalam rangka memberikan support kepada kalian kaum LDR, apalagi menasehati, saya cuma pengen curhat aja. Beda saya dengan Citra, dia levelnya sudah sufi dalam urusan ini, mungkin kalau nggak LDR dia malah berasa aneh, mungkin. Bagi kalian yang punya rencana nekat menjalani LDR saya ucapkan selamat, karena kita termasuk kaum gagah berani walaupun awalnya akan merasakan galau tingkat dewa 19½. Tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan hubungan seperti ini, buktinya saya masih bertahan walaupun lebih karena kepepet, karena belum menemukan solusi yang pas untuk menjalani hubungan yang normal layaknya mereka yang tidak LDR. Citra temen twitter saya tadi juga happy aja, hahahihi mulu saben hari. Ada beberapa hal yang mungkin harus kalian pikirkan sebelum memutuskan untuk nekat menjalani LDR. 

Pertama adalah masalah finansial, kalau hanya jarak Jogja - Solo saja sih dengan 10 ribu perak sudah bisa menyelesaikan masalah. Bagaimana dengan mereka yang LDR nya AKAP, antar kota antar propinsi, sementara harus ketemu minimal seminggu sekali misalnya. Menyiasati keuangan terutama kalau jaraknya lumayan jauh dan harus ditempuh dengan kendaraan umum seperti, bus, kereta ataupun pesawat adalah prioritas untuk dibicarakan dengan pasangan. Bagi yang mapan secara ekonomi tentu saja hal ini tidak masalah, tapi bagi mereka yang berpenghasilan paspasan tentu akan menjadi handicap tersendiri, bunuh diri itu namanya. Dilema antara pulang tapi tidak bawa banyak uang atau mengirim uang tapi nggak bisa kelon, yungalah, itu menjadi sebuah keniscayaan yang rasanya nusuk banget. Makanya yakinkan dulu bahwa secara finansial kamu tidak ada masalah untuk melakukan hubungan dengan cara seperti ini. Kedua adalah tentu saja urusan perkelonan, apalagi bagi penganut mazhab al keloniyah fii kulli yaum ilaa yaumil qiyamah. Maksudnya setiap hari bawaannya pengen kelon mulu. Akan sangat tidak nyaman tentu saja untuk menjalani hubungan ini. Bagi perempuan mungkin lebih mudah untuk menahan hasrat yang satu ini, tapi bagi laki-laki ini adalah tuntutan  utama setelah menikah, terutama bagi mereka yang menikah di usia muda dan memiliki libido setara kuda, emang kuda gimana sih ?

Kecuali karena sebuah pertimbangan yang sangat prinsipil seperti kalian berdua adalah "prajurit karir" di kesatuan masing-masing ataupun karena seringnya salah satu pihak berpindah tugas sehingga akan kesulitan bagi yang sudah memiliki anak untuk menyesuaikan sekolah mereka, maka jadikanlah LDR sebagai alternatif terakhir. 
Statistik di Amerika Serikat, di tahun 2005 lebih dari 15 juta orang memilih untuk menjalani LDR meskipun angkanya berkurang di tahun 2015 menjadi 14 juta orang. Tapi tidak menutup kemungkinan angkanya akan naik lagi di tahun 2016 karena terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden, hubungannya apa ? Haluweh, saya kan cuma nebak aja. 

Menurut Stafford dkk, ada 7 cara untuk memelihara hubungan jarak jauh supaya awet, tapi ya nggak akan saya tulis semuanya disini, kayak dosen aja. Salah satu dari ketujuh cara yang paling penting adalah komitmen untuk saling mencintai pasangan. Terdengar sangat mudah, tapi akan teruji saat kita sudah mulai menjalani apalagi setelah mulai berproses sekian lama dan kita tidak akan tahu kapan ini berakhir. Ditambah lagi faktor lingkungan yang sering mempengaruhi, mulai dari teman kantor, tetangga bahkan kadang sampai keluarga. Di Indonesia landasan hubungan dengan cara seperti ini boleh dikatakan belum lazim walapun tidak sedikit juga penganutnya. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan dogma dan ajaran agama, dimana-mana perempuan ya ikut suami, dalil seperti itu sudah jadi menu harian. Kalau kita tidak bisa menjelaskan alasan yang 'maton' akan sangat sulit bagi sebagian masyarakat untuk menerima. "Pasti rumah tangganya sedang bermasalah", tetangga yang asal mangap seperti itu akan kita jumpai. 
Kalau kalian sempat nonton film AADC ya kira-kira seperti itu lah dramatisnya hubungan LDR, kaya naik roller coaster. Gausah ngayal kamu di Indonesia sementara pasangan kamu di New York, bisa muntah darah saking kangen tapi gak punya duit buat ketemuan. Tidak ada saat yang menyenangkan bagi kaum LDR kecuali saat bertemu, walaupun hanya seminggu sekali dan itupun masih harus dibagi waktu untuk jalan-jalan dengan anak, ketemu orangtua, sowan mertua, main gadget, terima telepon dari relasi balas sms bos, dll. Statistik tentang ini pernah dirumuskan oleh Mbah Nyutz dan Mprop Picoez, frekwensi kelon akan sedikit sekali yang jelas, belum lagi kalau anak kebangun karena ngompol, hadeeeuuhh. Apalagi pas waktunya ketemu berbarengan dengan datangnya tamu bulanan istri, halaaaahh....

Segala hiburan seperti facebook, twitter dan media sosial lainnya hanya kesenangan semu belaka, kalau sudah datang malam yang ada ya ngenes jua.
Tapi kalau kalian tidak mempunyai pilihan kecuali harus menjalani proses ini semoga kalian bisa menjalani dengan ikhlas sambil terus berusaha untuk menambah frekwensi pertemuan dengan pasangan dan gunakan setiap waktu untuk menjalin komunikasi.

Hormat saya bagi kalian yang masih mempertahankan status hubungan dengan cara seperti ini walaupun harus jungkir balik dan berdarah-darah, digosipin, dibribik, disepik, tanya sama Citra kalo nggak percaya. Banyak bersyukur saja bahwa masih ada kaum yang lebih ngenes dari kita, boro-boro merasakan kelon syariah, calon aja nggak punyaaaaak...

Kalian sehat mbloooooooo ???

Ahok Kesandung Ayat Spesial Pilkada

(Foto:Megapolitan.kompas.com)
​Kabar dari Bareskrim Polri terkait penetapan Ahok sebagai tersangka diterima dengan berbagai reaksi, bagi mereka yang anti Ahok tentu saja akan bersuka cita, sebaliknya bagi para pendukung Ahok tentu kabar ini sangat menyedihkan. Saya bukan pendukung Ahok dalam kapasitas dia sebagai cagub DKI lha wong saya bukan pemegang KTP DKI, jadi jangan anggap saya sebagai Ahokers garis keras. Saya hanya menaruh simpati saja kepada Ahok yang dengan kerjanya selama ini sudah banyak memberikan pengaruh positif kepada warga DKI.

Seorang Pandji Pragiwaksono yang notabene adalah jubir dari kubu Anies - Sandiaga pun memuji kinerja Ahok dan ditulis dalam blog nya. Artinya pujian bagi kinerja Ahok bukan dari saya saja. Kalaupun ada pihak merasa kurang puas dengan beberapa kinerjanya saya kira ya wajar saja, ketidakpuasan kan juga sifatnya subyektif dan tergantung motifnya juga. Ketidakpuasan ini biasanya dirasakan oleh mereka yang merasa dirugikan oleh kebijakan Ahok,   ( apalagi jika sudah menyangkut masalah perut ) dan tentu saja lawan politiknya, kalau yang ini rahasia, saya nggak akan bocorin partai apa saja yang jadi lawan politik Ahok.   Mengurus Jakarta dengan kompleksitas permasalahannya yang sudah kita ketahui bersama pastinya akan sarat sekali dengan konflik kepentingan, dan akan sangat mustahil sebuah kebijakan akan bisa memuaskan banyak orang, walaupun solusi terhadap ketidakpuasan sebenarnya sudah diberikan, dalam bentuk kompensasi misalnya, tapi ya tetap saja. 
Keputusan Polri yang menjadikan Ahok sebagai tersangka tentu saja menjadi pukulan bagi para pendukung Ahok, tapi marilah kita berbesar hati, seperti halnya Ahok yang dengan ikhlas menerima dan menganggap ini sebagai sebuah proses demokrasi, bahkan sejak sebelum dia dinyatakan sebagai tersangka.  Sikap seperti ini yang sangat jarang kita temui dilakukan oleh para pejabat di negara ini. Tentu saja kita berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ahok atas keikhlasan dia dalam menjalani proses hukum. Lha wong mati demi menegakkan kebenaran dia aja siap kok apalagi hanya berurusan dengan hukum, statement itu sering kita dengar dari Ahok kan. Mungkin ini yang bikin musuh politik yang bermental kardus itu menjadi panik dan sangat bernafsu untuk mengkriminalisasi Ahok.

Saya kira keputusan untuk menjadikan Ahok sebagai tersangka juga bukan perkara mudah bagi Polri, seperti yang dikatakan oleh Kapolri, ada perbedaan pendapat/dissenting opinion dikalangan penyidik. Ini mungkin kasus terberat bagi Polisi dalam mengambil keputusan sepanjang tahun 2016. Diakui atau tidak, tekanan dari ormas yang melakukan demonstrasi 411 yang lalu memberikan pengaruh terhadap hasil pemeriksaan Polri. Semoga yang seperti ini tidak menjadi preseden buruk bagi penegakkan hukum di Indonesia, cukup Ahok jadi martir dari biadabnya ormas berjubah. Kabar terakhir status Ahok pun belum menjadikan mereka puas karena masih ada tuntutan untuk menahan Ahok. Padahal kalau dipikir jumlah umat Islam yang tidak tersinggung karena ucapan Ahok saya pikir jauh lebih besar daripada mereka yang tersinggung. Artinya umat yang sehat secara rohani pasti tidak akan mudah tersinggung, diprovokasi mah sudah biasa. Apa mau dikata ternyata masih ada diantara umat Islam yang sebenernya menjalankan agama tanpa memahami substansinya, ya maaf, mereka hanya menjalankan ritual dan pemuja simbol ke-Islaman saja. Coba bandingkan saja dengan penistaan yang dilakukan oleh Mustofa Nahrawardaya dan Hafidz Ari terhadap saudara kita kaum Nasrani lewat akun twitternya, jauh lebih provokatif dan berbahaya bagi persatuan dan kebhinekaan Indonesia, silakan cek sendiri di akun mereka. Apa karena yang dinista adalah kaum minoritas lalu mereka bebas saja dari jerat hukum ? Saya punya screen capture nya tapi tidak saya share disini, karena isinya sangat sensitif sekali, nanti nasib saya seperti Buni Yani.
Hanya orang bego saja yang berpendapat bahwa kasus yang menimpa Ahok adalah murni kasus penistaan agama tanpa melihat ada indikasi keterlibatan aktor intelektual dalam menjegal laju Ahok dalam pilkada Februari nanti. Apalagi mengingat elektabilitas Ahok masih unggul dibanding dengan paslon yang lain. Dalam berpolitik singkirkan dulu masalah baik dan buruk, sepanjang untuk cita-cita berkuasa kebaikan bisa dipelintir sedemikian rupa menjadi sebuah keburukan. Dan manusia tidak pernah ada yang sempurna, Ahok dengan pola kepemimpinannya memang sering menimbulkan resistensi bahkan dari orang yang dipimpinnya. Kita tidak usah cerita resistensi dari lawan politiknya, waktu seminggu tidak akan cukup bagi mereka untuk mencela Ahok. Semoga kejadian ini akan menjadikan Ahok lebih mawas diri, semua bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan statement yang menyakitkan kok pak. Bekerja dalam diam akan lebih terasa dampaknya, tanpa banyak mengumbar kata-kata kasar, tegas tidak berarti keras kan pak. Jokowi bisa dijadikan contoh buat anda, diam tapi menusuk dan saya kira itu lebih bijaksana. Tanpa bicara kasar saya kira orang seluruh Indonesia bisa ngerti gaya kepemimpinan dan kejujuran yang coba bapak terapkan. Dan saya yakin dengan cara seperti ini resistensi terhadap bapak akan berkurang, bapak tentu akan mudah diterima disemua kalangan dan polarisasi tidak akan terjadi. Yang harus bapak sadari bahwa masyarakat kita belum bisa menerima perbedaan, apalagi menyangkut agama dan ras, itulah kenapa Al Maidah 51 jadi muncul ke permukaan. Surat Al Maidah ini memang jadi favorit para politisi untuk menghabisi lawan politik dan populer sekali saat musim pilkada seperti saat ini. 

