Thursday, December 29, 2016
Khamr itu Bernama Agama
"Setiap yang memabukkan adalah khamr " ( HR. Muslim )
Berbagai peristiwa dengan latar belakang agama sedemikian sering menemani keseharian kita belakangan ini.
Lebih tepatnya semua peristiwa yang terjadi dipaksakan untuk bisa dibawa ke ranah agama. Mulai dari hal yang sebenarnya belum diketahui jelas kebenarannya, sampai urusan yang nggak penting-penting amat selalu dikaitkan dengan masalah keyakinan.
Saya setuju dengan statement menteri Agama bahwa kita adalah bangsa yang relijius.
Kurang relijius apa coba, ketika susunan angka-angka yang merujuk peristiwa tertentu bisa kita olah sedemikian rupa dan dikaitkan dengan ayat suci !!
Peristiwa bencan alam yang sepenuhnya rahasia Tuhan kemudian bisa dianggap sebagai azab hanya karena waktu terjadinya sesuai dengan ayat tentang azab !! Dan yang kemarin ramai adalah sakitnya seorang kyai dikaitkan dengan dukung mendukung pilkada, uang terbitan baru bergambar Cut Meuthia gak pake jilbab pun digugat, bangke banget kan tingkat relijiusitasnya !!
Walaupun begitu, tidak semua warga negara Indonesia itu relijius karena memang ada juga kelompok atheis di Indonesia, Indonesian Atheist misalnya, kelompok yang didirikan tahun 2008 ini gencar melakukan gerakan atheistme di sosial media. Walaupun secara ideologi negara hal itu tidak dibenarkan tapi mereka punya perspektif sendiri terhadap Tuhan.
Mereka pun berkembang ditengah relijiusitas kita, dan sudah ada sejak sebelum lahirnya Indonesia.
Fenomena yang belakangan terjadi adalah adanya kelompok dengan fanatisme yang berlebihan dalam beragama, mungkin karena saking relijiusnya akhirnya malah kebablasan, banyak kalangan yang menyebut dengan mabok agama.
Kesan yang ditangkap justru mereka malah men-Tuhankan agamanya ketimbang Tuhan itu sendiri, musrik !!
Dan saya yakin ini bukan hanya terjadi pada agama tertentu saja, hampir semua agama memiliki kelompok-kelompok seperti ini. Parahnya lagi fanatisme ini bablas sampai menabrak norma kehidupan bermasyarakat.
Saling mengomentari ajaran agama lain, memberikan stigma, bahkan sampai saling adu argumentasi dengan dalil yang diyakini sendiri-sendiri, konyol sekali. Saya bukan orang yang ahli dalam agama dan setiap kali melihat perdebatan agama bawaannya pengen boker aja.
Apakah susah untuk saling diam dan khusyuk ibadah dengan keyakinan sendiri tanpa mengganggu mereka yang punya keyakinan berbeda ? Kemunculan sosial media semakin memperuncing pertikaian ini.
Padahal saya yakin banyak diantara mereka yang ketika dikonfrontir tidak akan segagah di sosial media.
Kejadian yang masih hangat adalah bagaimana seorang saat berceramah didepan jamaahnya, alih2 memberikan kesejukan tapi malah menghina keyakinan umat yang lain disaat sedang merayakan hari besar.
Padahal jelas sekali dalam kitab sucinya Tuhan melarang umatNya untuk mengolok-olok mereka yang memiliki sesembahan lain.
Buat dia, agama sudah dijadikan sarana provokasi untuk saling berbenturan. Orang ini, jangankan kepada umat beragama lain kepada yang seagama saja dia dengan enteng menyebut munafik, sesat, liberal dan sebagainya hanya karena tidak sepaham dengan cara dia dalam beragama, saya tidak akan sebut namanya.
Ketika kita sudah berdiri dalam suatu golongan maka menyalahkan golongan yang lain adalah sebuah keniscayaan, bener nggak sih ? Sah-sah saja tetapi menganggap diri paling benar dan selalu menilai salah pada orang lain adalah ketololan tak bertepi.
Sangat disayangkan memang jika kemudian beberapa tokoh yang sering muncul di TV dan terlihat alim dan saleh pun ikut larut dalam pesta mabuk ini. Kelemahlembutan yang terlihat selama ini pelan-pelan hilang dan nampaklah wajah yang sebenarnya, towewewewwww.
Fatwa-fatwa yang mengundang kontroversi melesat deras tanpa mengenal batas apalagi solidaritas. Popularitas, uang dan gelimang harta dunia kemudian menjadi tujuan dengan kedok agama.
Terlepas dari ada atau tidaknya niat dibelakang itu, tetapi mengeksploitir emosi massa dengan fatwa agama untuk mencapai niat dan tujuan adalah kebejatan moral yang luar biasa.
Saya anggap mereka adalah pelacur-pelacur agama yang sering bermasturbasi dengan alat bernama fatwa.
Seperti layaknya bartender, mereka meracik khamr yang akan disuguhkan kepada pengunjung. Lengkap dengan tehnik jugling dan dioplos dengan ayat-ayat yang memabukkan tentu saja. Semakin mabuk pengunjung maka akan semakin senang mereka, dagangan mereka laku keras.
Biasanya mereka yang sudah pernah merasakan nikmatnya racikan sang bartender akan ketagihan untuk datang dan memesan lagi, yang tadinya datang sendiri akan mengajak teman lain bergabung, mabuk bersama. Tentu saja sang bartender akan dipuja karena hasil racikannya pas sekali dengan selera mereka, akhirnya sang bartender juga mabuk, mabuk pujian.
Dan karena sedang mabuk, pengunjung akan sangat mudah dipengaruhi oleh Disc Jockey, partner bartender, mereka akan bergerak pelan saat alunan musiknya lembut, dan akan berubah menjadi beringas saat diberi irama menghentak ditimpali suara DJ. Begitulah kolaborasi ciamik antara bartender dan dj dalam membuat mabuk dan bergoyang.
Sementara diluar sana, kelompok yang waras dan lebih suka kopi daripada khamr, kebanyakan pengikutnya seperti tidak perduli dengan kelompok "mabuk berjamaah" ini, entah karena mungkin sudah apriori atau kehabisan akal untuk menyadarkan para pemabuk ini.
Sikap tidak perduli karena orang yang waras jumlahnya lebih banyak daripada yang mabuk juga tidak bisa dibenarkan karena mestinya justru ada antisipasi supaya yang waras tidak terjerumus jadi pemabuk karena merasa tidak pernah diajak untuk waras bersama. Serius loh, kehilangan teman ngopi itu galau rasanya.
Saya hanya tertawa saja saat beberapa diantara mereka ada yang berusaha memberikan nasihat, mana ada orang mabuk mau dengerin nasihat ?
Tapi metode itu terus dilakukan, sampai kapan ? Sementara para pemabuk ini justru malah menggandeng beberapa orang dikelompok mereka untuk jadi pemabuk-pemabuk baru.
Yang mabuk banyak, yang kasih nasihat sendirian, mati. Padahal menyembuhkan orang mabuk itu gampang, dibenturin sampai benjol atau minimal disiram air, artinya harus ada aksi bukan sekedar orasi. Wajar sekali kalau orang mabuk akan terlihat sangar, tapi apa yang ditakutkan dari orang yang lagi mabuk? Didorong sedikit juga jatuh, saat jatuh itulah kemudian bisa kita lumpuhkan, masa kaya gitu aja harus diajarin.
Yakinlah penikmat kopi mempunyai kekuatan lebih baik dibandingkan penikmat khamr, saatnya kita keluar dari kedai-kedai untuk merapatkan barisan dan memberi pelajaran kepada para pemabuk.
Holopis Kuntul Baris !!!
Diujung tulisan ini saya akan menyitir lirik lagu Imagine dari almarhum John Lennon, bukan untuk tidak percaya pada agama tapi ada sisi lain dari hidup selain agama, ialah manusia dan Tuhan, itu yang saat ini sedang kita lupakan.
Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one
Wednesday, December 21, 2016
Surat Cinta Untuk Dwi Estiningsih
Kemarin lini masa media sosial diramaikan oleh sebuah berita, entah sempat menjadi trending atau tidak saya tidak begitu tahu, yang jelas bukan tentang 'om telolet om'.
Yang saya maksud adalah cuitan dari seorang wanita yang secara tata lahir terlihat sangat Islami. Mengenakan kerudung panjang ditambah dengan keterangan di bio nya bertuliskan Amar Ma'ruf Nahi Munkar endesbrei endesbrei. Mungkin banyak diantara pembaca yang sudah bisa menebak siapa wanita yang dimaksud, ya dia Dwi Estiningsih.
Saya kurang tahu persis apa yang melatar belakangi wanita ini sampai terlihat sedemikian bencinya kepada orang yang tidak satu iman dengan dia. Lagi-lagi dengan menyebut kafir, seolah mereka yang diluar Islam tidak memiliki Tuhan dan tidak beriman. Bahkan dengan sesama muslim ketika tidak sepaham pun disebutnya sebagai munafik, seolah dia lah pemilik kebenaran absolut.
Apakah dia tidak berpikir bahwa akan sangat mudah bagi Tuhan untuk membuat seluruh umatnya menjadi Islam. Apakah dia tidak pernah membaca ayat bahwa adanya perbedaan untuk dijadikan sarana untuk saling mengenal satu dengan yang lain ?
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)
Lalu amar ma'ruf seperti apa yang dia lakukan ketika menghadapi perbedaan saja sudah paranoid ?
Belakangan saya tahu ternyata si ibu yang katanya seorang guru ini kerap mengkritisi, tepatnya menyinyiri pemerintah.
Ingat kasus logo BI pada lembar uang kertas 100 ribu yang dikaitkan dengan simbol palu arit ?
Apakah ada permintaan maaf dari wanita 'muslimah' ini setelah ada klarifikasi dari BI ? Saya kok belum penah mendengar. Mungkin memang sudah didoktrin bahwa minta maaf kepada orang kafir itu haram, mungkin.
Yang jelas akibat twit nya itu banyak pasukan dari negara api yang bersumbu pendek juga langsung terbakar.
Setelah isu pertama berlalu dan berhasil membuat kebakaran, kemudian dia meniupkan isu berikutnya. Momennya adalah penerbitan uang baru dari pemerintah, kali ini isu nya bukan palu arit tapi gambar pahlawan Cut Meutia yang dikatakan sengaja digambarkan tanpa kerudung ! Lagi-lagi dengan dalil endesbrei-endesbrei, dengan hasil olah pikir negatif, si ibu melakukan agitasi.
Seperti kita ketahui bersama beberapa waktu yang lalu pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada beberapa putra terbaik bangsa. Dan gambar mereka diabadikan dalam pecahan rupiah yang baru diterbitkan beberapa hari yang lalu.
