Ada sedikit perasaan lega ketika mengetahui beberapa aktor pemicu kerusuhan dan demonstrasi yang berujung anarki akhirnya dipanggil pihak berwajib. Walaupun sampai hari ini statusnya masih menjadi saksi tapi ada optimisme bahwa kasus ini pasti akan dikembangkan sehingga akan terkuak siapa sebenarnya aktor intelektual dibalik aksi yang lalu.
Masih optimis kalau NKRI akan terjaga keutuhannya asalkan ada ketegasan terhadap siapa saja yang bermaksud untuk melakukan makar walaupun secara tersirat, melalui agenda-agenda demonstrasi yang sudah mereka buat. Agenda terselubung dengan menunggang aksi demonstrasi, jahat sekali memang bagaimana memanfaatkan massa yang saya yakin tidak tahu agenda mereka, mereka hanya dibayar untuk turun ke jalan tanpa tahu konsekwensi dibaliknya, berhadapan dengan aparat yang bersenjata. Ini kejahatan terhadap kemanusiaan. Secara konstitusional memang kegiatan ini dilindungi oleh Undang-undang dan salah satu ciri dari sebuah negara demokrasi. Tapi jika untuk menghadirkan massa kemudian menggunakan uang rasanya kok jauh dari arti demokrasi yang kita harapkan selama ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau aksi demo yang dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah tidak lepas dari isu uang.
Semakin banyak yang datang tentunya semakin banyak pula cost yang harus dikeluarkan oleh penyelenggara. Dan kita tidak bisa menyalahkan para pendemo dengan motif seperti ini. Ditengah himpitan ekonomi dan beban hidup yang semakin berat uang adalah solusinya, seperti oksigen yang dibutuhkan oleh penderita hipoksia. Yang lebih diuntungkan lagi adalah kelompok-kelompok yang memiliki kemampuan untuk memobilisasi massa, bagi mereka aksi demo adalah lahan bisnis bernilai jutaan bahkan mungkin ratusan juta rupiah. Saya sendiri secara pribadi, asal ada imbalan uang, mampu untuk mencari relawan untuk berdemonstrasi, saya banyak bergaul dengan orang pinggiran yang standar hidupnya jauh dari kelayakan, tukang becak, tukang parkir, preman jalanan, tapi tidak segila itu sih, disamping saya masih punya hati nurani.
Tentu saja tidak semua yang hadir adalah massa upahan, mereka yang berada dalam satu garis perjuangan akan rela mengeluarkan apa saja bahkan nyawa sekalipun, tapi berapa gelintir saja yang seperti itu. Apalagi banyak yang sebenarnya menolak aksi demonstrasi karena memang tujuannya yang nggak jelas.
Jangan samakan aksi yang sudah dan akan terjadi beberapa hari lagi dengan aksi mahasiswa dan masyarakat tahun '98. Saat itu pemerintah memang sudah tidak mempunyai legitimasi dimata rakyat, jelas beda dengan pemerintahan yang ada sekarang. Saya kira jika para penggerak demonstrasi berharap akan terjadi lagi peristiwa '98 bersiaplah kecewa, karena saya yakin jauh lebih banyak rakyat yang mendukung pemerintahan saat ini.
Mereka bisa saja mewakili suara umat Islam dengan mengusung tema Aksi Bela Islam III itu hak mereka, tapi faktanya umat Islam yang terwakili oleh 2 ormas terbesar di tanah air sudah jelas sikapnya untuk tidak mendukung. Jadi yang mereka wakili mungkin hanya 5% saja dari seluruh umat Islam di Indonesia. Dan saya juga secara pribadi masih meragukan ke Islaman mereka sih, ya maaf saja, ketika himbauan pemerintah masih dilanggar secara syariat mereka juga sudah melanggar ayat athi'ullaha wa athi'urasul wa ulil amri minkum. Kecuali memang mereka tidak mengakui pemerintahan yang sedang berkuasa saat ini ya, heran juga sih kok masih betah di Indonesia. Lho tapi kan mereka juga menikmati hasil kerja dari pemerintah yang sekarang ? Assssembuhhh...
Semakin lebay lagi akan ada aksi gelar sajadah dan shalat Jum'at di sepanjang Sudirman-Thamrin. Walaupun akhirnya mereka bisa diarahkan untuk melakukan shalat di Monas, pemerintah lewat Kapolri tidak bisa begitu saja disalahkan, yang penting akhirnya mereka tidak mengganggu fasilitas publik. Kok saya jadi berpikir sebenarnya ini orang mau pada ngapain sih ? Sudah jelas banyak masjid kok masih pada mau sholat Jum'at di Thamrin !! Emangnya mau sholat dalam rangka lebaran kuda ? Dimana rasa syukur mereka sampai-sampai belain shalat di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin, sementara ada saudara yang sudah berjuang bertahun-tahun untuk mendirikan tempat ibadah saja belum bisa diwujudkan ??? Ini lebih pekok daripada rakyat Republik Pekok.
Nggak habis pikir saya, ada ulama model begini di Indonesia, belum lagi yang suka teriak-teriak rasis di sosial media sembari salah mengutip ayat. Kasihan kepada mereka yang ikut terprovokasi, dibela-belain jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk tujuan yang nggak jelas. Bahkan prajurit Kopassus pun tidak pernah berjalan sejauh ini saat upacara pembaretan dan penyematan wing komando.
Lha kalau ulamanya sudah hancur lebur seperti ini pengikutnya kuwi njuk modele kongopoooo ?? Jangan pernah berpikir semua habib itu bener, habib kan cuma gelar, konon katanya keturunan Rasulullah, lha cumak keturunan owk, itu bukan jaminan bagi sebuah kebenaran, kalau keteladanan Rasulullah saya tidak meragukan lagi. Lha wong saya punya kenalan gelare habib ning seneng mendem sobone neng diskotik karo wedokan yo onok. Ya ndak saya ikutin lha habib edan og, gendheng pooo..!!
Bagi saya Habib yang patut jadi panutan ya Habib Luthfi bin Yahya, kalau habib rizieq mboten mawon. Lha kok saiki malah dibolo karo mat dhaniiii yongalaaahh...!! Iki lek Cak Kirun lak wes ngekek sampek elek.
Wes cah, jam loro bengi iki, bal-balan wes molai, tak nonton sek. Hajindul gek rokokku entek sisan...paaiiittt !!!