Bicara tentang aktor politik seperti yang diindikasikan oleh Presiden, kita tentunya sudah mahfum, saya ndak akan ngomongin ini karena sudah banyak bertebaran indikasi siapa sebenarnya aktornya.. Dan kita mestinya harus maklum bagaimana sang aktor sedang melakukan perjudian dan itu harus dimenangkan dengan berbagai cara. Cara memenangkan perjudian dan pergerakan dari lawan politik ini yang mungkin tidak terbaca oleh tim Ahok-Djarot karena bisa jadi merasa sudah diatas angin dibuai oleh keunggulan dalam survey, faktanya mereka kesandung. Untung saja pasal yang disangkakan terhadap Ahok masih memungkinkan dia untuk tetap maju sebagai cagub. Sekarang adalah kewajiban para relawan, timses dan orang yang terkait didalam tim pemenangan Ahok untuk meyakinkan para calon pemilih bahwa status tersangka tidak lantas berarti Ahok bersalah karena banyak yang tidak memahami ini. Saya suka dengan statement mas Budiman Sudjatmiko bahwa PDIP akan lebih militan lagi dalam mendukung, seperti banteng ketaton dan sejarah sudah membuktikan. Walaupun ber tagline partainya wong cilik, tapi saya yakin basis massa Ahok di DKI tidak hanya wong cilik, banyak juga intelektual dan kaum muda pro Ahok, kerja PDIP akan lebih berat karena yang diyakinkan adalah wong cilik yang notabene mudah dipengaruhi oleh stigma negatif. Upaya untuk memberikan stigma negatif terhadap Ahok oleh lawan politik adalah sebuah keniscayaan. Inilah yang harus di counter, kondisi saat ini yang dilakukan hanya bisa bertahan untuk tidak dijadikan bulan-bulanan.
Kalau masih saja ada yang keukeuh bahwa Ahok bersalah karena menistakan agama sesuai dengan statement MUI ya silahkan saja. Dari dulu saya tidak pernah menganggap MUI sebagai institusi sakral, walaupun sampai sekarang oleh sebagian orang masih dianggap sebagai rumah besar para ulama untuk dimintakan fatwa. Siapa bisa menjamin independensi MUI dari urusan politik praktis ? Okelah kalau selama ini dijadikan rujukan untuk memutuskan jatuhnya awal ramadhan dan hari raya, tapi ketika ada ormas yang tidak setuju toh mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Abaikan saja ormas nggak jelas ( kata Gus Mus ) satu ini, ditambah lagi Wasekjennya, yang terlihat Islami sekali komplit dengan jubah dan sorban putih dikepalanya pernah salah saat menghukumi dengan ayat, ulama tidak pernah salah ? Afa laa ta'qiluun ?

( Ini link beritanya http://jurnalindonesia.id/membongkar-kadar-keilmuan-wasekjen-mui-tengku-zulkarnain/ )

Kita akan menjadi saksi sejarah akan seperti apa MUI kedepannya setelah hanyut dalam politik praktis, jadi tunggangan ormas dan parpol serta dijadikan alat untuk melahirkan fatwa-fatwa aneh dan tidak berkelas. Pernah dengar MUI memberikan fatwa haram terhadap pembuatan polisi tidur dengan alasan membahayakan pengendara kendaraan bermotor ? Serius ini terjadi di Kalimantan. Dan belum lama ini juga memberikan fatwa haram terkait penunjukan Kapolda Banten yang beragama Nasrani, gendeng !! 

Saat ini saya lebih suka mendengarkan ceramah Kyai Anwar Zahid ketimbang omongan tidak jelas yang sumbernya dari MUI, maaf saja. Saya hanya mengkritisi MUI, tidak bermaksud untuk menghujat sama sekali, wajar kan, apalagi mereka juga mendapat kucuran dari APBN via Kemenag, disitu kan juga ada duit saya dan duit kalian yang dianggap kafir oleh sebagian ulama di MUI, hormat dan takdzim saya kepada Kyai Ma'ruf Amin sebagai ketuanya.
Akhirnya saya harus menyampaikan ini kepada para pendukung Ahok di DKI, ini adalah momentum untuk kita semua berkontemplasi dan introspeksi, dukunglah Ahok dengan cara yang sehat tanpa harus menghujat, apalagi dalam kondisi seperti ini. Beberapa bulan sebelum kasus ini bergulir kalian sudah sangat percaya diri hingga perlahan popularitas Ahok mulai menurun dan sekarang berada dalam titik paling kritis. Masih ada waktu untuk merubah cara dukungan kalian sehingga bisa lebih diterima oleh masyarakat tanpa terkesan arogan. Ingat, untuk kampanye saja sekarang Ahok sering mendapat ganjalan, ini PR besar. Sejenak lupakan materi, ada orang baik yang sedang dikriminalisasi dan butuh dukungan untuk kembali meraih simpati. Jangan sampai bikin ulah yang justru menimbulkan antipati warga DKI. 

Selamat berjuang semoga Tuhan memberkati.

Wawancara Imajiner dengan AHY

(Foto:detikNews)
Seminggu setelah berhasil mewawancarai Ahok di mobil saat akan berangkat meresmikan RPTRA di Jakut kemudian aku bergabung dengan wartawan yang akan melakukan liputan di Puri Cikeas, dari namanya sudah terdengar serem kan, Puri. Seperti cerita-cerita klasik tentang nenek sihir. Target saya kali ini adalah Agus H Y, cagub yang diusung rame-rame ini, (buset jadi inget keranda), memang relatif masih muda, tapi itu sah saja. Usia dan pengalaman tidak jadi masalah tergantung siapa yang membawa, Prananda Surya Paloh calon wagub Sumut yang konon akan dipasangkan dengan Maruarar Sirait juga kan masih muda. Lain kesempatan saya juga harus bisa wawancara dia juga. 

Masih pagi saat aku tiba di Cikeas, tapi kesibukan sudah mulai terasa. Tim sukses, wartawan dan nampak pula beberapa anggota DPRD dr fraksi pengusung AHY terlihat mondar-mandir, gak tau memang sibuk atau biar terlihat sibuk. 

Saat sedang jalan berkeliling halaman aku melihat seorang yang tidak asing, sosok tubuh yang sedikit kurus, berwajah agak kusut, dihiasi beberapa lembar kumis dibawah hidung,  serta warna rambut yang seperti sudah lelah diajak hidup bersama dan dipaksa menutupi kebotakan di bagian depan kepala. Dia nampak sedang sibuk membolakbalik laptop didepannya, ini laptop apa martabak ? Ternyata dia sedang mencari port utk menancapkan flashdisk di laptopnya, great. Ahli IT yang tidak tau dimana letak port flashdisk.

"Selamat pagi ndoro Roy...", aku coba sapa dia. 
"Pagi dek, lho njenengan disini to sekarang, ayo duduk sini." 
"Iya, keliatan kurusan ndoro sekarang, banyak yang diurus ya ndoro?"
"Sampeyan itu senenge mesthi ngono, ki sakjane ngalem opo sinis?"
"Lhooo, kan bener to njenengan itu dimana2 ada lho ndoro, sampek saat sidang jessica aja ada kok." 
"Lho lha jadi politisi ki yo kudu ngono to dek, harus selalu eksis !"
"Gitu ya ndoro, tak pikir sudah kapok setelah tidak terpilih dalam pileg kemarin." 
"Hallaahh, mulaiiiii....terus aku bisa bantu apa dek buat njenengan, kebetulan aku didapuk jadi tim pemenangan AHY divisi IT, sangar to dek."
"Juwooossss ndoroo, nganu lho ndoro, bisa ndak ya saya di agendakan khusus utk wawancara dengan mas AHY ?"
"Wah yo bisa banget to dek, lha dari kemarin saya minta beberapa media untuk wawancara eksklusip sama mas AHY ndak ada ya yang mau je... Etapi nganu yo dek, pertanyaan2nya biar kita yang susun, ini demi stabilitas nasional jelang pilkada lho dek."
"Ooo lha ndhasmu njeblug", batinku.
"Piye dek, deal...?" 
"Begini lho ndoro, saya kira mas AHY itu kapasitasnya sudah mumpuni untuk menjawab pertanyaan2 wartawan tanpa settingan...buktinya waktu di Mata Najwa kemarin dia bagus kok, dan sekelas mbak Nana nggak mungkin mau diatur untuk mengajukan pertanyaan yang telah di setting to ndoro", aku coba meyakinkan ndoro Roy. Padahal kita semua tahu betapa pucatnya AHY waktu diberondong pertanyaan oleh Najwa Shihab, jurnalis cantik dan cerdas seluruh dunia. Jadi ingat, dulu Kick Andy Show pernah membatalkan liputan tentang SBY karena mereka mengajukan syarat serupa dengan alasan menciptakan suasana kondusif pra Pilpres. 