Si ibu lagi-lagi memberikan statement yang sangat menyakitkan hati. Menurutnya pemerintah lebih banyak mengangkat pahlawan dari golongan kafir ( kafir versi dia tentu saja ).
Apa yang kita rasakan seandainya kita adalah keturunan dari pahlawan yang disebutnya kafir itu ? Parahnya lagi, kata si ibu, kebanyakan kafir itu adalah pengkhianat bangsa !
Hebat sekali ibu satu ini, tidak ada matinya dalam usaha memperkeruh suasana dengan provokasi dan agitasi.
Jauh sudah kesan wanita muslimah seperti Aisyah yang lemah lembut. Hilang sudah sakralitas hijab yang digunakan muslimah beradab. Masih mending mbak Najwa Shihab yang walaupun tanpa hijab tapi cara berpikirnya sehat.
Saya kok khawatir dengan kualitas dari anak didik yang dilahirkan dari guru yang isi kepalanya selalu dipenuhi kebencian semacam ini. Jangan-jangan dia juga yang melarang pedagang Sari Roti berjualan di sebuah sekolah di Jogja.
Percuma saja kan jika orangtua susah payah menanamkan pendidikan budi pekerti dirumah, tapi di sekolah si anak diserahkan kepada Ummu Jamil binti Harb ?
Makanya tidak heran jika kemudian si ibu menuai ribuan kecaman bahkan sampai dilaporkan ke kepolisian karena statement ngawurnya.
Mungkin dalam hatinya apa yang dilakukan adalah dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar seperti tuntunan Al Qur'an, jika memang benar demikian adanya berarti ada sesuatu yang salah dalam memahami kandungan Al Qur'an. Karena semua pasti sepakat tidak ada satupun ajaran agama yang menyebarkan kebencian, apalagi ini adalah agama langit.
Tapi saya sih masih berharap si ibu tidak berlindung dibalik ayat untuk pembenaran semua tindakan biadabnya. Al Quran sudah terlalu sering dikotori oleh umatnya sendiri untuk tujuan yang justru tidak sesuai dengan kandungan nilai di dalamnya.
Ironisnya mereka yang bergelimang lumpur kotor itu mengaku sebagai pembela Al Quran nomor wahid. Padahal tanpa di bela Al Qur'an sudah dijamin menempati posisi paling terhormat.
Saya akan lebih senang kalau alasan si ibu itu karena dia frustasi sebab gagal terpilih sebagai anggota legislatif, jadi janganlah membawa kitab suci jika hanya untuk membenci karena telah gagal menggapai syahwat duniawi.
Sekarang mungkin berkas laporan kepada si ibu sedang didalami oleh kepolisian.
Kasihan tentu saja, hanya karena kebencian seluruh keluarganya harus menanggung beban karena si ibu, tambah kasihan lagi jika kemudian harus ditahan. Apalagi jika mempunyai anak dan anaknya masih sekolah, pasti akan jadi pertanyaan oleh teman di sekolahnya.
Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari sebuah ketololan. Berpikirlah sebelum ngetwit, jangan ngetwit dulu berpikir kemudian, karena jejak digital tidak bisa dihilangkan.
Telolet buuu...
Wednesday, December 7, 2016
Surat Terbuka Untuk Presiden
Assalaamu'alaikum Wr.wb
Pak, perkenankan saya yang jelata ini menyampaikan sedikit keresahan hati saya sendiri dan mewakili banyak teman-teman dan saudara saya di seantero negeri.
Pak, sebagai rakyat Indonesia saya sangat berterima kasih atas semua kerja keras bapak dalam membangun negeri. Banyak sekali kemajuan yang dicapai selama 2 tahun lebih dalam kepemimpinan bapak. Bapak selalu hadir bersama rakyat saat mereka membutuhkan bapak. Ketegasan bapak dalam pemberantasan narkoba dan korupsi sudah banyak dibuktikan. Pembangunan infrastruktur juga sudah dijalankan di seluruh negeri tanpa kecuali. Murahnya harga bensin di Papua yang disambut dengan pesta adat bakar batu juga prestasi cemerlang bapak.
Tapi pak, ada sebagian saudara saya yang tidak bisa menikmati kemerdekaan sampai saat ini. Bahkan keberadaan mereka seolah dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengganggu iman dan ketauhidan bagi gerombolan yang sering melakukan pembenaran dengan mengusung ayat suci Al Qur'an.
Jujur pak, seringkali kami sebagai umat Islam juga merasa jengah bahkan malu dengan tingkah polah mereka. Kami takut apa yang mereka lakukan lantas di generalisir bahwa seperti itulah wajah Islam sesungguhnya, tanpa keramahan dan selalu membawa keresahan bagi umat lain.
Tidak mudah bagi kami untuk meyakinkan kepada teman kami yang sudah terlanjur apriori. Disaat kami berusaha meyakinkan bahwa kita semua adalah saudara tiba-tiba saja mereka melempar bom ke sebuah gereja. Berulangkali kejadian seperti ini terjadi pak, kami seperti melakukan pekerjaan yang sia-sia, seperti melukis diatas es. Susah payah kami meyakinkan, semudah itu mereka merusak kepercayaan yang sudah kita tanamkan.
Tolonglah kami pak, kami semua merasa sangat iba saat teman kami melakukan ritual keagamaan seringkali di ganggu oleh ormas yang memanfaatkan nama agama.
Saya menangis pak ketika untuk beribadah saja mereka dicekam ketakutan. Saya tidak membayangkan jika itu terjadi pada diri saya, istri saya dan anak-anak saya. Jangankan untuk bertindak dan melawan pak, untuk bersuara saja mereka takut. Keinginan teman-teman saya sederhana sekali pak, mereka ingin beribadah dengan tenang tanpa rasa takut. Mereka tidak akan memerangi kita, mereka hanya ingin melakukan persembahan kepada Tuhannya. Seperti halnya saya yang setiap Jum'at pergi ke masjid dan ke lapangan saat tibanya hari raya. Kejam sekali ketika mereka sedang beribadah di sebuah lahan dengan menggunakan tenda karena tidak ada ijin pendirian gereja pun masih diganggu dengan bermacam tetabuhan dengan menggunakan pengeras suara. Apa salah mereka pak ?
Saya sangat mengapresiasi ajakan bapak untuk merawat persatuan dalam kebhinekaan, tapi ajakan saja ternyata belum cukup menyadarkan kaum pembuat onar bahwa pada dasarnya memang terdapat perbedaan dari sejak bangsa ini dilahirkan. Himbauan bapak selalu saja diabaikan, bahkan seperti dilecehkan dengan aksi intimidasi dan tindak kekerasan. Saya tahu bapak seorang penyabar, bahkan saat difitnah sebagai kafir dan keturunan PKI pun bapak tidak pernah over reactive seperti bapak mantan. Tapi hari ini persoalan sudah beda pak, sampai kapan teman-teman saya akan dicekam ketakutan kalau bapak belum mulai melakukan tindakan ?
Penderitaan mereka sudah terlalu lama bapak, janganlah kami yang lemah ini terseret dalam rasa bersalah karena tidak kuasa membantu mereka.
Saat gereja tak mampu mereka dirikan karena tak kuasa melawan ormas bersorban saya sedih, teman-teman saya sedih, rakyat Indonesia juga sedih tapi bapak tidak pernah hadir diantara kami, kenapa pak ? Ketika patung Budha diturunkan di sebuah Vihara bapak juga tak kunjung datang menyapa, bapak kenapa ?
Bapak mantan yang dari dulu tidak pernah memberikan sangsi sekarang justru memanfaatkan keberadaan mereka dan dianggap sebagai kongsi. Apakah ada kepentingan dan manfaat yang bapak ambil dari eksistensi gerombolan intoleran ini ? Enggak kan pak ?
Apalah artinya kalau hasil jerih payah bapak tidak bisa dinikmati oleh semua rakyat Indonesia pak. Berapa juta orang yang hanya bisa tersenyum pahit saat bapak mengumumkan tentang pertumbuhan ekonomi di Indonesia, tentang cita-cita bapak untuk menjadikan Indonesia macan asia. Teman saya dari Ahmadiyah, Syi'ah dan saudara-saudara saya lintas agama mereka pendukung kebijakan bapak, hanya bisa tersenyum, pahit bahkan berlinang airmata karena untuk beribadah saja mereka masih terkendala.
Bapak Presiden yang saya hormati, saya warga NU pak, walaupun keadaan kami compang-camping karena para kyai sepuh kami di bombardir dengan fitnah keji tapi kami masih sanggup bertahan, kami masih bisa memaafkan, keporo ngalah pak walaupun hati kami sakit. Dan dalam sakit itu kami masih berusaha untuk melindungi teman-teman dan saudara kami yang mengalami penistaan yang sesungguhnya. Kami ditempa untuk bisa menerima bahkan dalam kondisi yang paling menyakitkan pak, saat junjungan kami Kyai Abdurahman Wahid dilengserkan kami bisa menerima dengan lapang dada. Tapi sampai kapan kami jadi dijadikan martir sementara bapak hanya diam ?? Kami rela walaupun nasib kami mungkin akan berakhir seperti Riyanto teman kami, gugur dengan memeluk bom saat melakukan pengamanan perayaan natal. Bukan demi bidadari surga pak, tapi demi keutuhan bangsa. Kami seperti halnya bemper mobil pak, kami kuat walaupun harus terlebih dahulu penyok karena melindungi penumpang.
Apa yang diucapkan oleh Kyai Said Aqil saat muktamar kemarin itu mewakili keresahan kami pak, mestinya bapak bisa merasakan itu. Bukan hanya 90 juta an warga NU yang resah, saudara-saudara saya yang berbeda keyakinan lebih resah lagi. Kalau masih kurang, saya yakin Gibran dan Kaesang pun resah pak. Kalau bapak mantan tidak memiliki keresahan serupa abaikan saja pak, seperti halnya bapak mengabaikan dia selama ini, luweh pak, luwehkan saja !!
Bapak mungkin tidak percaya di daerah yang bebas dari gerombolan pembuat onar situasinya jauh lebih tenang. Tidak ada sweeping warung makan saat bulan puasa, tidak ada diskusi atau acara bedah buku yang dibubarkan paksa. Tidak ada teriakan berbau SARA apalagi orasi dan provokasi dengan TOA. Disaat itulah pak teman-teman kami merasa merdeka. Kalau kepala daerah saja dengan gagah berani menolak kehadiran mereka, mestinya dengan kekuasaan yang bapak miliki akan sangat mudah membubarkan bahkan menumpas mereka. Siapa saja pak tanpa memandang latar belakang etnis dan agamanya.