"Gini aja dek, besok kita ada acara dengan teman relawan, sampeyan tak kondisikan bisa wawancara dg beliau, tapi sebelumnya aku mesti minta ijin pak beye dulu, aku ndak enak kalau mendahului pak beye dek, lha pangkat saya kan cumak gedibal, nanti malam tak telepon ya."
"Siap ndoro, gitu tooo, tak jamin ndak ada pertanyaan sing nganyelke lah..."
"Ojok too,  demi stabilitas nasional lho dek, yowes sampe besok ya dek."
Aku bangkit dari duduk sambil menyalami tangan ndoro Roy.

Keesokan harinya aku berangkat lagi ke Puri Cikeas setelah semalam di telepon ndoro Roy yang sudah mendapat persetujuan dari pak beye.

"Nak, ayah berangkat dulu ke Cikeas ya.." aku berpamitan pada anak sulungku yang sedang mengerjakan tugas mading utk sekolahnya. 
"Hati-hati ya Yah.." dia membalas sambil mencium punggung tanganku. 
Anak sholeh, persis bapaknya dulu.

Dengan mengenakan batik aku disuruh untuk menemui ndoro Roy sebelum bertemu AHY. Beda saat mewawancara Ahok yang terkesan lebih santai dengan suasana hahahihi, disini masih berlaku protokoler ala istana. Orang seperti Marno Blewah dan Agus Magelangan akan sangat sulit untuk menembus protokoler seperti ini. 

"Ayo masuk dek, sudah ditunggu mas AHY dan mbak Anissa di belakang", kata ndoro Roy. Aku mengikuti langkah ndoro Roy memasuki ruangan dalam puri. Ndoro Roy mempersilakan aku untuk duduk sementara dia memanggil mas AHY dan Anissa, istrinya. Sesaat kemudian mereka datang dengan bergandengan tangan. 
Gusti, ini mau wawancara cagub atau kader keluarga berencana mandiri sih? 

"Selamat pagi mas Agus, mba Nissa, maaf mengganggu waktu anda pagi-pagi."
"Selamat pagi mas...dengan mas siapa ya?" 
 "Eehh, saya Fauzan mas..", kataku sambil menjabat tangan mereka berdua.
"Kita mulai saja wawancaranya ya mas Fauzan, untuk mempersingkat waktu, karena hari ini jadwal kami padat sekali."
"Oke siap mas..". 
Akupun mengambil daftar pertanyaan dari saku batikku. 
"Mas Agus sudah mantap bener sepertinya nih bakal maju jadi cagub, padahal karir militer nya juga bagus lho..gak nyesel mas, lawan anda tidak mudah loh, Anies dan Ahok."
"Sebenarnya ini memang pilihan sulit mas, mas lihat sendiri kan saat saya pamitan dengan teman2 di TNI, dari situ kan sudah tergambar, jujur saya lebih nyaman berkarir sebagai anggota TNI."
"Lantas kenapa mas Agus memaksakan diri untuk bertarung dalam pilkada ini ?"
"Tadinya saya pikir Ibas sudah matang dalam dunia politik bersama Demokrat, nyatanya dia masih belum bisa berbuat apa2 untuk meneruskan kepemimpinan pepo."
"Maaf, pepo ??" 
"Pepo itu panggilan sayang suami saya kepada pak SBY", timpal Nissa. 
"Ooooooh...", aku ngowoh.
"Iya mas, saya juga sebenernya menyayangkan keputusan suami saya, tapi the show must go on walaupun harus berdarah-darah", sambung Nissa lagi. 
"Tapi optimis kan mas, banyak partai yang dukung Anda loh."
"Halah mbel, mereka dukung kan karena pada ndak punya kader. Apalagi masih ada kekhawatiran dengan PPP, lha kalau pemerintah mengesahkan kubu Djan Faridz kan kita habis mas, berapa sisa kursi kita, apalagi PAN yang hanya punya 2 kursi tapi ngomongnya paling keras. Sebenernya saya masih belum nyaman."
"Artinya sebenernya belum mateng ya mas koalisinya, lha kok terus mas Agus menyanggupi ?"
"Yang menyanggupi ki sopo mas ? Lha wong saya saat itu lagi di Darwin terus ditelpon disuruh pulang."
"Lho, bukannya kepulangan mas Agus dalam rangka pilkada, emang pepo bilang apa saat telpon mas Agus ?" Aku makin penasaran. 
"Yang telpon itu bukan pepo mas, tapi istri saya Anissa, dia bilang kangen, yo saya pulang. Setelah saya sampai dirumah sudah banyak sekali orang menunggu, tiba-tiba saja disitu saya dicalonkan."   Lho piye to kikk...aku melipat kertas rangkaian pertanyaan yang sedianya akan aku ajukan.
"Ada pertanyaan lain mas Fauzan..?" AHY kini berubah suaranya menjadi ngenes.
"Ngene wae mas, wis njenengan crito opo wae tak rungokne, aku sakne ro njenengan".
"Oh ya, gimana hubungan njenengan dengan mas Ibas?" 
"Itulah mas, gegara pilkada ini juga hubungan saya dengan Ibas jadi tidak kondusip, biasanya dia dan istrinya sering njajakke anakku, sekarang jadi ndak pernah lagi, bbm saya di delcont, wa saya di blok, fb di unfriend, twitter di unfoll, sedih aku mas".
Yooongalah, iki sedulur opo mantan ? Kok kabeh di blok ??
"Iya betul mas fauzan, padahal istrinya ibas masih punya banyak hutang, piye coba mas", timpal Anissa. 
"Hutang apa kalau boleh tau mba ?"
"Hutang puasa mas......." 
"Asuuu....." batinku.
"Ya gimana ya mas Agus, menurut saya semua sudah terjadi, sekarang tinggal njenengan fokus aja ke pencalonan. Masih bersyukur njenengan banyak yang mencalonkan dan punya istri yang cantik. Saya punya teman namanya sama seperti njenengan, jangankan istri cantik, calon aja nggak ada."
"Maksud mas fauzan, Agus Magelangan ?" kata mas AHY sambil tertawa. Aku manthuk.

Begitulah akhirnya acara wawancara berubah jadi ajang curcol seorang cagub. Di akhir sesi AHY tiba-tiba bertanya, 
"Oh ya Mas Fauzan ini dari media apa ya, kok saya dari tadi nggak melihat kartu pers nya?"
"Nganu og mas, saya ini sebenernya kan cumak kontributor mas."
"Kontributor untuk media apa ya mas?"
"Kontributor Mading sekolah anak saya mas...."
"Wooooooooo.....kereeeeee..!!"

Wawancara Imajiner dengan Ahok

Wawancara Imajiner Dengan Ahok 

( foto: netralnews.com)

Sebagai wartawan yang ditugaskan meliput dinamika politik di DKI aku mencoba untuk menembus pintu birokrasi supaya bisa sekedar kenal dengan para bakal calon gubernur yang belum lama ini mendaftar di KPUD dengan dukungan mesin partai. 
Sebelumnya aku lebih sering meliput tentang gosip artis saat masih magang sebagai wartawan. Setelah hampir setahun melakukan peliputan di balaikota akhirnya dengan perjuangan yang tidak mudah aku berhasil melakukan wawancara eksklusif dengan ketiga calon dalam kesempatan yang berbeda. Dari ketiga cagub akses yang secara mudah didapatkan justru saat mewawancara Ahok. Mungkin karena sudah familiar dimata beliau, bahkan aku ditelepon secara pribadi oleh beliau tanpa lewat ajudan, apalagi relawan !! 

"Hello mas Fauzan udh bangun belum, ayo ikut peresmian RPTRA bersama saya, ada Sophia Latjuba juga looh.." kata Ahok lewat telepon di suatu pagi. 

"Oke Pak Ahok, siappp, jam berapa rencana berangkatnya ? Biar saya bisa bergabung dengan rekan wartawan lain saja" balasku sambil menghisap sebatang rokok. 

"Lho nggak usah sama wartawan lain, anda nanti berangkat satu mobil dengan saya dan Sophia, katanya sekalian wawancara, setelah menemui warga didepan balaikota kita langsung berangkat ya." Ahok menjelaskan lagi. 

"Tapi bukannya di mobil biasanya bapak juga bawa relawan ?" balasku 

"Ck ah nggak penting itu, mereka nanti saya suruh pakai kendaraan lain saja, mereka sekarang sudah nggak terlalu dibutuhkan sebenarnya, apalagi sering melakukan blunder, hahahaa..." Ahok ketawa. Kampret juga ni orang, batinku.

"Gitu ya pak, oke pak saya siap-siap dulu ya, nanti segera meluncur ke balaikota" 

"Oke mas Fauzan, saya tunggu ya...," kata Ahok mengakhiri pembicaraan subuh lewat telepon itu. 
Pagi itu jam 7 aku sudah siap di balaikota lengkap dengan properti dan atribut sebagai wartawan. Seperti biasa sebelum melakukan kegiatan Ahok selalu menyempatkan diri bertemu dengan warga yang sudah antri didepan balaikota, mulai dari yang sekedar ingin bersalaman sampai dengan warga yang minta keringanan atau bantuan untuk berobat sanak familinya. Saat itu juga Ahok bisa mengambil keputusan setelah berkoordinasi dengan dinas terkait. Belum pernah ada gubernur seperti ini di daerah manapun di Indonesia,  ini luar biasa. Agak heran ketika masih ada saja elemen masyarakat yang menolak dipimpin oleh Ahok hanya karena dia bukan muslim dan keturunan Tionghoa, alasan yang sangat absurd kalau tidak mau dikatakan goblok. 

Setelah usai melayani warga Ahok menghampiriku, "Maaf ya agak lama menunggu, hari ini banyak warga yang harus dibantu", kata Ahok sambil menyalami saya. "Oh ya kenalin, ini mba Sophia Latjuba yang hari ini juga akan menyertai kita meresmikan RPTRA" kata beliau melanjutkan. "Hai mba Sophie, cantik sekali anda hari ini, tepatnya setiap hari sih,hehe" kataku. "Hallo mas Fauzan, senang berkenalan dengan anda, pagi-pagi sudah modus aja" kami bertiga tertawa. "Ayo kita berangkat.." kata Pak Ahok sambil memanggil sopirnya. 

Tak berapa lama kami sudah berada di mobil, aku dan pak Ahok duduk ditengah dan Sophia Latjuba duduk di depan. Pak Ahok sendiri yang ngatur seperti ini, mungkin beliau ingin mempermudah proses wawancara, atau jangan2 dia nggak rela aku berduaan dengan Sophia Latjuba di seat tengah ? Hahahaaa...

"Bagaimana pak Ahok bisa dimulai wawancaranya ?" kataku sambil menyiapkan hape untuk merekam.

"Silakan, mau mulai darimana ?" balas beliau. Akupun membuka catatan yang sdh disiapkan. 

"Kenapa Pak Ahok akhirnya memutuskan untuk maju jadi cagub lewat jalur parpol, banyak pendukung bapak yang kecewa loh pak", tanyaku memulai wawancara.

"Baiklah mas Fauzan walaupun pertanyaan ini sdh seringkali diajukan tapi khusus untuk mas Fauzan akan saya jawab secara lebih detil.."

"Loh berarti sebelumnya tdk dijawab secara detil pak ? 

"Bukan begitu, tapi dlm kesempatan ini akan saya jelaskan secara gamblang, paham ya mas" jelas Pak Ahok

"Oke pak, sebuah kehormatan buat saya" 
"Begini mas Fauzan, anda kan tahu sendiri saya itu paling nggak enak untuk menolak, saat itu ada sekumpulan anak muda yang saya tahu niat mereka baik untuk mendukung saya, daripada mengecewakan mereka ya saya terima saja dukungan mereka". "Kalau mas fauzan berada pada posisi saya pasti akan melakukan hal yang sama kan". 

"Menurut Bapak, sejauh mana sih peran relawan terhadap program Pak Ahok yang sedang dikerjakan saat ini?" 

"Saya sih membebaskan untuk melakukan apapun yang mereka mau, mereka juga memiliki Jakarta kan, tapi kadang ada saja yang melampaui batas." 

"Maksud bapak melampaui batas seperti apa ya ?" 

"Mas Fauzan ini seperti nggak pernah main twitter aja ya mba Sophia, hahaha.." pak Ahok dan Sophia tertawa bersama. 

"Oh kalau itu saya juga tahu pak, tapi memangnya apa yang mereka lakukan di medsos berpengaruh ya terhadap elektabilitas pak Ahok ?" 

"Ya pengaruh tetap ada, saya sering koordinasikan ini dengan relawan, tapi sepertinya belum ada perubahan ya, gak tau saya juga jarang lihat medsos kecuali untuk hal yang penting saja". "Malas juga rasanya baca mention yang kadang lebay gitu walaupun datang dari pendukung saya".

"Apa bapak juga tahu ada yang menunggangi relawan untuk kepentingan bisnis mereka?" "Bahkan ada lho yang dulu jadi haters, terus tiba-tiba sekarang jadi relawan..."

"Ya kalau itu sudah bukan rahasia lagi mas, tapi yang perlu dicatat, saya samasekali tidak ada urusan dengan bisnis mereka, itu untuk kepentingan mereka sendiri, sebenarnya dalam hal ini mereka jual nama saya, begitu kan ya mas?"  "Iya pak...," tukasku.

"Tapi nggak papa mas, sepanjang tidak merugikan saya. Jaman sekarang mas, orang cari duit kan nggak mudah, silakan saja manfaatkan saya, tapi kalau bisa ya mbok jangan lebay gitu ya, hahaha..." kami bertiga tertawa. 

"Hubungan Pak Ahok dengan Dhani gimana, dia bersama Ratna kan paling militan dalam melawan bapak?"

"Loh kalau saya kan pelayan masyarakat, saya ndak perduli mereka senang atau tidak kepada saya, ngapain saya harus menghabiskan energi untuk ngurusin Dhani sama Ratna yang tuntutannya nggak jelas, kalau Ratna dari dulu ya emang begitu, mana pernah dia berada di pihak pemerintah ?" Biarkan para relawan yang mengurus mereka, kalau saya tetap fokus kerja aja, toh masih banyak publik figur yang mendukung kebijakan saya, contohnya yang duduk didepan saya ini", lanjut pak Ahok nyengir sambil mengerlingkan matanya. 

"Artinya relawan ada gunanya juga ya pak..?"

"Ya lumayanlah, untuk urusan-urusan yang nggak penting seperti itu mereka bisa diandalkan", kata Ahok sambil tersenyum.

"Tanggapan bapak terhadap video di kepulauan seribu dan demo FPI kemarin gimana pak?" 

"Begini ya mas, mas fauzan sudah melihat secara utuh video aslinya kan ?"  "Saya kira anak lulusan SD aja tahu apa makna dari video itu, nah kalau kemudian video itu beredar setelah diedit dan jadi ramai ya mestinya yang disalahkan yang nyebarin dan ngedit dong, logikanya kan begitu". "Dalam hal ini saya justru sebagai korban fitnah, kok malah saya yang harus diperiksa dengan alasan penistaan agama, bukan begitu mbak Sophie.."  Sophia mengangguk seolah teringat kasus yang pernah menimpa Ariel, kekasihnya.

"Tapi MUI juga menjatuhkan fatwa bahwa bapak bersalah loh pak," tanyaku kemudian.

"Iya, tapi mereka tidak pernah meminta klarifikasi kepada saya, mestinya kan ada tabayyun dulu, kan seperti itu yang diajarkan  oleh Islam dalam menyelesaikan masalah".

"Bapak ini seperti ngerti Islam saja, kan bapak Nasrani", pancingku.

"Hahaha, apa ada jaminan orang yang beragama Islam juga tau Islam, maaf sekali kalau saya bilang seperti ini, kebanyakan kan hanya KTP karena mereka lahir dari orangtua yang beragama Islam. Jangan salah mas, orang Yahudi dan Nasrani yang lebih tau agama Islam daripada pemeluk Islam juga banyak, itu karena mereka nggak diharamkan belajar tentang agama diluar keyakinan mereka mas". Pancinganku dimakan telak sama Pak Ahok. 
Tidak terasa perjalananku sudah sampai di lokasi peresmian RPTRA dibilangan Jakarta Utara. 

"Sudah sampai mas, saya harus bekerja dulu, lain kali kita sambung sambil kita makan, kali ini mas fauzan makan sendiri aja ya, saya nggak bawa duit buat nraktir, hahaha...". 

"Insha Allah lain kali saya traktir mas fauzan..." kata Ahok mlengeh..

"Insha Allah ? Apa itu artinya pak, emang tau ?" 

"Gak harus tau artinya, tapi saya tau pasti ada kebaikan dibalik kata itu kan...?"

"Oke pak saya tunggu undangannya, jangan cuma relawan aja yang diajak makan, kami wartawan juga punya kontribusi loh dalam membesarkan nama pak Ahok".  

"Siap mas, salam ya buat teman-teman.." kata Ahok mengakhiri wawancara.
Wawancarapun berakhir dan Ahok janji akan menelepon saya lagi pada kesempatan lain. Sayapun turun dari mobil dan bersalaman dengan Pak Ahok dan Sophia Latjuba, duh senyumnya....

#NgAhok

​Sebenarnya dari awal aku sudah niat untuk tidak nulis tentang Ahok dan kaitannya di pilkada DKI. Tapi setelah nonton ILC di TV One dan melihat kebringasan ulama akhirnya niat awal itu jadi berubah. Bahasan tentang Ahok tidak akan pernah berhenti mungkin bahkan saat Ahok sudah tidak bernyawa lagi. Gubernur DKI yang melanjutkan kepemimpinan Jokowi yang terpilih menjadi Presiden RI ini memang luar biasa. Asu tenan kalau pake bahasaku.
Buat aku Ahok itu fenomenal, terlepas dari caranya yang sering mengundang kontroversi. Mungkin bagi kebanyakan masyarakat Indonesia cara Ahok yang terlalu frontal memang cukup mengagetkan. Siapapun dilawan, jangankan DPRD, partai yang jadi kendaraannya saja dia tinggalkan. Ini benar-benar anti mainstream. Tidak heran jika banyak politisi menjadikan Ahok sebagai sasaran tembak apalagi bagi politisi Gerindra. Bagi mereka Ahok seperti tidak pernah ada nilai plus nya, asal berhubungan dengan Ahok dipastikan salah. Kebijakan populer seperti menutup diskotik aja masih dinyinyiri sebagai pencitraan, apalagi kalau ada penggusuran. Kelihatan sekali partai ini tidak lain adalah sekelompok orang sakit hati karena merasa dikhianati kadernya. Apesnya kader Gerindra yang lantang melawan Ahok sekarang tersandung proses hukum terkait proyek reklamasi, gimana tidak tambah panas. Bagi Gerindra Ahok adalah #1 enemy.
Maka yang terjadi sekarang adalah segala cara akan mereka lakukan untuk menjegal Ahok untuk berkuasa lagi di DKI. Seperti sudah diduga sebelumnya, mereka pasti akan menggunakan isu SARA. Sosok Ahok sangat seksi untuk ditembak dengan isu ini, dia bukan pemeluk Islam dan dari etnis Tionghoa, pas sekali. Ingat dong saat Pilpres, Jokowi yang jelas Islam saja difitnah sampai berdarah-darah lewat media bayaran mereka 'Obor Rakyat' apalagi Ahok yang sipit dan bukan muslim, (Aku lebih suka memakai istilah bukan muslim daripada non muslim, kalau istilah non muslim kok sepertinya hanya muslim saja yang diakui eksistensinya di negara ini, sementara yang lain hanya sekedar numpang dan jadi obyek penderita).

Gerindra dan PKS seperti duo serigalayang saling melengkapi, aku sendiri heran basis massa yang memilih dua partai narcist ini dari kalangan apa, kecuali PKS yang siapapun tahu bahwa mereka membawa faham wahhabi yang sekarang subur tersemai di negara ini. Tentu saja partai ini memiliki basis masa yang jelas, Wahhaboys ! Ulamanya sering mengusung isu khilafiah untuk memecah belah umat   (ingat Tengku Wisnu saat mengharamkan mengirim al fatihah kpd org yg sdh meninggal). Gampang sekali melabeli bid'ah, sesat dan kafir hanya berdasar terjemahan ayat. 

Melihat Prabowo sebagai figur ketumnya mungkin saja fans Gerindra adalah mereka yang bercita-cita melanjutkan hegemoni orde baru yang dikomandani oleh mantan mertuanya. Ketambahan disitu ada Fadli Zon yang saat Suharto digoyang dia lantang memberikan penolakan. Orde Baru men, masa kegelapan bangsa Indonesia ditindas tirani penguasa dan keluarga serta kroninya. 