Jangan ragu-ragu pak, jangan takut, umat muslim yang waras dan teman-teman lintas agama pasti dibelakang bapak. Coba saja bapak sowan kyai kami dan meminta agar para santri turun semua ke Jakarta, Jakarta tenggelam pak. Karena kami yakin akan ada jutaan umat lain yang juga akan turut serta bersama kami. Yang kemarin itu belum seberapa, hanya buih saja. Tapi saya yakin para kyai tidak mau melakukan itu, mereka umat pilihan yang terjaga lisan serta hatinya, merekalah warosatul anbiyya yang sebenarnya.
Demikian pak sedikit keresahan saya, mohon maaf jika bapak tidak berkenan dengan apa yang saya katakan. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyepelekan kemampuan bapak sebagai kepala negara. Kami hanya gelisah atas apa yang sedang terjadi, disatu sisi kami ingin sekali membantu saudara-saudara kami dari teror dan intimidasi tapi disisi lain kami juga tidak ingin menabrak konstitusi pak. Dalam konteks bernegara bapaklah pelindung kami, semua warga Indonesia tanpa terkecuali. Dan hanya dengan cara ini kami bisa bersilaturahmi dengan bapak, karena kami juga tidak ingin menggangu kesibukan bapak. Untuk bapak ketahui sudah berapa ratus petisi ditujukan kepada bapak yang diajukan oleh teman-teman saya, ribuan polling disebar di media sosial, semua menghendaki supaya bapak bertindak lebih tegas dan membubarkan ormas anti Pancasila dan anti toleransi.
Kalaupun semua polling dan petisi tidak sempat bapak baca, semoga untuk yang satu ini bapak berkenan sejenak membacanya. Terima kasih bapak, semoga bapak selalu diberi kesehatan dan selalu dilindungi serta diberi petunjuk oleh Tuhan dalam memimpin negeri, aamiin.
Wassalamu'alaikum Wr.wb
Monday, December 5, 2016
Menggugat Para Penemu Sosial Media

Saya menulis ini saat sedang dalam perjalanan dengan kereta menuju kota Solo, sambil membuka sosial media, terasa sumpek sekali rasanya timeline saya, dipenuhi cuitan buzzer dan tim hore pilkada DKI.
Kalau saja timeline di media sosial bisa bicara mungkin dia akan "berkata saya sudah lelah dihujani tulisan dan kebohongan kalian".
Saya kok jadi iri sama Marno Blewah, dan si bapak ustad yang sekarang jadi selebtwit, tidak satupun akun yang dia follow, atau jangan-jangan memang tidak ada seorangpun yang mau di follow sama dia ? Jadi mungkin ada semacam kesepakatan, "biarkan saya folllow akun anda tapi tolong anda jangan follow akun saya". Tenang dan semriwing sekali pastinya timeline di twitternya, bebas dari hiruk pikuk pilkada, selebtwit cari muka dan buzzer-buzzer politik.
Semakin hari tambah sumpek aja di media sosial. Tapi ya gimana lagi lha wong ini jadi satu-satunya hiburan saat santai, jelang tidur dan saat ditinggal pacar kuliah. Yang ditakutkan adalah para jomblo yang karena jomblonya akhirnya masyuk dengan medsos. Lupa mandi, lupa tidur, bahkan lupa kalau masih jomblo. Dan bisa jadi karena frustrasi dengan statusnya malah gabung dengan kelompok-kelompok intoleran, sudah intoleran, radikal, militan lagi. Hanya dengan share berita, gambar hoax, dan video editan dia bisa seketika menjadi terkenal, di follow ribuan akun yang satu nafas dan satu perjuangan. Siapa tahu ada salah satu dari mereka nyantol jadi gebetan. Kalau masih merasa kurang terkenal ya lebih gampang lagi, caci maki saja ulama dan kyai, dalam hitungan jam akun akan menjadi viral, diliput media, bahkan bisa diwawancara. Nah kan, sudah dapat gebetan, terkenal, dapet duit lagi. Kalau sudah seperti ini jomblo tidak lagi identik dengan ngenes. Apalagi jika kemudian dapat tawaran main sinetron.
Makanya ijinkan saya mengajukan protes kepada inventor-inventor sosmed yang katanya orang "Wahyudi" itu. Kenapa sih kalian kok sengaja meluangkan waktu untuk bikin riset sampai akhirnya lahir sosmed ? Kalian itu sudah bikin umat jadi tersesat, saking sesatnya kadang yang laki-laki berubah jadi perempuan hanya dengan mencantumkan avatar palsu tanpa operasi transgender !!! Sering juga dijumpai orang yang sebenernya nggak pinter-pinter amat tiba-tiba bisa jadi dosen dan memberikan kuliah, padahal mungkin hanya lulusan SMA. Kalian juga yang membuat kaum anti Wahyudi menjadi terlihat tolol dengan memanfaatkan temuan kalian untuk propaganda mereka ! Saya yakin kalian pasti tertawa terbahak-bahak saat ada orang menulis "Wahyudi laknatullah !!" di dinding FB atau Twitter. Apalagi saat ada salah satu pengguna sosmed temuanmu ini yang tidak bisa membedakan "Equil" dan miras !! Terus apa motivasi dibalik kalian melakukan riset dan membuat sosmed ? Kalian hanya akan membuat orang yang pandai menjadi bodoh dan orang bodoh semakin terlihat bodoh. Dasar Wahyudi, laknatullah !!
Saya hanya menyayangkan kenapa semua temuan kalian itu kemudian di gratiskan begitu saja. Apakah kalian tidak berpikir bahwa kami disini akan menemukan akun Facebook dengan nama "PutryYankCelaluCemungudKarenaAnendanChayankAmoeh' atau '4koohY4nkM3n4nT1mO3D1pvNc4kr1ndv' mau yang lebih ekstrim lagi ? Nih, Sellaencuz cc'Vey BynyoLoverzsweatt Bolobolloslalu, ini nama apa coba ???
Ini kan akibat kalian gratiskan aplikasi sosmed, semua kalangan akhirnya bebas saja menggunakan sesuai keinginan dan mood mereka. Kalau di protes jawab mereka santai aja, "fesbuk fesbuk guuweeh", apa nggak ngeselin ? Kalau kalian bijaksana mestinya penemuan kalian ini dibanderol dengan harga tertentu sehingga kaum-kaum alay dan para penjahat sosmed akan mikir berkali-kali menggunakan penemuanmu ini. Boleh saja kalian berdalih bahwa saat aplikasi ini ditemukan untuk bisa mengaksesnya butuh perangkat yang harganya mahal. Helllaaaawww, mas Zucker dan teman-teman, ternyata anda nggak cerdas, hari gini 200 ribu bisa beli hape dengan OS android walapun lemot. Dan dari hape lemot itu berapa ratus orang alay yang sudah bikin akun dan membuat pening kepala seluruh umat manusia ?
Dan yang lebih celaka lagi beberapa dari mereka terutama yang jomblo nekat berkenalan dengan harapan bisa kencan di dunia nyata. Tapi yang terjadi fakta antara avatar dan wajah aslinya jauh berbeda, padahal didompet udh bawa bekal alat kontrasepsi, kalau begini kan jadi kentang !
Mas-mas penemu sosmed yang baik, saya yakin tujuan kalian sangat mulia. Awalnya memang penemuan kalian sangat berguna, kami bisa menemukan kembali teman dan sahabat serta saudara yang sudah putus komunikasi sekian lama. Yah walaupun sampai saat ini saya belum menemukan keberadaan sir-siran saya saat masih SD dulu atau mantan yang pertama kali saya klomoh saat SMA. Tapi kondisi seperti itu hanya berlangsung sebentar saja, yang terjadi akhirnya banyak ibu memarahi anaknya, suami yang memarahi istri karena asyik bersosmed sampai masakan gosong atau istri yang memarahi suami karena kegep sedang chatting sama mantannya. Berapa pasangan yang berantem bahkan bercerai karena kecemburuan, berapa orang yang dikeluarkan dari pekerjaan karena menghujat pimpinan di sosmed, sampai ada yang dipenjara karena sosmed, bahkan terbunuh juga karena sosmed ? Walaupun tidak semua kesalahan ditimpakan kepada kalian penemu sosmed tapi ini memang terjadi. Asal kalian tahu tidak semua orang secerdas yang kalian duga dalam menggunakan aplikasi temuan kalian ini.
Di negara saya, yang bisa dikatakan merupakan negara dengan penduduk terbanyak pengguna sosial media, menurut statistik sampai dengan November 2015 tercatat 79 juta penduduk Indonesia adalah pengguna aktif sosmed dan 63 juta diantaranya mengakses lewat mobile internet, tidak afdol rasanya kalau pagi hari sambil ngopi tidak membuka sosmed. Begitulah betapa keadaan disini sudah sedemikian parahnya kecanduan sosmed. Sehingga untuk mendatangi undangan rapat RT yang hanya sebulan sekali pun malas sekali rasanya. Bahkan ada diantara anak-anak yang tidak kenal dengan anak tetangga depan rumah hanya karena mereka lebih memilih asyik dengan sosmed nya, dan sumpah ini saya alami sendiri. Betapa dahsyatnya aplikasi yang kalian ciptakan sehingga bisa menggeser nilai-nilai sosial dalam kehidupan.
Mungkin memang saya dan teman-teman disini yang salah sih. Tidak semua orang disini terdidik sedemikian rupa sehingga memiliki attitude yang baik dalam ber sosial media. Kalau teman-teman saya semua bisa melakukan secara santun dan beradab tidak perlu pemerintah disini mengeluarkan UU ITE untuk menjerat para teroris sosial media, walaupun UU ini masih jadi kontroversi. Memang fakta yang terjadi terutama 2 tahun terakhir ini sepertinya peran sosmed menjadi sangat vital, terutama bagi para politisi, apalagi buzzer.
Tapi tidak bisa dipungkiri banyak diantara kawan-kawan saya yang terpolarisasi juga karena pengaruh sosial media. Mereka begitu larut dengan dunia yang sebenarnya maya sehingga melupakan tempat berpijak yang sebenarnya. Dan sangat memprihatinkan sekali ketika dijelaskan mereka malah memutuskan pertemanan dan justru asik bercengkerama dengan teman didunia maya yang sama sekali tidak diketahui asal-usul dan latar belakangnya. Ikatan mereka hanya berdasar pada kesamaan pandangan dan ide serta misi dalam menghadapi masalah yang sebenarnya juga bukan urusan mereka. Ya seperti saya ceritakan diatas tadi, jomblo ketika tidak bisa menemukan solusi atas kejombloannya bisa berubah menjadi mahluk yang berbeda 180°. Contohnya yang kemarin ramai di medsos adalah bagaimana seorang karyawan sebuah BUMN besar dengan status jomblo menghina seorang Kyai kharismatik. Bagaimana seorang mamah muda, ibu-ibu seger, hanya karena jarang dikeloni suaminya kemudian melampiaskan "kerinduannya" dengan menghina Kyai Maimoen. Jadi begitulah, tidak ada korelasi linear antara tingkat pendidikan dengan kecerdasan dalam menggunakan sosmed.