Kita juga tidak bakalan lupa bagaimana mereka menghire lembaga survey bernama Puskaptis untuk mengelabui masyarakat seolah merekalah pemenang Pilpres 2014, diantara lembaga survey yang lain Puskaptis merelease hasil Prabowo sebagai pemenang pilpres, tapi setelah diminta konfirmasi tentang metode dan data survey mereka menghilang, untuk menutupi jejakpenghire tentu saja !! Begitulah, fitnah dan tipu daya sudah jadi jargon politik dua sejoli ini untuk berkuasa. Sampai ada sebuah satire di kalangan netizen,lebih baik di cap sebagai kader PKI daripada dituduh sebagai kader PKS. 
Statemen Ahok tentang Al Maidah 51 tentu saja menjadi konsumsi yang sangat empuk. Sebenernya asal keluarnya ayat ini sendiri juga dari pihak mereka sebagai justifikasi pelarangan memilih orang yang bukan dari golongannya untuk dijadikan pemimpin(terjemahan awliya=pemimpin ini hanya ada dlm versi bahasa Indonesia).Ndilalahnya Ahok bereaksi, orang waras pasti mahfum apa yang dinyatakan Ahok pasti bukan untuk melecehkan ayat apalagi agama. Bagi yang berkepentingan terhadap pilkada ya jelas ini jadi konsumsi, didukung lagi oleh wahaboys yang dari jidatnya aja sudah terlihat anti toleransi dan pluralisme.
Disela kekisruhan ini muncullah MUI, taraaaaa... Lembaga bentukan pemerintah yang sampai hari ini gak jelas maksud dan tujuannya kecuali sebagai lembaga pemberi stempel halal yang dihuni oleh orang-orang yang paling merasa suci dunia akhirat !! Dan setelah melakukan tabayun dengan logika bodoh mereka, kemudian memberikan fatwa bahwa Ahok bersalah, aku katakan tabayun logika bodoh karena proses tabayun tidak melibatkan Ahok sebagai obyek nya. Ini lebih wahabi dari yang paling wahabi. Bahkan setelah Ahok meminta maaf masih saja dikejar niat dan motif minta maafnya. Pekok nggak sih ? Iki ulama cap uooopooohhh ?? 
Semoga, ya semoga saja sengatan yang diucapkan Nusron Wahid dalam forum itu bisa menjadi pelajaran bagi manusia-manusia seperti Dani, Fadli, Tengku Zulkarnain dan ulama-ulama  yang haus darah. "Seringnya konflik yang terjadi di dalam agama Islam ini kalau bukan karena salah paham ya karena paham yang salah" !!! Bahwa kebenaran hanyalah milik Tuhan, bukan milik segelintir ulama di MUI. Bahwa niat yang ada didalam hati hanya bisa diketahui oleh si empunya niat dan Tuhan. Jadi bego aja kalau ada orang yang mau menyelidiki niat, memangnya dia apanya Tuhan ?? 
Sekian.

Negeri Para Pemarah

(Foto: Republika.co.id)

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, tonggak bersejarah bagi bersatunya semua elemen di NKRI kini hanya menjadi seremoni tanpa makna. Bangsa yang semestinya semakin besar dengan keanekaragaman ini terlihat seperti semakin bebal dan goblog dalam menghadapi perbedaan. Menyakitkan menerima kondisi yang seperti ini apalagi bagi mereka yang ikut memperjuangkan kemerdekaan negeri. Apa sebenarnya yang terjadi dengan negeri ini ?  

Semakin banyak kaum terpelajar tidak lantas membuat bangsa ini menjadi bertambah pintar, faktanya kita seperti mengalami kemunduran berabad-abad. 

Banyak nya ulama, ustadz dan rohaniawan tidak membuat bangsa ini menjadi semakin religius tapi malah menjadi brutal seperti abad pertengahan. 

Berakhirnya era represif bernama Orde Baru disertai lahirnya era reformasi juga tidak otomatis menjadikan bangsa ini menjadi lebih maju dalam peradaban. Bahkan tokoh-tokoh yang membidani reformasi sekarang ini ikut larut dalam ketidaktentuan arah. Era yang digadang-gadang akan menimbulkan demokrasi yang lebih baik dan menimbulkan optimisme malah seperti jadi ajang pertarungan politik para elit dalam berebut kekuasaan. Rakyat seperti mainan yang ditendang kesana kemari dengan berbagai bentukan opini, negara ini semakin tidak jelas arahnya. Tatanan budaya dan kultur peradaban yang sempat menjadi ikon Indonesia di mata dunia hilang entah kemana, berganti dengan sikap saling curiga mencurigai antar kelompok, golongan bahkan individu. 

Euforia demokrasi menjadi tak terkontrol bahkan kebablasan. Orang jadi bebas berpendapat sesuka hati tidak perduli dengan azas kebenaran. Masyarakat yang satu idealisme bebas membentuk organisasi, bahkan partai politik, tanpa perduli lagi dengan ideologi yang berlandaskan azas Pancasila, ideologi yang menjadi semangat kebersamaan dalam membangun bangsa ini. Dengan dalih kebebasan berpendapat dan berlindung dibalik hak asasi beberapa orang mendirikan kelompok yang pada masa orde baru sama sekali tidak berani menampakkan hidungnya. Semua bebas bicara, semua bebas berpendapat, hal itu sah saja sepanjang tidak memaksakan apa yang menjadi ideologinya untuk dijadikan solusi bersama. 
Yang terjadi adalah beberapa kelompok yang kemudian menjadi radikal berusaha untuk memaksakan apa yang diyakininya untuk dijadikan solusi hidup bernegara. Alih-alih menjadi patriot pembela negara mereka justru berperang bagi negara lain atas dasar kesamaan ideologi, bukankah mereka pengkhianat bangsa ? Dengan dalih pemurnian agama, lengkap dengan dalil yang diambil dalam kitab suci, mereka mencoba masuk kedalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka seolah membutakan mata bahwa Indonesia adalah multikultur dengan aneka ragam adat dan budaya. Dalam terminologi ini mereka tidak ada bedanya dengan fasisme Nazi yang menginvasi dengan dalih pemurnian RAS. Isu tentang agama menjadi santapan yang lezat untuk mereka kunyah, apa yang tidak sesuai dengan ideologi versi mereka akan dibabat habis. Budaya menjadi sesuatu yang diharamkan karena tidak sesuai syariat yang mereka yakini. Stigma sesat, kafir dan sebagainya menggema di bumi Nusantara !! Wajah Islam berubah menjadi wajah pemarah, marahlah dan bagimu sorga !! Anomali...
Memprihatinkan memang ketika terjadi pembiaran, yang terjadi mereka justru merasa mendapat legitimasi untuk melakukan aksi kemarahannya. Lebih prihatin lagi aksi seperti ini jadi tunggangan parpol yang menjadi oposisi. Seolah parpol sudah tidak lagi mempunyai ideologi, kecuali ideologi waton suloyo, yang penting beda. Apa yang bisa diharapkan dari parpol semacam ini ? Kekalahan saat pemilu bagi mereka merupakan aib yang harus ditebus dengan aksi-aksi menentang pemerintah tidak hanya di parlemen tapi sampai ke jalanan. Simbol-simbol keagamaan yang mewujud dari seorang Ustad, Habib dan mereka yang berjubah dijadikan tameng dan pembenaran atas sebuah aksi provokasi. Bahkan pejabat setingkat wakil ketua DPR sekarang getol memprovokasi melewati akun sosial media, apa jadinya jika orang seperti ini mengendalikan pemerintahan ?
Beruntung bangsa ini pernah melahirkan putra-putra terbaik yang mendedikasikan hidupnya untuk keutuhan NKRI dan diteruskan oleh generasi setelahnya. Tak kurang dari KH.Hasyim Asy'ari kemudian diteruskan oleh KH.Wahid Hasyim dan dilanjutkan lagi oleh KH.Abdurrahman Wahid serta banyak ulama-ulama lain seperti KH.Ahmad Dahlan dan yang lainnya. Ulama besar yang juga membesarkan nama Islam di tanah air, Islam yang ramah, Islam yang tidak mudah menghakimi dan selalu bisa menghargai perbedaan pendapat bahkan dengan kalangan selain Islam. 

Bahwa Indonesia terlahir dengan berbagai macam adat dan budaya sudah tidak terbantahkan, secara spiritual bangsa ini sudah melahirkan kepercayaan seperti kejawen, sunda wiwitan dan sebagainya. Hadirnya Wali Sanga di tanah jawa dengan membawa keyakinan baru tidak pernah menimbulkan masalah karena mereka bisa melebur dengan adat dan budaya setempat. 

Tapi kenapa akhir-akhir ini semua seperti ingin merubah tatanan yang sudah dibangun sedemikian cantik oleh pendahulu kita ? 

Islam dimata sebagian orang seperti layaknya monster yang menakutkan dan penuh dengan paksaan berujung kekerasan. Proses beragama yang terjadi disertai pemberangusan terhadap budaya, sekali lagi dengan dalih pemurnian agama. Ujaran bid'ah, sesat dan kafir bahkan sudah menjadi bagian dari budaya baru. Dibarengi dengan hilangnya identitas seperti kebaya, sanggul, sarung, batik dan lurik berganti dengan burqa, kaffayeh dan jubah. Aku dan kamu berubah menjadi ana dan antum, ikhwan dan ukhti, terima kasih berubah menjadi syukron, emak dan bapak menjadi abi dan umi, seolah-olah jika tidak memakai bahasa kearab-araban ke-Islaman mereka jadi tidak kaffah, dan kita tidak sadar itu sedang terjadi. Alih-alih menyi'arkan agama mereka justru membawa budaya baru ke Indonesia. Budaya yang belum tentu sesuai dengan pluralitas disini tapi mereka paksakan untuk diterima.

Kadang tidak habis pikir dengan kaum intoleran ini, apa mereka ingin jadikan Indonesia seperti Timur-Tengah dengan konflik sektarian yang tiada henti, apakah mereka tidak bercermin pada Yugoslavia yang hancur lebur karena pembantaian etnis. Mengerikan sekali, bagaimana mungkin antar tetangga yang sebelumnya rukun kemudian saling bunuh karena perbedaan etnis dan keyakinan, dan itu terjadi disana. Agama yang seharusnya menjadi ranah privasi telah dipaksakan untuk dikonsumsi oleh publik, hanya karena mayoritas kemudian memaksa minoritas untuk tunduk tanpa berhak bersuara. Ayat-ayat suci yang semestinya dijadikan ajang introspeksi dijadikan alat berpolitik sesaat demi kepentingan untuk berkuasa. Dan ketika dikritisi yang terjadi adalah kemarahan mengatas namakan Tuhannya, ampun. Tuhan sudah diperalat atas nama kebenaran dan dikesankan kemarahan mereka adalah mewakili kemarahan Tuhan. Kalimat Takbir diteriakkan dengan penuh emosi disertai tindakan anarki. 

Aksi yang tidak lepas dari tindakan provokasi dari segelintir ulama yang anti toleransi semakin sering kita saksikan. Pancasila sebagai landasan kita bernegara mereka caci maki sebagai thoghut dan bukan solusi. 
Untung saja masih lebih banyak orang yang waras fikir dan menertawakan aksi bodoh seperti itu. Tidak kurang seperti KH.Said Aqil Siradj sudah melarang warga Nahdliyin untuk terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi. Walaupun tanpa dilarangpun sebenarnya kaum Nahdliyin sadar sepenuhnya bahwa aksi ini adalah tindakan bodoh para santri internet. Orang yang belajar Islam dari hasil googling dan menemukan dalil dari situs radikal kemudian menelan mentah-mentah tanpa tabayyun. Atau santri yang ngaji hanya dari hasil terjemahan Al-Qur'an tanpa menggunakan ilmu alat dan tafsirnya. Mungkin yang ada dalam pikiran mereka belajar agama itu seperti belajar memasak yang dengan mudah kita bisa cari resepnya di internet, tanpa proses mengaji dan mengkaji setiap ilmu yang ada serta melihat konteksnya dalam era sekarang. 
Semoga saja pemerintah bisa bertindak dengan cepat, ancaman terhadap keutuhan NKRI selalu akan terjadi, keutuhan NKRI dalam keberagaman masyarakat dan budaya adalah cita-cita bersama. Semua berhak hidup nyaman di Indonesia, sikap intoleransi hanya akan menimbulkan disintegrasi dan selayaknya untuk diambil tindakan tegas. Islam selalu berkembang dan akan selalu sesuai dengan konteks kekinian, ayat adalah hak Allah dan tafsir nya akan selalu disesuaikan dengan waktu dan jaman. Yang seperti ini tidak akan kita dapatkan dengan hanya ngaji di internet, harus ke pesantren dan ngaji dengan para ulama disana. Bukankah kita disuruh merapatkan kaki kita ke ulama, bukan ke internet ?

Sang Provokator

(Foto: Pinbrowse.com)

Kemudahan mengakses berita melalui berbagai situs yang tersebar di internet tentunya menjadi sebuah anugerah besar bagi masyarakat demokrasi khususnya di Indonesia.

Sangat berbeda keadaannya dibanding berapa puluh tahun yang lalu, untuk mendapatkan berita tanpa distorsi adalah sebuah kemustahilan. Semua kanal berita selalu dalam pengawasan pemerintah melalui Departemen Penerangan ( kemenkominfo ) dan aparat keamanan tentu saja. Para penyeru demokrasi pun dikejar-kejar sampai sembunyi dipelosok desa bahkan lari mencari suaka.

Setelah jatuhnya rezim otoriter semua informasi jadi sangat terbuka, media massa tumbuh bagai jamur di musim penghujan dan masyarakat bebas mengakses berita. Apapun konten beritanya dan darimana pun sumbernya bukan lagi menjadi sebuah pertimbangan untuk diterbitkan. Keadaan semakin tidak terkendali setelah Mark Zuckerberg menemukan Facebook disusul Jack Dorsey dkk dengan Twitter. Masalah yang terjadi kemudian banyak masyarakat yang tidak siap dengan euforia kebebasan ini. Media sosial sebagai sebuah bentuk micro blogging mungkin awalnya diciptakan sebagai sebuah alternatif untuk komunikasi dengan dunia luar. Beberapa tahun belakangan fungsinya berubah menjadi ajang bully, provokasi dan penebar kebencian.

Belum lama ini dapat inbox dari teman, sebuah chirpstory dari kultwit salah satu akun, saya sendiri nggak follow akun yang mengkultwitkan materi yang berisi tentang pilkada di DKI dan kaitannya dengan Pilpres di AS ini. Panjang sekali kultwitnya tapi diujungnya bikin saya merasa khawatir sekali dengan masa depan negara ini. Ada kekuatan luar biasa yang mencoba membenturkan rakyat Indonesia demi kepentingan elit politik di Indonesia bahkan sampai level kepentingan politik internasional. Tentunya kita semua berharap ini tidak akan pernah terjadi di Indonesia, sayang sekali kemajemukan yang ratusan tahun kita jaga jika harus hancur oleh kepentingan sesaat. Tapi ketika saya baca lagi dan melihat realita yang sekarang sedang berkembang di negara ini analisanya memang mendekati kenyataan, mengerikan sekali. Saya kok tidak bisa membayangkan negara bisa bertahan menghadapi kekuatan dari luar yang mencoba masuk lewat politik adu domba etnis dan umat beragama. Ditambah lagi dengan kebenaran beberapa prediksi bahwa DT akan memenangkan pilpres di AS, fiuuhh..semakin kacau saja. Ini adalah sebagian dari prediksi tadi,

Seperti kita tahu proses Pilkada di DKI sekarang ini memasuki masa genting, Ahok sebagai petahana dan memiliki elektabilitas paling tinggi sekarang sedang di goyang dengan kasus penistaan agama. Setelah tidak berhasil "dirusak" dengan isu Sumber Waras dan reklamasi kali ini sepertinya "peluru" itu tepat mengenai jantung Ahok. Parahnya ini adalah kasus ketersinggungan yang melibatkan umat beragama mayoritas di negeri ini, walaupun saya yakin lebih banyak umat yang tidak tersinggung karena nalar yang masih waras, tapi beberapa ulama oportunis yang memang haus pengakuan dan sedang mencari panggung, atau bahkan mungkin dibayar oleh mereka yang berkepentingan, berhasil menggoreng isu ini untuk memperkarakan Ahok ke ranah hukum. Tidak cukup sampai disitu, mereka seperti mencoba menekan, mendikte, dan mengintervensi proses yang sedang dilakukan oleh kepolisian dengan statement yang intimidatif dan provokatif. Entah berapa kali ucapan "demi memenuhi rasa keadilan dan menjaga persatuan umat jangan sampai negara ini terpecah belah oleh ulah satu orang" . Kelihatan sangat tendensius sekali, jelas sekali upaya untuk memenjarakan Ahok karena umat merasa 'terluka'. Ini jauh dari kesan ulama yang selama ini saya kenal, mungkin memang beda karena ada kepentingan politik yang memanfaatkan mereka. Tapi masalah rasa memang sifatnya sangat subyektif sekali, yang disayangkan adalah provokasi yang timbul sehingga umat yang awalnya adem ayem saja kemudian jadi tersulut karena alasan membela agama dibumbui secara komplit dengan dalil, dukungan politisi ditambah fatwa MUI dan taburan rupiah, komplit sudah. 

Maraknya aliran radikal dan fundamental yang cenderung rasis dan intoleran seolah menjadi bensin untuk lebih memanaskan suasana. Bullshit kalau demonstrasi kemarin adalah membawa misi damai, umpatan kotor dan hujatan yang diteriakan disela takbir bukanlah refleksi dari pesan damai, saya nggak tau kenapa ulama menafikan hal ini. Poster ganyang Cina ditimpali dengan teriakan bunuh seolah tidak mereka lihat, inikah aksi damai ? 

(foto: @maiasangjuara)

Dimanakah letak kearifan ulama ketika terdiam melihat hal seperti ini. Alih-alih mendinginkan suasana untuk menenangkan umat mereka justru larut dalam aksi demo penuh provokasi. Saya tidak sedang menghujat ulama, kalau mereka menuntut rasa keadilan saya sebagai umat juga berhak menuntut rasa kearifan dari mereka kan. Ulama bisa saja salah, dan kesalahan yang diendorse terus menerus tanpa ada kritik apalagi otokritik akan menjadikan seolah itu adalah sebuah kebenaran. Makanya jangan salahkan jika banyak orang yang menyayangkan sikap ulama yang seperti ini, ulama kan juga manusia biasa. Konsistensinya juga dipertanyakan, lihat deh apakah ini akibat tekanan ? Atau pesanan ? 

 

(Foto: @kopitoba )

Lihatlah statement nya, dan bagaimana ceritanya bapak ini menyatakan Ahok salah sedangkan proses hukum masih berlangsung ? Jelas kan masalahnya memang Ahok harus salah dan mengintervensi kepolisian supaya tidak memeriksa Buni Yani, ulama off side !

Kalau memang benar ini yang terjadi pertanyaannya kemudian adalah siapa menistakan siapa ?  Saya yakin sebagian besar umat Islam di Indonesia adalah pemaaf bukan pendendam, apalagi mengingat Ahok dalam berbagai kesempatan juga sering memberikan fasilitas kepada muslim di DKI, pemberangkatan para marbot untuk umroh misalnya, atau bantuan sapi saat hari raya Qurban yang lalu. Jadi jangan pungkiri peran provokator dalam demonstrasi kemarin, ulama sepertinya selalu memojokkan Ahok tapi menafikkan provokator.

Miris sekali melihat potret ulama seperti ini, pada kesempatan lain Din Syamsudin juga mengatakan "Kalau ada umat Islam yang tidak merasa tersinggung saat kitab sucinya di lecehkan mungkin dia sudah tidak punya rasa."  Mungkin ada benarnya tapi pelecahan yang seperti apa dulu ? Saya kok lebih setuju dengan sikap Gus Mus, karena lebih masuk akal, akalnya orang waras tentu saja. 

(Foto: @tsuroiya)

Apa benar demonstrasi kemarin mewakili aspirasi seluruh umat Islam di Indonesia, saya rasa juga tidak. Apalagi NU sebagai ormas Islam terbesar sudah dengan tegas melarang penggunaan atribut mereka untuk berdemo walaupun tidak melarang jamaahnya untuk ikut, ini sinyalemen bahwa NU sendiri tidak mau ikut dalam 'kebodohan' ini. 
Dan banyak sekali cerita diluar bahwa demonstrasi kemarin disupport oleh anasir tertentu seperti yang disampaikan Presiden saat konpers, dengan gelontoran uang yang tidak sedikit tentu saja. Meme bagaimana Munarman sang jubir FPI membagikan uang kepada sejumlah demonstran sudah banyak sekali beredar, 

(Foto: @radenano)

Bagi saya gambar diatas adalah bukti penistaan agama yang sesungguhnya, menukar ayat dengan rupiah untuk tujuan penggalangan massa demonstrasi, adalah kelakuan paling menjijikan, apalagi dibalut dengan jubah dan teriakan takbir !! Menyitir kalimat yang dilontarkan Ahmad Dani saat orasi bersama Fahri Hamzah dan Fadli Zon,

 "Ingin saya katakan anjing, tapi tidak boleh". 

"Ingin saya katakan babi, tapi tidak boleh". 

Bisa jadi, ini adalah awal dari skenario untuk membenturkan rakyat dan penguasa dalam bungkus sentimen agama dan ras. Ajaran radikal adalah awal dari seseorang untuk bertindak diluar nalar, tidak ada lagi nilai kemanusiaan, yang ada hanya memaksakan sesuatu yang menurut anggapan mereka benar. Peristiwa 411 semoga akan lebih menyadarkan pemerintah untuk segera bertindak tegas terhadap kaum radikal, mereka seperti singa lapar yang siap menerkam siapa saja bahkan tuan yang memeliharanya. Jangan sampai kebhinekaan yang jadi semboyan negara ini diacak-acak oleh ormas yang tidak penting seperti FUI, FPI dan HTI. Buat teman saya sesama muslim, jadilah muslim yang nasionalis, yang menempatkan keutuhan NKRI diatas segalanya. Di bumi NKRI kita dilahirkan, disini pula kita dibesarkan, memaki dan mencaci tidak akan membuat kita jadi lebih mulia di mata Tuhan. 