Kejadian seperti diatas tadi saya yakin tidak pernah terbersit oleh kalian para penemu aplikasi sosial media. Ya sudah kita ambil saja hikmahnya, toh Indonesia dikenal sebagai bangsa yang pemaaf walaupun untuk hal tertentu dengan maksud tertentu kata maaf menjadi sangat sulit untuk diucapkan dan diterima. Kalaupun mau menggugat sosial media, memangnya saya bisa ? Bukankah selama ini saya dan teman-teman yang lain hanya dikenal sebagai masyarakat pengguna, tanpa pernah memiliki inisiatif untuk menciptakan ? Sementara kocek kalian para penemu semakin tebal dengan bertambahnya akun baru, teman-teman saya disini membuat akun baru hanya untuk saling menghina, memprovokasi, mencaci maki dan saling menjatuhkan. Indonesia, kapan kita menjadi dewasa ?
Sudah sampai di Balapan Solo, tengs sudah mau meluangkan waktu untuk membaca.
Friday, December 2, 2016
Deklarasi Jaringan Kerja Rakyat DKI
Berangkat dari keprihatinan bersama atas turunnya elektabilitas Ahok yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey, beberapa relawan yang perduli terhadap kemajuan Jakarta membuat sebuah wadah, Jangkar DKI, jaringan kerja rakyat DKI. Saya tergerak untuk mensupport gerakan ini walaupun tidak berdomisili dan memiliki hak pilih di DKI, kenapa ?
Sepertinya bukan jadi rahasia lagi dan mestinya semua setuju kalau kinerja Ahok telah memberikan perbedaan yang sangat signifikan bagi Jakarta, orang yang berpikir waras harusnya mengakui. Ini dibuktikan oleh survey terakhir dari Charta Politika. Tingkat kepuasan warga DKI atas kinerja Ahok 63,3%. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan Agus Harimurti serta Anies Baswedan, ya kan mereka belum punya pengalaman sebelumnya. Akan lebih fair jika dibandingkan dengan survey yang sama terhadap Foke di tahun 2012 yang hanya 40%.
Sebuah perbedaan yang cukup signifikan bagi petahana dalam meraih simpati atas hasil kerjanya. Artinya secara statistik kinerja Ahok sudah sangat bagus, lantas kenapa elektabilitasnya bisa turun ? Ini tentu jadi masalah besar ! Saya sendiri heran apa sih yang dicari oleh masyarakat pemilih di DKI ? Tentu hanya mereka sendiri yang bisa menjawab pertanyaan ini.
Saya hanya menyayangkan kalau mereka tidak memilih seorang leader karena semata-mata berdasarkan perbedaan etnis dan keyakinan. Apalagi kemudian menjadikan ayat suci sebagai dasar dalam mengambil sebuah keputusan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan urusan kehidupan beragama. Pemimpin juga dalam memutuskan kebijakan akan bertumpu pada aturan dan Undang-Undang, bukan kitab suci agama yang dipeluknya. Faktanya ternyata justru ini yang membuat elektabilitas Ahok menjadi terjungkal drastis.
Hanya karena statementnya di pulau seribu kemudian masyarakat muslim merasa tercederai, tentu saja setelah banyak rangkaian kejadian lainnya disertai bumbu penyedap untuk digoreng garing sehingga terasa lebih kriuk. Dan sebenarnya juga tidak semua muslim merasa tersinggung dengan Ahok, bukan karena memihak kepada Ahok, tapi lebih kepada kedewasaan dalam beragama.
Siapa pihak yang menggoreng isu ini, tentu saja lawan politik Ahok, itu tidak bisa dipungkiri, tidak usah berargumen bahwasanya ini semata-mata Ahok yang salah, itu naif sekali. Ketika Ahok menjawab serangan musuhnya dengan senjata ayat suci apa yang dia lakukan hanya melindungi dirinya sambil memberikan edukasi kepada calon pemilihnya. Masyarakat DKI diajak untuk berpikir cerdas, bahwa sekarang adalah era demokrasi dan semua warga menempati kedudukan yang sama, bukan untuk pemeluk agama tertentu saja.
Mestinya masyarakat muslim berterima kasih kepada Ahok yang walaupun bukan muslim tapi memuliakan penduduknya yang muslim.
Terhitung sudah 120 an marbot telah diberangkatkan umroh oleh Pemkot DKI sejak 2014, dan saya haqul yakin marbot itu muslim. Sebagai seorang muslim saya sangat mengapresiasi hal ini, dan tidak semua kepala daerah bisa sebijaksana ini dalam memperlakukan warganya, apalagi dia bukan seorang muslim.
Saya tidak tahu apakah Ahok juga memberangkatkan perwakilan gereja ke Yerusalem, kalaupun iya itupun tidak jadi masalah.
Dibangunnya masjid di Balaikota juga atas inisiatif Ahok, dia malu jika kantor gubernur tidak miliki masjid bagi karyawannya. Bukankah itu bukti keberpihakan Ahok kepada umat Islam ?
Dengan keberaniannya pula dia menutup lokalisasi terbesar di Jakarta, Kalijodo. Bukankan tempat ini yang jadi keresahan umat Islam ? Dia juga menutup beberapa tempat hiburan malam yang menjadi sarang peredaran narkoba. Kurang Islami apa lagi orang satu ini ? Apakah hanya karena dia bukan seorang muslim lantas kita dengan seenaknya njeplak bahwa hasil kerjanya hanyalah sebuah pencitraan ? Dia hanya sedang bekerja dan melindungi rakyatnya dari pengaruh negatif.
Ayo dong kita sama-sama open mind, bicara dengan nurani kita, apakah sudah adil dan Islami perlakuan kita terhadap Ahok ? Apakah hanya karena dia bukan muslim lalu kita membutakan diri terhadap prestasi kerjanya ? Dan tidak ada jaminan bahkan bagi seorang muslim yang dengan kemuslimannya dia bertindak secara Islami. Selandia Baru sudah membuktikan, negara sekuler dan penduduknya bukan mayoritas muslim tapi justru dijuluki negara paling Islami. Indonesia negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia justru diluar 100 besar negara paling Islami, sebagai muslim saya malu melihat realita seperti ini. Buat saya mending mempunyai negara sekuler tapi Islami daripada negara Islam tapi brutal.
Sebagai gubernur Ahok hanya menjalankan amanahnya untuk memimpin DKI, dan itu sudah dilakukan dengan baik. Apakah adil jika kita balas dengan caci maki, ancaman dan hujatan yang tiada henti ?
Ahok toh hanya manusia biasa seperti kita dia pasti tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, dia bukan Muhammad yang hatinya sudah disucikan. Kalau Tuhan yang menciptakan kita saja maha pengampun apa iya kita merasa kedudukan kita lebih tinggi dari Tuhan sehingga susah sekali untuk memaafkan ? Kalaupun bukan saudara dalam iman kita masih bisa memandang sebagai saudara dalam kemanusiaan, Islam adalah rahmat buat seluruh alam. Islam tidak akan hancur karena statement Ahok, Al Qur'an akan tetap terjaga kesuciannya karena itu janji Allah kepada kita, Dia yang menjaga, kita sebagai muslim hanya bisa tunduk kepadaNya.
Jakarta sebagai ibukota adalah etalase bagi Indonesia, mari kita pelihara bersama. Janganlah demi nafsu berkuasa kemudian membuat masyarakatnya justru berpikir mundur. Mengangkat isu SARA untuk menjatuhkan lawan politik hanya akan menimbulkan perpecahan, itu cara yang paling primitif dalam berdemokrasi. Kita semua mahfum tidak sedikit biaya, tenaga dan waktu yang dipertaruhkan demi mendapat kekuasaan. Tapi melakukan cara-cara primitif dengan menghembuskan isu SARA adalah tindakan yang paling menjijikkan. Kita sudah 18 tahun berdemokrasi, menjadi role model bagi negara-negara yang lain. Bagaimana kita bisa menyatukan perbedaan dan mensejajarkan semua suku, agama dan keturunan berada dalam kedudukan yang sama sudah diakui dunia. Tidak ada tirani minoritas ataupun sebaliknya, ini yang sangat kita syukuri.
Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk merebut simpati masyarakat Jakarta. Jangan karena pertarungan sesaat kemudian merusak tatanan yang sudah ada. Para paslon dan timnya mestinya justru mengedukasi para voters, berdemokrasilah dengan beradab. Kita tidak akan lebih ditinggikan derajatnya karena fitnah yang kita buat untuk menjatuhkan paslon lainnya. Jakarta juga menjadi role model bagi kota lain di Indonesia. Biarkanlah masyarakat Jakarta memilih sesuai dengan hati nuraninya. Jangan takut-takuti mereka dengan neraka karena tidak memilih pemimpin seagama. Beradu visi, misi dan program bisa dilakukan tanpa saling menjatuhkan.
Masyarakat di luar Jakarta sudah bising dan muak sekali dengan fitnah yang tidak berkesudahan hanya demi sebuah jabatan. Cukupkan pilpres 2014 jadi sebuah pelajaran, jangan karena 5 menit dibilik suara gilanya sampai 7 turunan dan 7 tanjakan.
Selamat bekerja kepada teman-teman Jangkar DKI, walaupun agak sedikit terlambat tapi masih ada waktu buat kalian bekerja demi Jakarta yang bersih. Tinggalkan kebiasaan relawan yang justru bisa menggerus elektabilitas, bermainlah dengan cantik tanpa harus melakukan intrik. Saya tahu ini adalah panggilan nurani sebagai warga yang sudah menikmati hasil dari kerja petahana, tanpa support dana ataupun back up pengusaha apalagi sekedar cari muka dan foto bersama.
Tidak mudah mengembalikan kepercayaan masyarakat tapi pasti kalian bisa. Oya, jangan banyak janji manis, Ahok sudah kerja dan hasilnya terlihat nyata. Janji manis itu kerjaan para jomblo yang ngarep dapat gebetan, sampai hal yang tidak realistis pun dijanjikan bisa dilakukan, kalaupun ada yang meminta untuk memakan kepala sendiri misalnya, mereka pasti janji bisa dikerjakan, yang penting gebetan ditaklukan.
Saya bukanlah bagian dari relawan, saya hanya seorang yang mengharapkan suatu hari kita seluruh rakyat Indonesia bisa berjalan bergandengan tanpa harus membedakan agama, suku, ras dan golongan. Ahok bagi saya adalah simbol, bahwa di negara yang mayoritas pemeluk Islam tidak mempermasalahkan apa agama pemimpinnya. Seperti halnya London yang memilih seorang muslim sebagai pemimpin.
Saya mengajak teman sesama muslim untuk tafakur sejenak, berapa banyak dosa yang sudah kita perbuat dengan menyebar fitnah hanya karena Ahok ?
Apakah jika Ahok tidak menjadi gubernur karena hasil fitnah akan menjadikan kita manusia paling mulia disisi Allah ?
Berapa banyak fitnah dan dusta yang harus kita sebarkan agar orang percaya kebenaran menurut pemahaman kita ?
Berapa banyak orang yg harus kita sesatkan agar orang mengakui bahwa kita adalah orang yang lurus dan ahli sorga sehingga mereka mau memilih kita ?
Seberapa sering kita harus membodoh-bodohkan dan nyinyirin orang agar khalayak percaya kita cerdas dan mau memilih sebagai penguasa ?
Berapa banyak lagi nyawa yang harus mati, tubuh yang harus dilukai, orang yang harus didustai dan difitnah, agar Tuhan memasukkan kita ke surga ?
Dan berapa banyak lagi kebencian dan hasud yang harus disebar agar orang-orang mau mengikuti kebenaran yang kita yakini?
Tuesday, November 22, 2016
Menyambut Wiro Sableng
Ada sedikit perasaan lega ketika mengetahui beberapa aktor pemicu kerusuhan dan demonstrasi yang berujung anarki akhirnya dipanggil pihak berwajib. Walaupun sampai hari ini statusnya masih menjadi saksi tapi ada optimisme bahwa kasus ini pasti akan dikembangkan sehingga akan terkuak siapa sebenarnya aktor intelektual dibalik aksi yang lalu.
Masih optimis kalau NKRI akan terjaga keutuhannya asalkan ada ketegasan terhadap siapa saja yang bermaksud untuk melakukan makar walaupun secara tersirat, melalui agenda-agenda demonstrasi yang sudah mereka buat. Agenda terselubung dengan menunggang aksi demonstrasi, jahat sekali memang bagaimana memanfaatkan massa yang saya yakin tidak tahu agenda mereka, mereka hanya dibayar untuk turun ke jalan tanpa tahu konsekwensi dibaliknya, berhadapan dengan aparat yang bersenjata. Ini kejahatan terhadap kemanusiaan. Secara konstitusional memang kegiatan ini dilindungi oleh Undang-undang dan salah satu ciri dari sebuah negara demokrasi. Tapi jika untuk menghadirkan massa kemudian menggunakan uang rasanya kok jauh dari arti demokrasi yang kita harapkan selama ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau aksi demo yang dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah tidak lepas dari isu uang.
Semakin banyak yang datang tentunya semakin banyak pula cost yang harus dikeluarkan oleh penyelenggara. Dan kita tidak bisa menyalahkan para pendemo dengan motif seperti ini. Ditengah himpitan ekonomi dan beban hidup yang semakin berat uang adalah solusinya, seperti oksigen yang dibutuhkan oleh penderita hipoksia. Yang lebih diuntungkan lagi adalah kelompok-kelompok yang memiliki kemampuan untuk memobilisasi massa, bagi mereka aksi demo adalah lahan bisnis bernilai jutaan bahkan mungkin ratusan juta rupiah. Saya sendiri secara pribadi, asal ada imbalan uang, mampu untuk mencari relawan untuk berdemonstrasi, saya banyak bergaul dengan orang pinggiran yang standar hidupnya jauh dari kelayakan, tukang becak, tukang parkir, preman jalanan, tapi tidak segila itu sih, disamping saya masih punya hati nurani.
Tentu saja tidak semua yang hadir adalah massa upahan, mereka yang berada dalam satu garis perjuangan akan rela mengeluarkan apa saja bahkan nyawa sekalipun, tapi berapa gelintir saja yang seperti itu. Apalagi banyak yang sebenarnya menolak aksi demonstrasi karena memang tujuannya yang nggak jelas.
Jangan samakan aksi yang sudah dan akan terjadi beberapa hari lagi dengan aksi mahasiswa dan masyarakat tahun '98. Saat itu pemerintah memang sudah tidak mempunyai legitimasi dimata rakyat, jelas beda dengan pemerintahan yang ada sekarang. Saya kira jika para penggerak demonstrasi berharap akan terjadi lagi peristiwa '98 bersiaplah kecewa, karena saya yakin jauh lebih banyak rakyat yang mendukung pemerintahan saat ini.
Mereka bisa saja mewakili suara umat Islam dengan mengusung tema Aksi Bela Islam III itu hak mereka, tapi faktanya umat Islam yang terwakili oleh 2 ormas terbesar di tanah air sudah jelas sikapnya untuk tidak mendukung. Jadi yang mereka wakili mungkin hanya 5% saja dari seluruh umat Islam di Indonesia. Dan saya juga secara pribadi masih meragukan ke Islaman mereka sih, ya maaf saja, ketika himbauan pemerintah masih dilanggar secara syariat mereka juga sudah melanggar ayat athi'ullaha wa athi'urasul wa ulil amri minkum. Kecuali memang mereka tidak mengakui pemerintahan yang sedang berkuasa saat ini ya, heran juga sih kok masih betah di Indonesia. Lho tapi kan mereka juga menikmati hasil kerja dari pemerintah yang sekarang ? Assssembuhhh...
Semakin lebay lagi akan ada aksi gelar sajadah dan shalat Jum'at di sepanjang Sudirman-Thamrin. Walaupun akhirnya mereka bisa diarahkan untuk melakukan shalat di Monas, pemerintah lewat Kapolri tidak bisa begitu saja disalahkan, yang penting akhirnya mereka tidak mengganggu fasilitas publik. Kok saya jadi berpikir sebenarnya ini orang mau pada ngapain sih ? Sudah jelas banyak masjid kok masih pada mau sholat Jum'at di Thamrin !! Emangnya mau sholat dalam rangka lebaran kuda ? Dimana rasa syukur mereka sampai-sampai belain shalat di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin, sementara ada saudara yang sudah berjuang bertahun-tahun untuk mendirikan tempat ibadah saja belum bisa diwujudkan ??? Ini lebih pekok daripada rakyat Republik Pekok.
Nggak habis pikir saya, ada ulama model begini di Indonesia, belum lagi yang suka teriak-teriak rasis di sosial media sembari salah mengutip ayat. Kasihan kepada mereka yang ikut terprovokasi, dibela-belain jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk tujuan yang nggak jelas. Bahkan prajurit Kopassus pun tidak pernah berjalan sejauh ini saat upacara pembaretan dan penyematan wing komando.
Lha kalau ulamanya sudah hancur lebur seperti ini pengikutnya kuwi njuk modele kongopoooo ?? Jangan pernah berpikir semua habib itu bener, habib kan cuma gelar, konon katanya keturunan Rasulullah, lha cumak keturunan owk, itu bukan jaminan bagi sebuah kebenaran, kalau keteladanan Rasulullah saya tidak meragukan lagi. Lha wong saya punya kenalan gelare habib ning seneng mendem sobone neng diskotik karo wedokan yo onok. Ya ndak saya ikutin lha habib edan og, gendheng pooo..!!
Bagi saya Habib yang patut jadi panutan ya Habib Luthfi bin Yahya, kalau habib rizieq mboten mawon. Lha kok saiki malah dibolo karo mat dhaniiii yongalaaahh...!! Iki lek Cak Kirun lak wes ngekek sampek elek.
Wes cah, jam loro bengi iki, bal-balan wes molai, tak nonton sek. Hajindul gek rokokku entek sisan...paaiiittt !!!
Monday, November 21, 2016
Rohingya, Toleransi dan Pisang Goreng
Suka kesel aja sama kelompok-kelompok yang sering seenaknya menghakimi orang lain tanpa klarifikasi. Sekarang lagi banyak kan yang seperti itu, mulai dari urusan dukung mendukung di pilkada bisa merembet ke hal yang lain. Aneh....
Beberapa hari ini kita dengar penyerbuan kelompok muslim Rohingya oleh junta militer Myanmar yang didukung oleh kaum fundamentalis Buddha. Sebagai negara demokrasi dengan penduduk muslim terbesar di dunia akan sangat wajar jika berempati dan kemudian menggalang solidaritas untuk muslim Rohingya.
Tetapi jika kemudian menuduh kelompok muslim yang selama ini gencar menyuarakan toleransi tidak pernah berbuat apa-apa untuk solidaritas muslim di Rohingya itu namanya keterlaluan. Ini bukan sekali dua terjadi, berkali-kali radikalis muslim di Indonesia selalu memfitnah dengan tanpa dasar kepada teman-teman penyeru toleransi. Seolah hanya mereka saja yang perduli kepada sesama, ini kan bangsat namanya !!
Kalau kita bekerja dalam diam saat membantu membantu mereka yang dalam masa sulit seperti muslim Rohingya apa salah ? Apakah semua kerja kemanusiaan itu harus dipublikasikan sehingga mata kaum radikal bajingan ini jadi melek ?? Atau mungkin bentuk solidaritas dimata radikalis itu adalah membunuh siapa saja yang mengganggu umat Islam Rohingya ? Terus kemudian ketika kita terbunuh disana kedatangan mayat kita disambut sebagai syuhada Rohingya, difoto dan dibikin meme dengan tulisan Bidadari menanti karena aroma jasadmu yang harum mewangi, prekkkk !!
Kurang ajarnya saat kita aktif membantu saudara-saudara lintas agama seperti saat membersihkan gereja di Samarinda kemarin mereka teriakin kita sebagai antek kafir, liberal, aqidahnya bengkok dan stigma-stigma negatif yang lain, saya sangsi jangan-jangan kepala mereka isinya bukan otak tapi pisang goreng !
Ini faham yang sangat berbahaya bagi persatuan bangsa, tapi sayangnya banyak pejabat-pejabat diatas tidak menyadari sehingga membiarkan faham ini berkembang dan tumbuh subur. Mestinya para pengambil keputusan bisa mengambil pelajaran bagaimana orang tua akhirnya sampai kehilangan anak yang tiba-tiba menjadi radikalis dan akhirnya menjadi teroris.
Saya punya sebuah contoh, kebetulan sepupu saya sendiri. Bagaimana dia setelah tiba-tiba menjadi radikal berani mengkafirkan bapaknya hanya karena bapaknya seorang pelukis. Padahal sejak kecil sampai saat berumah tangga semua biaya hidupnya ditanggung oleh bapaknya dari hasil melukis, ini kan goblooook !!!