Kepada para ulama yang mulia, kembalikan semua ke hati nurani kita. Jadilah panutan yang bisa meletakkan nilai dasar kemanusiaan, seperti halnya Rasul yang tidak pernah memelihara amarah dan dendam. Kepada yang sok ulama, selesaikanlah urusanmu sebagai manusia sebelum mengurus manusia yang lain, karena ulama sebenarnya adalah mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Unjuk Rasa Yang Mengabaikan Rasa


(Foto: Trentekno.com)

"Dan terjadi lagi kisah lama yang terulang kembali" 

-  Separuh Aku, NOAH -

Penggalan lirik Noah diatas, tepatkah untuk menggambarkan kondisi yang terjadi saat aksi demonstrasi kemarin ? 

Tentu saja kalau hanya sepenggal lirik akan terasa pas sekali jika di interpretasikan dengan suasana yang terjadi kemarin. Tapi kalau dilanjutkan dan dilantunkan penuh harmoni tentu akan sangat beda dari interpretasi semula. Kita coba ya.... 

"Kau temukan lagi, dari cinta rumit yang kau jalani.."

Sudah jauh kan dari konteks lirik pertama ketika dipakai untuk menggambarkan suasana itu ? Kalaupun bisa ya pakai ilmu cocoklogi lagi ujung-ujungnya, sah tapi kelihatan terlalu memaksakan.
Ini hanya sebuah analogi dari kasus yang menjadi keprihatinan kita bersama, penistaan terhadap ayat suci dan informasi yang hanya diterima secara sepotong dari sebuah rekaman video editan karena keterbatasan akses dan terutama pengetahuan kita. 
Masyarakat terutama kalangan muslim yang menuntut Ahok dihukum karena dianggap melakukan penistaan terhadap ayat suci niscaya akan berpikir lagi ketika mereka tidak menerima ayat dan video yang dipotong seperti yang beredar selama ini. 

Ya, menghafalkan ayat kemudian mengetahui makna dan tafsirnya untuk kemudian dihayati dan diaplikasikan memang tidak semudah menghafal lirik lagu Noah. Untuk bisa sampai kepada level paham memerlukan banyak waktu dan pengorbanan yang tidak mudah. Ribuan santri di pondok-pondok pesantren adalah saksi hidup bagaimana meraih kemuliaan disisi Tuhan harus dilalui dengan penuh dinamika. Bukan hanya duduk didepan komputer kemudian copy+paste dari sumber yang tidak diketahui kebenarannya. Seperti halnya lirik lagu, ayat suci juga harus diinterpretasikan dengan benar, disesuaikan harmonisasinya, pengambilan nada dasar dengan benar dan tidak semua orang bisa melantunkan dengan pas. Ini hanya analogi saja, saya tidak bermaksud merendahkan ayat suci dengan mensejajarkan dengan lirik lagu, tolong di pahami. 

Kalau melantunkan lirik lagu yang notabene lebih mudah dari sisi bahasa saja kadang kita masih sering salah lirik dan sumbang apalagi ketika melantunkan ayat suci. Melantunkan dalam hal ini artinya memposisikan ayat sesuai dengan peruntukannya, tidak dinyanyikan dengan sembarangan. 

Celakanya, hanya berapa gelintir dari umat Islam terutama di Indonesia yang bisa melantunkan ayat dan menyanyikannya dengan benar karena sebelumnya sudah melewati proses pendidikan yang memang harus dijalani. Dari sisi jumlah, umat muslim boleh jumawa, tapi kualitasnya ? Saya bukan lagi melecehkan, hanya menyampaikan apa yang pernah Rasul sampaikan, bahwa suatu saat nanti umat muslim akan berkembang pesat tapi hanya seperti buih dilautan. Bisa jadi muslim sekelas ISIS dan demonstran-demonstran yang mengatas namakan Islam tapi perbuatannya tak beradab termasuk dalam kategori yang dikatakan Rasul ini. Mudah dihasut, diprovokasi dan di iming-imingi, mungkin itu maksud dari seperti buih di lautan, banyak tapi gampang dihempaskan gelombang. Wajah santri dengan ilmu  copy+paste !! Tidak disangkal lebih banyak muslim yang memang saat terlahir sudah menjadi islam karena faktor keturunan saja tapi keilmuan tentang Islam sendiri mereka tidak menguasai. Kalau diibaratkan sebagai penyanyi mereka hanya penyanyi level kamar mandi, sangat tidak layak untuk didengar suaranya, apalagi ditampilkan di panggung. Celakanya saat belajar vokal mereka ingin semuanya dilakukan dengan instan dan dengan pengorbanan seminimal mungkin, tidak perduli kualitas, yang penting cepat. 

Pesan yang ingin disampaikan disini bahwa untuk menjadi seorang penyampai yang baik tentu harus belajar dengan baik pula, prosesnya tidak instan. Apalagi jika yang disampaikan adalah ayat dalam kitab suci tanpa mengetahui asbab, sejarah dan konteksnya. Apa jadinya ketika doa yang disampaikan Rasul saat perang dipraktekan pada negeri yang sedang dalam keadaan damai ? Tentu saja tidak relevan, terlalu dipaksakan, mengada-ada dan sangat berbahaya. Bukankah itu sama dengan menyanyikan lagu ber genre Ska ditengah komunitas Punk ? Alih-alih menghibur kita bisa dilempar gear rantai sepeda motor !! 

Apa jadinya jika ayat tentang jihad dipraktekan secara membabi buta ? Hanya akan melahirkan teror di sekeliling kita, terbukti sudah berapa ratus orang yang terkorban akibat penggunaan ayat yang salah kaprah. Sangat menyedihkan ketika masih ada orang yang dianggap ulama yang ngotot dengan dalih pembelaan terhadap agama, tapi disisi lain mereka meninggalkan ajaran Islam yang penuh rahmat dan sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Mimbar-mimbar khotbah dan dakwah mereka jadikan sarana provokasi untuk menebar kebencian. Bukankah Islam sendiri artinya keselamatan, keselamatan bagi umat manusia bukan hanya cari selamat  untuk diri sendiri saja. 

Demonstrasi kemarin mungkin tidak akan terjadi seandainya kita semua bisa menempatkan ayat sesuai porsinya, anggaplah tidak ada muatan politik dibaliknya, pasti semua akan bisa memaafkan dan kembali berjalan bersama. Sayangnya banyak yang mendompleng aksi demo dengan isu yang tidak lagi relevan dengan tujuan demonstrasi kemarin. Ujaran kebencian terhadap etnis tertentu, aksi vandalisme dan anarkisme terjadi lagi. Indonesia saat itu seolah hanya milik mereka yang mayoritas. Mendengarkan takbir malah menjadi sesuatu yang mengerikan karena diiringi umpatan penuh kebencian. Kemana wajah Islam yang damai dan penuh kesejukan ?
Kadang saya iri dengan umat agama lain, bagaimana mereka bisa menerima penistaan yang mereka alami dengan lapang dada, bagaimana mereka mudah sekali untuk memaafkan bahkan untuk sesuatu yang menurut logika sangat sulit untuk dilakukan. Pelarangan untuk mendirikan tempat ibadah di Bogor, penurunan patung Buddha sebagai simbol ibadah di Tanjung Balai http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-37814837 peristiwa sebelumnya lebih mengenaskan lagi, Candi Borobudur, tempat ibadah mereka, pernah di bom oleh kelompok radikalis muslim, mereka umat yang bisa menjaga hati, padahal dalam kondisi teraniaya. Jangan-jangan mereka justru sudah melihat surga yang sebenarnya, bahwa untuk sampai kesana hati mereka harus bersih dari urusan dunia, meninggalkan kemarahan sebagai simbol iblis yang me-Raja. Sebab akan sangat sulit sekali kita mengikhlaskan sesuatu jika kita tidak tahu apa tujuan akhirnya, bahkan ketika diimingi-imingi surga dan bidadarinya kita masih saja bertindak murka, atau karena bidadari itu yang membuat syahwat jadi mengemuka ? Bagaimana mungkin surga didapat dengan cara membunuh sesama ??

Maafkan kami saudaraku umat Nasrani, Hindu dan Budha, ternyata sebagai penyandang mayoritas tidak membuat kami menjadi lebih baik dari kalian dalam hal keikhlasan dalam menerima perbedaan. Masih saja ada beberapa teman kami yang haus akan eksistensi dan tanpa segan menghujat kalian sebagai kafir dan mencaci dengan kata-kata yang keji. Maafkan saudara kami yang pemarah, yang mudah tersulut saat simbol mereka dijamah. Tapi yakinlah lebih banyak diantara kami yang waras dan akan tetap merangkul dan melindungi kalian sebagai saudara kami, walaupun kita tidak satu iman tapi kita adalah saudara dalam kemanusiaan. 

".....menyentuh laramu...Semua lukamu telah menjadi milikku Karena separuh aku dirimu...."


Pilkada Rasa Pilpres


Jelang pilkada suhu politik DKI semakin gerah aja sepertinya. Benar kata banyak orang ini Pilkada rasa pilpres, ditambah kubu dari Partai Demokrat yang berhasil menggandeng partai-partai yang tidak memiliki jagoan untuk diusung jadi cagub. 