Tidak tercatat sudah berapa kasus hubungan kekerabatan menjadi retak karena ajaran radikalisme yang sekarang sudah menjalar sampai ke pelosok. Belum lagi kasus pengambil alihan masjid yang sebenarnya menjadi fasilitas umum yang bersifat inklusif akhirnya di okupasi oleh para laskar bajingan berjubah dengan membawa nama agama ini. Dan siapapun yang berniat melakukan ibadah di masjid itu harus menurut sesuai dengan syariat yang mereka gunakan. Pak menteri agama mestinya tau lah hal-hal yang seperti ini. Sudah bukan rahasia lagi kok, apalagi mereka sudah semakin terang-terangan dalam gerakannya.
Sungguh, pembiaran hanya akan membuat bangsa ini menjadi semakin hancur. Apa tidak cukup pelajaran yang didapat saat perang etnis di Yugoslavia. Tetangga yang pada awalnya hidup harmonis tiba-tiba bermusuhan dan saling membunuh hanya karena perbedaan etnis, mengerikan, ini tragedi bagi kemanusiaan.
Rasanya gemas saja saat melihat mereka sudah tidak segan lagi berdemonstrasi dengan membawa isu agama dan SARA tapi pemerintah seakan-akan tutup mata. Saya tidak akan berpikiran negatif bahwasanya dalam kondisi tertentu pemerintah juga membutuhkan jasa mereka, sebagai pengalihan isu misalnya, mungkin, saya nggak tahu.
Aktornya sudah jelas ada, bukti berserakan dimana-mana tapi kok ya didiamkan saja. Saat dulu ada penyanyi dangdut melecehkan lambang negara aparat sangat reaktif, tapi hal yang sama dilakukan oleh pemimpin ormas radikal aparat menutup mata, ini ada apa ? Sudah sedemikian rusak kah penegakan hukum di negara ini ? Saya nggak cerita Ahok, sudah bosan rasanya. Jadi ingat ada sebuah satire yang mengatakan bahwa hanya hukum di surga yang lepas dari kepentingan politik.
Saya sering merasa kasihan kepada teman-teman dan ormas yang berjuang demi tegaknya toleransi. Disatu sisi mereka sudah banyak sekali mengorbankan waktu dan juga materi. Membuka kelas-kelas demokrasi dan toleransi demi persatuan umat. Tapi disisi lain pemangku amanah di negara ini seakan bungkam ketika terjadi aksi intoleran. Silakan baca judul lain di blog ini untuk mengetahui apa saja aksi intoleran yang terjadi di negara ini. Bukan hanya merujuk kepada satu agama atau kelompok tertentu saja karena saya bicara dalam kerangka universal.
Semoga saja tokoh-tokoh sepuh seperti Kyai Maimoen Zubair, Gus Sholah, Gus Mus dan Buya Syafi'i Ma'rif serta tokoh-tokoh pemersatu dari agama-agama lain selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Semoga juga akan banyak tokoh muda yang lahir sebagai penerus perjuangan untuk menangkal berkembangnya faham radikal di Indonesia.
Selamat berjuang demi tegaknya NKRI yang kita cintai bersama.
Tuhan memberkati kita semua.
( Tulisan ini terinspirasi dari tuitnya Mbak Alissa Wahid )
Sunday, November 20, 2016
Pertarungan Rudi vs Riri di AADC
Riri vs Rudi di AADC
Asli, sebenernya nggak suka nonton film sih, salah, maksud saya gak hobi. Kalau nonton suka aja tapi bela-belain ngantri beli tiket buat nonton premiere perasaan sampai hari ini belom pernah. Sampai suatu hari saya iseng nemenin anak nonton AADC.
Jadi gini, beberapa bulan setelah berakhirnya penayangan di bioskop, anak saya mendownload film ini atas pesanan nyokapnya, istri saya, sequel 1 dan 2 sekaligus. Sah aja lah kan udah nonton versi originalnya di bioskop walaupun cuma berdua anak saya ( istri saya sering minta didownloadin film kalau anaknya lg di warnet :-D )
Sequel pertamanya dulu juga udah pernah nonton sih tapi lupa jalan ceritanya, secara 2002 mennn, itu udah lama banget, SBY belum bikin album lagu.
Dengan mengucapkan basmalah, saya, anak-anak dan istri nonton bareng film AADC ini dlm format .dlwrt. ( donlodan warnet ) mulai dari cerita saat Cinta masih pake putih abu-abu. Tapi karena nonton rame-rame dan anak saya kebanyakan nanya jadi gak khusyuk dan tuma'ninah aja sih. Hingga akhir film saya masih penasaran aja dengan alur ceritanya. Saya mesti nonton lagi nih, minimal jadi tau kan benang merah antara AADC#1 dengan AADC#2. Malam hari setelah anak berangkat tidur iseng saya tonton lagi, sendirian aja, mulai dari sequel 1 dilanjutkan sequel 2, 4 jam lebihhhh ! Goks...
*****
AADC Sequel 1
Menurut saya emang film ini natural banget karena menceritakan keseharian anak sekolah dan geng nya. Makanya nggak heran film ini jadi box office pada saat itu. Sempat jadi inspirasi anak sekolah dalam urusan percintaan, bahkan ada diantaranya yang tiba-tiba menjadi aktivis mading, nulis puisi. Mungkin mereka mengharap akan bertemu cowok misterius seperti Rangga yang jadi pemenang lomba puisi. Minimal anak sekolah jadi lebih kreatif lah, terlepas dari apapun niatnya. Cowok-cowok yang biasanya bolos pun mendadak rajin sekolah, alasan apa lagi kalau bukan mengharap bisa dapet gebetan anak-anak sekeren geng Cinta, absurd memang tapi itu yang terjadi. Sayangnya tidak ada diantara mereka yang mencoba akrab dengan penjaga sekolah seperti Rangga yang jadi sahabat nya pak Wardiman, mungkin dianggap tidak ada untungnya juga sih, mendingan akrab sama pemilik kantin apalagi kalau punya anak cakep, bisa ngebon, syukur dapat gratisan. Apa menariknya Pak Wardiman coba ? Mau diajakin ngobrol soal sastra dan puisi kan juga gak nyambung.
Dian Sastro, ex Gadis Sampul yang saat itu boleh dibilang sebagai pendatang baru di dunia film sukses mendelivered peran Cinta di film ini, yakin deh sampai hari ini pasti masih banyak fansnya yang memanggil Dian dengan Cinta, minimal suaminya lah. Walaupun sebelum dan sesudahnya Dian juga memerankan berbagai karakter dalam film, kesan dia sebagai figur Cinta akan tetap melekat.
Rangga, jarang ada cowok se-introvert dia, nggak heran kalau Rudi Soedjarwo sebagai sutradara agak kesulitan saat mencari figur dengan karakter Rangga. Sekolah di Jakarta gaes, kalau kalian kayak Rangga udah jadi bahan palak temen yang punya geng. Dalam kesempatan yang lain Rudi juga pernah bilang, lebih susah nyari karakter cowok daripada cewek. Apalagi saat itu belum ada media sosial seperti sekarang. Berbahagialah para cowok karena kalian limited, tapi jangan geer dulu, bagaimanapun cewek itu nggak pernah salah, maaf oot...
Setelah di casting untungnya Nicholas Saputra yang kebagian peran Rangga, coba kalau Dede Sunandar, kebayang kan Dian Sastro diklomoh Dede Sunandar, huweeeeek !!
Seorang introvert seperti Rangga memang sering ditemui pada keluarga yang broken home, dan anak introvert juga biasanya jago modus sih, bikin puisi contohnya. Ya karena nggak punya temen, kompensasinya ya nulis puisi, bagus dong daripada nulis cerita porno terus dipajang di Semprot. You nailed that kak Miles ! Etapi kenapa Nico sampai sekarang masih jomblo aja yak ? Jangan-jangan patah hati ditinggal kawin Dian. Bedebah, ni ngapa jadi ngegosip .. !!
Alya, dibalik kehidupannya yang sulit karena konflik orangtuanya dia justru lebih sering jadi problem solver buat Cinta, bandingkan dengan Maura yang ganjen, Karmen yang berotot dan Milli yang loading nya lama. Mereka hanya jadi pelengkap warna kehidupan anak SMA aja sih, lagian kan gak shohih kalau namanya Geng Cinta tapi anggotanya cuma 2, geng apa itu ??
Scene favoritku adalah saat Mamet ketinggalan di airport, clear. Wajahnya itu loh...
AADC Sequel 2
Dan setelah 14 tahun berlalu di release lah AADC#2, maaak aku turut bersedih buat para veteran AADC#1 yang gak sempet menyaksikan sequel ini. Mang Diman, Frans Tumbuan, Gito Rolies sapa lagi yak ? May you're all rest in peace guys. Thank God saya masih diberi panjang umur untuk nonton lagi Cinta dan Rangga. Kalau ada anak Mojok yang mengkritisi film ini seperti FTV ya sah-sah saja sih, gak tau juga alasannnya, mungkin karena saya gak pernah nonton FTV ! Saya langganan saluran tv berbayar cuy, sayang banget kalau cuma buat nongkrongin sinetron gaje kayak gitu.
Buat saya ini film bagus sih dan terbukti kan kalau dalam hitungan minggu sudah nembus angka 3 juta penonton, dan diantara mereka ada yang nonton sampai beberapa kali di bioskop, freak banget kan ! Bukan hanya di dalam negeri, di Malaysia dan Melbourne tiketnya juga sold out saat premiere. Jarang film Indonesia bisa sesukses ini, bahkan ada beberapa diaspora yang mewek karena mereka belum sempat nonton di negara tempat mereka bermukim, worth it banget kan.
Cerita tentang Cinta masih nyimpen arsip Rangga padahal dia udah 9 tahun putus dan udah bertunangan, saya kok punya keyakinan banyak diantara kalian juga melakukan ini, move on bukan perkara mudah gaes. Dan ingatan tentang hubungan dia dengan Rangga seperti sedang dirasakan oleh Cinta sesaat setelah dia sampai di villa di Jogja, saat mampir minum es teh, juga saat dia clubbing bareng geng nya, perhatikan ekspresinya, elo nyesel tunangan ama Trian ya Ta ?? Miles keren karena bisa menyembunyikan pesan ini dengan sangat smooth dan anda harus memberi saya penghargaan untuk ini kak !!
Sayang sekali karakter Alya dibunuh padahal dia teman yang paling bisa memahami Cinta, dan adalah alasan yang tidak bisa dipahami dengan menceritakan dia meninggal karena kecelakaan. Miles ini udah kayak orang-orang di medsos yak, senengnya bunuh 'karakter' orang. Maksud saya, kenapa Miles gak nyari pengganti Ladya Cheryll buat jadi peran Alya ya ? 14 tahun nggak ada yang inget lah kayak apa profil Ladya Cheryll ketika memerankan Alya. Charlie's Angels kan juga pernah ganti formasi pemain dan gak ada yang mengkritisi, yang penting penggantinya masih cewek.
Secara Alya itu emotionally paling deket dengan Cinta kan, kalian liat deh waktu dia curcol di kamar Cinta malam-malam, terus scene waktu Cinta disidang gegara kebanyakan nuangin sambal di mangkok bakso, selalu Alya yang jadi solver dan jadi orang pertama yang tau rahasia-rahasia yang disembunyikan Cinta.
Ya sudahlah, mungkin ada pertimbangan lain kenapa Alya dimatikan dalam sequel ini, walaupun saya yakin banyak yang setuju juga dengan pendapat saya tadi.
Scene favorit saya adalah, saat Cinta maaf-maafan sama Karmen di kamar villa. Kebayang gak kalau adegan itu diperankan 2 orang cowok ? Pelukan sambil nangis gitu... Percaya deh cuma boyband yang kaya gitu.
*****
Fakta juga berbicara film ini termasuk salah satu film tersukses 2016 dari segi penonton dan banyak mendapat apresiasi dari publik, tak kurang Gubernur DKI didampingi istrinya sampai meluangkan waktu untuk nonton bersama para pemain film ini.
Riri detail banget penggarapannya, Rudy, sutradara AADC#1 agak ceroboh, kenapa ? Tonton deh adegan saat Borne melototin puisinya Rangga di mading tidak lama setelah dia gebukin Rangga, puisi yang bolak balik dibaca oleh Cinta kalimat terakhirnya adalah "Atau kuharus lari ke hutan, belok ke pantai". Tapi yang di pajang di mading adalah "Atau kuharus lari ke pantai, belok ke hutan". Hal yang kelihatannya sangat sepele, tapi bisa juga tidak, karena puisi ini yang mengantar perjodohan Rangga dan Cinta. Tapi ya gapapa lah daripada "Atau kuharus lari ke hutan, belok ke mantan"... Parah kan.
Selamat lagi buat kak Miles dan Riri yang juga sudah bisa bawa AADC#2 meraih beberapa nominasi dan jadi film pembuka pada festival film di Fukuoka. Selamat juga buat kesuksesan luar biasa di FFI kemarin walaupun dengan film yang beda, Athirah. Udah bisa di download belum ya ? :-P
Masih banyak yang penasaran apakah akan dibuat sequel berikutnya karena dulu memang tidak ada rencana untuk bikin sequel 2. Saya kira sih masih banyak yang bisa dieksplorasi dari ending cerita kemarin. Produser kan kayak Tuhan di dunia film, dia bisa melakukan apa saja dalam menghidupkan skenario. Asal jangan nunggu 14 tahun juga sih, kalau karakter yang diceritakan sudah terlalu tua akan sulit sekali mencari casting nya.
Yakali karakter Cinta diperanin oma Ratna Sarumpaet dan Rangga diperanin opa Malih Tongtong ??? Demi Tuhan saya gak rela !!!
LDR kaum fakir kelon ?
(Foto:Bintang.com)
Nggak tau kenapa tiba-tiba pengen nulis tentang LDR, Long Distance Relationship, Lungguh Dikancani Rantang ( versi MbahNyut ) atau apapun istilahnya. Kalau menurut fatwa Wikipedia, A long-distance relationship (LDR) is an intimate relationship between partners who are geographically isolated from one another. Partners in LDRs face geographic separation and lack of face-to-face contact. Membacanya saja sudah berasa kepingin nangis sejadi-jadinya, andaikan jarak itu seperti tergambar dalam peta yang ketika dilipat sedemikian rupa kemudian tidak berarti apa-apa....sigh.
Jujur saja, saya sebenernya terinspirasi dari seorang teman yang kebetulan saling follow di twitter, dia bisa dikatakan penganut LDR garis keras dan sangat bangga dengan statusnya selama ini. Screen name nya Citra Orwella, saya biasa panggil Mak Plecit, mengadopsi panggilan dari temen dlm circle dia. Secara personal nggak kenal sih, cuma karena dia sering nyampah terutama malam hari, dari yang sifatnya personal seperti urusan seberapa lama dia mandi, urusan mendidik anak, sampai urusan ranjang dia tumpahin semua di timeline omegaddd, seolah-olah seperti dia nggak punya follower, kan bangke.....! Untuk manusia bergender perempuan ( Cit lo bener perempuan kan, gw gatau sumpah ) Citra ini boleh dikatakan juaranya LDR, juaraaak. Katanya sih udah dia jalani selama beberapa tahun, dari sejak punya anak pertama kali sampai sekarang anaknya 2, itu bener anak lo kan cit ? Alasannya sih karena suaminya sering pindah dinas setiap 2 tahun sekali, itu kantor apa sih bisa labil gitu cit, agen jamu MLM ? Gila ya kok saya bisa tahu sedetil ini tentang Citra, ya iya laah, kan karena dia sering nyampah itu tadi. Kalau Citra suruh deskripsikan siapa saya ya jelas kesulitan lha wong saya pendiam, hihiii. Wajar sih namanya dosen komunikasi, tapi emang kudu secerewet itu ya, sampai urusan durasi mandi aja dikomunikasiken ke follower, saya ndak respon tuit dia kalau lagi nyampah tentang mandi. Tapi justru ini sebenernya yang jadi pertanyaan besar, bener kamu perempuan sementara durasi mandimu cuma 17 detik ??? Ini perempuan macam apaaaahh ?? Oke kita tinggalkan Mak Plecit dengan thoriqoh LDR nya.
Saya sendiri selama lima tahun termasuk penganut aliran LDR juga, jadi sebenernya saya nulis bukan dalam rangka memberikan support kepada kalian kaum LDR, apalagi menasehati, saya cuma pengen curhat aja. Beda saya dengan Citra, dia levelnya sudah sufi dalam urusan ini, mungkin kalau nggak LDR dia malah berasa aneh, mungkin. Bagi kalian yang punya rencana nekat menjalani LDR saya ucapkan selamat, karena kita termasuk kaum gagah berani walaupun awalnya akan merasakan galau tingkat dewa 19½. Tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan hubungan seperti ini, buktinya saya masih bertahan walaupun lebih karena kepepet, karena belum menemukan solusi yang pas untuk menjalani hubungan yang normal layaknya mereka yang tidak LDR. Citra temen twitter saya tadi juga happy aja, hahahihi mulu saben hari. Ada beberapa hal yang mungkin harus kalian pikirkan sebelum memutuskan untuk nekat menjalani LDR.
Pertama adalah masalah finansial, kalau hanya jarak Jogja - Solo saja sih dengan 10 ribu perak sudah bisa menyelesaikan masalah. Bagaimana dengan mereka yang LDR nya AKAP, antar kota antar propinsi, sementara harus ketemu minimal seminggu sekali misalnya. Menyiasati keuangan terutama kalau jaraknya lumayan jauh dan harus ditempuh dengan kendaraan umum seperti, bus, kereta ataupun pesawat adalah prioritas untuk dibicarakan dengan pasangan. Bagi yang mapan secara ekonomi tentu saja hal ini tidak masalah, tapi bagi mereka yang berpenghasilan paspasan tentu akan menjadi handicap tersendiri, bunuh diri itu namanya. Dilema antara pulang tapi tidak bawa banyak uang atau mengirim uang tapi nggak bisa kelon, yungalah, itu menjadi sebuah keniscayaan yang rasanya nusuk banget. Makanya yakinkan dulu bahwa secara finansial kamu tidak ada masalah untuk melakukan hubungan dengan cara seperti ini. Kedua adalah tentu saja urusan perkelonan, apalagi bagi penganut mazhab al keloniyah fii kulli yaum ilaa yaumil qiyamah. Maksudnya setiap hari bawaannya pengen kelon mulu. Akan sangat tidak nyaman tentu saja untuk menjalani hubungan ini. Bagi perempuan mungkin lebih mudah untuk menahan hasrat yang satu ini, tapi bagi laki-laki ini adalah tuntutan utama setelah menikah, terutama bagi mereka yang menikah di usia muda dan memiliki libido setara kuda, emang kuda gimana sih ?
Kecuali karena sebuah pertimbangan yang sangat prinsipil seperti kalian berdua adalah "prajurit karir" di kesatuan masing-masing ataupun karena seringnya salah satu pihak berpindah tugas sehingga akan kesulitan bagi yang sudah memiliki anak untuk menyesuaikan sekolah mereka, maka jadikanlah LDR sebagai alternatif terakhir.
Statistik di Amerika Serikat, di tahun 2005 lebih dari 15 juta orang memilih untuk menjalani LDR meskipun angkanya berkurang di tahun 2015 menjadi 14 juta orang. Tapi tidak menutup kemungkinan angkanya akan naik lagi di tahun 2016 karena terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden, hubungannya apa ? Haluweh, saya kan cuma nebak aja.
Menurut Stafford dkk, ada 7 cara untuk memelihara hubungan jarak jauh supaya awet, tapi ya nggak akan saya tulis semuanya disini, kayak dosen aja. Salah satu dari ketujuh cara yang paling penting adalah komitmen untuk saling mencintai pasangan. Terdengar sangat mudah, tapi akan teruji saat kita sudah mulai menjalani apalagi setelah mulai berproses sekian lama dan kita tidak akan tahu kapan ini berakhir. Ditambah lagi faktor lingkungan yang sering mempengaruhi, mulai dari teman kantor, tetangga bahkan kadang sampai keluarga. Di Indonesia landasan hubungan dengan cara seperti ini boleh dikatakan belum lazim walapun tidak sedikit juga penganutnya. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan dogma dan ajaran agama, dimana-mana perempuan ya ikut suami, dalil seperti itu sudah jadi menu harian. Kalau kita tidak bisa menjelaskan alasan yang 'maton' akan sangat sulit bagi sebagian masyarakat untuk menerima. "Pasti rumah tangganya sedang bermasalah", tetangga yang asal mangap seperti itu akan kita jumpai.
Kalau kalian sempat nonton film AADC ya kira-kira seperti itu lah dramatisnya hubungan LDR, kaya naik roller coaster. Gausah ngayal kamu di Indonesia sementara pasangan kamu di New York, bisa muntah darah saking kangen tapi gak punya duit buat ketemuan. Tidak ada saat yang menyenangkan bagi kaum LDR kecuali saat bertemu, walaupun hanya seminggu sekali dan itupun masih harus dibagi waktu untuk jalan-jalan dengan anak, ketemu orangtua, sowan mertua, main gadget, terima telepon dari relasi balas sms bos, dll. Statistik tentang ini pernah dirumuskan oleh Mbah Nyutz dan Mprop Picoez, frekwensi kelon akan sedikit sekali yang jelas, belum lagi kalau anak kebangun karena ngompol, hadeeeuuhh. Apalagi pas waktunya ketemu berbarengan dengan datangnya tamu bulanan istri, halaaaahh....