Kalau saat pilpres kemarin Demokrat seperti kehilangan darah karena central figure nya sudah 'expired' ditambah beberapa kasus korupsi yang menimpa kader-kadernya, pada pilkada kali ini mereka mencoba untuk kembali unjuk gigi dengan menggandeng AHY yang tidak lain adalah putra sulung sang Ketum. Agus Harimurti Yudhoyono,  Seorang prajurit karier TNI yang konon katanya memiliki prestasi yang tidak bisa diremehkan. Beberapa pihak agak menyayangkan keputusan AHY untuk ikut dalam kontestasi pilkada ini mengingat karirnya yang moncer dalam dunia militer, karena konsekwensi nya AHY harus mundur dari karir kemiliterannya tentu saja. Tapi ini politik, kadang karir tidak berarti apapun dibanding kekuasaan yang bisa diraih walaupun perjuangan untuk kearah itu tidak mudah, apalagi mengingat prestasinya didunia politik yang masih sangat minim. Banyak pengamat menilai  AHY sebagai putra mahkota dinasti Cikeas akan kesulitan bersaing dalam kontestasi pilkada ini. Tapi harap diingat bahwa SBY adalah seorang yang berani menawarkan suasana beda dalam dunia politik, romantisme. Boleh jadi inilah yang ditawarkan oleh SBY kepada warga DKI yang kangen, ciee kangen, akan romantisme karena selama ini disuguhi sosok Ahok yang tanpa kompromi. Kadang nggak rasional sih, saat dulu banyak ibu-ibu ditanya alasan milih SBY jadi presiden karena ganteng, ni milih presiden apa cover boy sih. Ada juga yang dengan alasan karena kasihan melihat SBY dicampakkan Megawati, persis seperti sinetron. Romantisme semacam itu pula yang mungkin ditawarkan oleh 'the man behind the screen' dibalik pencalonan AHY.  Secara, dibandingkan dengan Ibas, AHY ini lebih bersih dari isu-isu politik yang bisa dijadikan black campaign. Performance dan karir pun lebih menyerupai figur tokoh utama, bahkan tanda tangannya pun mirip loh. Gagah, ganteng dan muda, ibu-ibu mana yang nggak suka ? Visi dan misi ? Pertanyaan ini juga sempat diajukan Najwa Shihab di acara Mata Najwa tapi belum di jawab. Ya mungkin sih persetan dengan visi misi, yang penting bisa bikin ibu-ibu dan wanita muda menye-menye terbuai romantisme. Untuk sementara, itu sudah dianggap cukup untuk mengalihkan kekaguman mereka kepada Ahok.
Sementara yang terakhir mendeklarasikan cagubnya adalah Gerindra dan PKS. Koalisi mimi lan mintuno, duo srigala atau apapun itu lah,  akhirnya mengusung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Nama Anies Baswedan yang muncul pada detik-detik terakhir memang sedikit mengejutkan. Tanya deh sama Pandji Pragiwaksono. Nama mantan menteri yang dilengserkan Jokowi untuk mengakomodir kepentingan koalisi ini memiliki basis pemilih kalangan muda akademisi. Anies melalui gerakan Indonesia Mengajar banyak menarik simpati kalangan akademisi, ditambah prestasi dia sebagai rektor termuda se-Indonesia. Makanya banyak yang kaget juga saat Anies dilengserkan saat reshufle kabinet. 
Agak mengherankan ketika nama Prof.Yusril Ihza Mahendra yang santer diberitakan dijagokan oleh kalangan ulama dan sudah membentuk relawan akhirnya tidak diusung, padahal menurut lembaga survey Yusril memiliki elektabilitas tertinggi untuk jadi contender bagi Ahok, dibanding Anies apalagi AHY. Harapan Yusril untuk diusung Demokrat setelah dia berjasa memenangkan SBY jadi RI 1 kandas setelah partai itu mengusung putra mahkota, AHY. Politik memang kejam Prof, tidak mengenal balas budi, setidaknya itu yang sekarang menimpa anda....
Ahok yang awalnya diusung relawan akhirnya bersikap realistis, dia nggak mau konflik lebih lama dengan DPRD. Akhirnya menerima pinangan dari Nasdem dan Golkar disusul PDIP setelah melewati pergolakan dalam internal kadernya yang beberapa diantaranya sempat menolak Ahok, padahal kedekatan Ahok dengan sang ketum sudah bukan rahasia lagi. Kader emang suka caper dan baper. Keputusan Ahok untuk menggunakan jalur parpol menunjukkan kedewasaan berpolitiknya.   Ketika lewat jalur parpol kan bisa dapat support saat pembahasan perda dan anggaran. Lha kalau lewat jalur independen, mau dibantu relawan ? Ahok semakin dewasa dan tidak egois aku kira. Hanya saja Ahok masih mudah terpancing oleh statement dan provokasi dari lawan politiknya, ini bisa bikin blunder seperti yang kemarin terjadi. Yang repot ya relawan dan partai pendukung juga koh Ahok, ahelah.
Banyak yang terkorban sebenarnya dalam kontestasi pilkada DKI saat ini, apalagi di kubu koalisi menye-menye, tidak ada satupun calon dari kader partai, padahal koalisinya lumayan besar. AHY gak bisa disebut kader partai lah, kalau kader SBY baru tepat. Sylviana Murni juga dari birokrat.  

Dari koalisi mimi lan mintuno malah menggandeng Anis yang justru mantan timses Jokowi, dua partai ini memang lagi lucu-lucunya berpolitik. Alih-alih mencalonkan kader malah berharap pada orang yang sakit hati. 

Seperti halnya Gerindra, PDIP pun akhirnya harus merelakan kadernya menjadi nomor dua. Tapi setidaknya lumayan lah lah daripada hanya sekedar jadi cheerleaders seperti anggota koalisi menye-menye. 
Harapannya pilkada di DKI bisa berlangsung tanpa ada yang menjual isu SARA. Semoga pilkada kali ini tidak menciptakan orang gila baru yang nyoblos nya lima menit tapi sakitnya 5 tahun. Ini bukan masalah kalah dan menang, ini hanya masalah siapa yang lebih disukai masyarakat melalui program yang ditawarkan. Cukupkan keterlibatan ulama hanya pada urusan umat dan ibadat. Biarkan para kandidat berkompetisi adu visi dan misi. Sementara kita ajak para ulama ngopi sambil jadi pengamat tanpa harus terlibat.

Demonstrasi Membela Islam ?



​Usai acara yang dipandu Karni Ilyas di TV One banyak reaksi muncul, di medsos bahkan semakin ramai obrolan tentang Ahok baik dari pendukungnya maupun dari mereka yang anti Ahok. Bagi kebanyakan orang, termasuk saya, beberapa hari terakhir ini timeline di twitter terasa membosankan. Belum lagi kelar pembahasan di dunia maya, tiba-tiba saja beberapa ormas melakukan aksi demonstrasi mengatas namakan Islam yang merasa di nistakan oleh Ahok di dunia nyata. Aksi ini tidak lepas dari provokasi beberapa narasumber yang di undang oleh ILC beberapa hari sebelumnya. Entah apa yang ada didalam kepala Fadli Zon, Ahmad Dhani dan seorang ustadz yang saat itu bahkan menyatakan, kalau sesuai dengan syariat Islam Ahok layak untuk diusir bahkan dibunuh !! Atas pernyataan ini pula beberapa hari kemudian ILC mendapat teguran dari KPI. Teguran yang tidak ada manfaatnya sama sekali karena beberapa kelompok Islam radikal sudah tersulut oleh statement sang ustadz. Tidak habis pikir kenapa orang yang katanya alimdan disebut sebagai warisan para nabi itu bisa memberikan statement yang sangat berbahaya untuk persatuan umat di ruang publik dan dikonsumsi oleh berbagai  lapisan masyarakat, dimana sifat kenabian yang seharusnya melekat padanya ? Fadli Zon yang memang pada dasarnya sudah sakit hati dengan Ahok dalam beberapa kalimatnya menegaskan supaya kepolisian harus bertindak atau jika hal seperti ini didiamkan maka massa yang akan bergerak dan menghakimi, ini disebutkan berulang-ulang, brain storming khas politisi, politisi sakit hati. Pernyataan-pernyataan seperti itu ditambah fatwa MUI bahwa Ahok dinyatakan bersalah telah menistakan agama akhirnya dijadikan legitimasi untuk melakukan demonstrasi dengan tujuan apalagi kalau bukan memaksa pihak kepolisian menyeret Ahok. Grand design nya adalah untuk membatalkan pencalonan Ahok sebagai cagub DKI dengan alasan penistaan agama walaupun dalam berbagai kesempatan mereka mengatakan ini tidak ada kaitan dengan pilkada DKI, telek !! Aktor utamanya ? Siapa lagi kalau bukan kelompok sakit hati, atau malah sakit jiwa ya ? Yang dalam banyak kesempatan selalu didukung oleh ormas anarki yang berlindung dibalik nama Islam dalam setiap aksinya. Alih-alih membela Islam mereka malah terkesan merusak nama Islam itu sendiri dengan tindakan anarki dan teriakan-teriakan ala umat jahiliyah pada masa pra kenabian. Saya tidak akan bahas tentang Ahmad Dhani, dia bahkan tidak lebih lucu dari tokoh serial upin dan ipin.

Seperti pernah saya tulis pada judul yang lain dalam blog ini, pemerintah terkesan lambat dalam hal memberikan sangsi kepada ormas yang dalam beberapa aksinya sering berujung pada anarkisme dan sarat sekali dengan muatan SARA. Bahkan dalam aksi demo terakhir sang ketum jelas-jelas memberikan dukungan kepada ISIS dengan menyatakan bahwa ISIS tidak salah dan bukan ancaman untuk negeri ini, bahkan dari sebuah tayangan di youtube jubirnya pun berbaiat kepada ISIS. Belum lagi ancaman akan membunuh Ahok yang terlontar secara ekspilsit dalam orasinya, lemas rasanya melihat aparat tidak berdaya didepan orang yang bahkan tidak punya kekuasaan apapun atas negeri ini. 

Salut dan hormat saya untuk beberapa kepala daerah di Indonesia yang secara tegas melarang ormas ini untuk mendirikan  sarang  di wilayah mereka !! Pelarangan ini tentunya bukan tanpa alasan mereka tentu sudah tahu bagaimana sepak terjang ormas yang gemar melakukan sweeping hanya karena memaksa umat lain untuk menghormati bulan puasa, mereka tidak sadar kalau ternyata ketakwaannya kepada Tuhan hanya sebatas tirai warteg ! 

Kalau saja ada sebuah statement dari tokoh atau ulama yang menegaskan seperti apa yang dikatakan Fadli Zon kepada kepolisian, bubarkan FPI atau rakyat yang akan bergerak. Tapi kita mesti bersyukur bahwa di negeri ini masih ada ulama-ulama yang memang mendedikasikan agama untuk kepentingan kemanusiaan, bukan hanya sebagai justifikasi untuk menghukumi orang yang berbeda keyakinan. Saya yakin ketika para ulama ini memfatwakan untuk  membereskan FPI dalam sekejap ormas ini pasti rata dengan tanah. Tapi sekali lagi hebatnya para ulama sepuh ini mereka benar-benar warosatul anbiyaa, yang selalu menghindari mudharat sebelum berpikir manfaatnya. Mereka masih percaya kepada umara dan aparat penegak hukum, sehingga cara-cara barbar akan selalu dihindari. Kita hanya berharap kepada pemerintah untuk bisa bertindak tegas kepada siapa saja yang mempunyai niat untuk memecah belah kebhinekaan. Sudah cukup negeri ini dicabik-cabik karena kebencian terhadap ras di tahun 1998. Aturan sudah jelas, tinggal masalah kemauan dan keberanian untuk menegakkan, sehingga aturan bukan hanya jadi wacana yang hanya tertulis dan untuk dihapalkan. 

Himbauan kepada FPI dan ormas radikal lain, semoga demonstrasi kemarin adalah episode terakhir dari sebuah ketololan berdemokrasi karena hasutan. Demonstrasi yang didasari rasa benci terhadap seseorang tidak akan menghasilkan sesuatu yang positif. Hasilnya jelas, taman kota jadi rusak, padahal itu dibuat dan dibiaya oleh rakyat Jakarta, yang atas kerusakan itupun ada diantara kalian yang menyalahkan Ahok, hebat !!  Sebagaifront pembela islam kalian hebat meskipun saya masih belum tahu ke islam an  yang mana yang kalian bela karena menurut saya Islam tidak perlu dibela dengan cara membabi buta penuh angkara. Kenapa tidak kalian cukupkan kepada Allah sebagai pembelanya?Hasbunallah wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'mannasiir. Atas dasar ayat itu saya yakin Indonesia tidak butuh FPI dan ormas-ormas radikal lainnya.

Wallahu a'lam bishawab.