Segala hiburan seperti facebook, twitter dan media sosial lainnya hanya kesenangan semu belaka, kalau sudah datang malam yang ada ya ngenes jua.
Tapi kalau kalian tidak mempunyai pilihan kecuali harus menjalani proses ini semoga kalian bisa menjalani dengan ikhlas sambil terus berusaha untuk menambah frekwensi pertemuan dengan pasangan dan gunakan setiap waktu untuk menjalin komunikasi.
Hormat saya bagi kalian yang masih mempertahankan status hubungan dengan cara seperti ini walaupun harus jungkir balik dan berdarah-darah, digosipin, dibribik, disepik, tanya sama Citra kalo nggak percaya. Banyak bersyukur saja bahwa masih ada kaum yang lebih ngenes dari kita, boro-boro merasakan kelon syariah, calon aja nggak punyaaaaak...
Kalian sehat mbloooooooo ???
Ahok Kesandung Ayat Spesial Pilkada
(Foto:Megapolitan.kompas.com)
Kabar dari Bareskrim Polri terkait penetapan Ahok sebagai tersangka diterima dengan berbagai reaksi, bagi mereka yang anti Ahok tentu saja akan bersuka cita, sebaliknya bagi para pendukung Ahok tentu kabar ini sangat menyedihkan. Saya bukan pendukung Ahok dalam kapasitas dia sebagai cagub DKI lha wong saya bukan pemegang KTP DKI, jadi jangan anggap saya sebagai Ahokers garis keras. Saya hanya menaruh simpati saja kepada Ahok yang dengan kerjanya selama ini sudah banyak memberikan pengaruh positif kepada warga DKI.
Seorang Pandji Pragiwaksono yang notabene adalah jubir dari kubu Anies - Sandiaga pun memuji kinerja Ahok dan ditulis dalam blog nya. Artinya pujian bagi kinerja Ahok bukan dari saya saja. Kalaupun ada pihak merasa kurang puas dengan beberapa kinerjanya saya kira ya wajar saja, ketidakpuasan kan juga sifatnya subyektif dan tergantung motifnya juga. Ketidakpuasan ini biasanya dirasakan oleh mereka yang merasa dirugikan oleh kebijakan Ahok, ( apalagi jika sudah menyangkut masalah perut ) dan tentu saja lawan politiknya, kalau yang ini rahasia, saya nggak akan bocorin partai apa saja yang jadi lawan politik Ahok. Mengurus Jakarta dengan kompleksitas permasalahannya yang sudah kita ketahui bersama pastinya akan sarat sekali dengan konflik kepentingan, dan akan sangat mustahil sebuah kebijakan akan bisa memuaskan banyak orang, walaupun solusi terhadap ketidakpuasan sebenarnya sudah diberikan, dalam bentuk kompensasi misalnya, tapi ya tetap saja.
Keputusan Polri yang menjadikan Ahok sebagai tersangka tentu saja menjadi pukulan bagi para pendukung Ahok, tapi marilah kita berbesar hati, seperti halnya Ahok yang dengan ikhlas menerima dan menganggap ini sebagai sebuah proses demokrasi, bahkan sejak sebelum dia dinyatakan sebagai tersangka. Sikap seperti ini yang sangat jarang kita temui dilakukan oleh para pejabat di negara ini. Tentu saja kita berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ahok atas keikhlasan dia dalam menjalani proses hukum. Lha wong mati demi menegakkan kebenaran dia aja siap kok apalagi hanya berurusan dengan hukum, statement itu sering kita dengar dari Ahok kan. Mungkin ini yang bikin musuh politik yang bermental kardus itu menjadi panik dan sangat bernafsu untuk mengkriminalisasi Ahok.
Saya kira keputusan untuk menjadikan Ahok sebagai tersangka juga bukan perkara mudah bagi Polri, seperti yang dikatakan oleh Kapolri, ada perbedaan pendapat/dissenting opinion dikalangan penyidik. Ini mungkin kasus terberat bagi Polisi dalam mengambil keputusan sepanjang tahun 2016. Diakui atau tidak, tekanan dari ormas yang melakukan demonstrasi 411 yang lalu memberikan pengaruh terhadap hasil pemeriksaan Polri. Semoga yang seperti ini tidak menjadi preseden buruk bagi penegakkan hukum di Indonesia, cukup Ahok jadi martir dari biadabnya ormas berjubah. Kabar terakhir status Ahok pun belum menjadikan mereka puas karena masih ada tuntutan untuk menahan Ahok. Padahal kalau dipikir jumlah umat Islam yang tidak tersinggung karena ucapan Ahok saya pikir jauh lebih besar daripada mereka yang tersinggung. Artinya umat yang sehat secara rohani pasti tidak akan mudah tersinggung, diprovokasi mah sudah biasa. Apa mau dikata ternyata masih ada diantara umat Islam yang sebenernya menjalankan agama tanpa memahami substansinya, ya maaf, mereka hanya menjalankan ritual dan pemuja simbol ke-Islaman saja. Coba bandingkan saja dengan penistaan yang dilakukan oleh Mustofa Nahrawardaya dan Hafidz Ari terhadap saudara kita kaum Nasrani lewat akun twitternya, jauh lebih provokatif dan berbahaya bagi persatuan dan kebhinekaan Indonesia, silakan cek sendiri di akun mereka. Apa karena yang dinista adalah kaum minoritas lalu mereka bebas saja dari jerat hukum ? Saya punya screen capture nya tapi tidak saya share disini, karena isinya sangat sensitif sekali, nanti nasib saya seperti Buni Yani.
Hanya orang bego saja yang berpendapat bahwa kasus yang menimpa Ahok adalah murni kasus penistaan agama tanpa melihat ada indikasi keterlibatan aktor intelektual dalam menjegal laju Ahok dalam pilkada Februari nanti. Apalagi mengingat elektabilitas Ahok masih unggul dibanding dengan paslon yang lain. Dalam berpolitik singkirkan dulu masalah baik dan buruk, sepanjang untuk cita-cita berkuasa kebaikan bisa dipelintir sedemikian rupa menjadi sebuah keburukan. Dan manusia tidak pernah ada yang sempurna, Ahok dengan pola kepemimpinannya memang sering menimbulkan resistensi bahkan dari orang yang dipimpinnya. Kita tidak usah cerita resistensi dari lawan politiknya, waktu seminggu tidak akan cukup bagi mereka untuk mencela Ahok. Semoga kejadian ini akan menjadikan Ahok lebih mawas diri, semua bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan statement yang menyakitkan kok pak. Bekerja dalam diam akan lebih terasa dampaknya, tanpa banyak mengumbar kata-kata kasar, tegas tidak berarti keras kan pak. Jokowi bisa dijadikan contoh buat anda, diam tapi menusuk dan saya kira itu lebih bijaksana. Tanpa bicara kasar saya kira orang seluruh Indonesia bisa ngerti gaya kepemimpinan dan kejujuran yang coba bapak terapkan. Dan saya yakin dengan cara seperti ini resistensi terhadap bapak akan berkurang, bapak tentu akan mudah diterima disemua kalangan dan polarisasi tidak akan terjadi. Yang harus bapak sadari bahwa masyarakat kita belum bisa menerima perbedaan, apalagi menyangkut agama dan ras, itulah kenapa Al Maidah 51 jadi muncul ke permukaan. Surat Al Maidah ini memang jadi favorit para politisi untuk menghabisi lawan politik dan populer sekali saat musim pilkada seperti saat ini.
Bicara tentang aktor politik seperti yang diindikasikan oleh Presiden, kita tentunya sudah mahfum, saya ndak akan ngomongin ini karena sudah banyak bertebaran indikasi siapa sebenarnya aktornya.. Dan kita mestinya harus maklum bagaimana sang aktor sedang melakukan perjudian dan itu harus dimenangkan dengan berbagai cara. Cara memenangkan perjudian dan pergerakan dari lawan politik ini yang mungkin tidak terbaca oleh tim Ahok-Djarot karena bisa jadi merasa sudah diatas angin dibuai oleh keunggulan dalam survey, faktanya mereka kesandung. Untung saja pasal yang disangkakan terhadap Ahok masih memungkinkan dia untuk tetap maju sebagai cagub. Sekarang adalah kewajiban para relawan, timses dan orang yang terkait didalam tim pemenangan Ahok untuk meyakinkan para calon pemilih bahwa status tersangka tidak lantas berarti Ahok bersalah karena banyak yang tidak memahami ini. Saya suka dengan statement mas Budiman Sudjatmiko bahwa PDIP akan lebih militan lagi dalam mendukung, seperti banteng ketaton dan sejarah sudah membuktikan. Walaupun ber tagline partainya wong cilik, tapi saya yakin basis massa Ahok di DKI tidak hanya wong cilik, banyak juga intelektual dan kaum muda pro Ahok, kerja PDIP akan lebih berat karena yang diyakinkan adalah wong cilik yang notabene mudah dipengaruhi oleh stigma negatif. Upaya untuk memberikan stigma negatif terhadap Ahok oleh lawan politik adalah sebuah keniscayaan. Inilah yang harus di counter, kondisi saat ini yang dilakukan hanya bisa bertahan untuk tidak dijadikan bulan-bulanan.
Kalau masih saja ada yang keukeuh bahwa Ahok bersalah karena menistakan agama sesuai dengan statement MUI ya silahkan saja. Dari dulu saya tidak pernah menganggap MUI sebagai institusi sakral, walaupun sampai sekarang oleh sebagian orang masih dianggap sebagai rumah besar para ulama untuk dimintakan fatwa. Siapa bisa menjamin independensi MUI dari urusan politik praktis ? Okelah kalau selama ini dijadikan rujukan untuk memutuskan jatuhnya awal ramadhan dan hari raya, tapi ketika ada ormas yang tidak setuju toh mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Abaikan saja ormas nggak jelas ( kata Gus Mus ) satu ini, ditambah lagi Wasekjennya, yang terlihat Islami sekali komplit dengan jubah dan sorban putih dikepalanya pernah salah saat menghukumi dengan ayat, ulama tidak pernah salah ? Afa laa ta'qiluun ?
( Ini link beritanya http://jurnalindonesia.id/membongkar-kadar-keilmuan-wasekjen-mui-tengku-zulkarnain/ )
Kita akan menjadi saksi sejarah akan seperti apa MUI kedepannya setelah hanyut dalam politik praktis, jadi tunggangan ormas dan parpol serta dijadikan alat untuk melahirkan fatwa-fatwa aneh dan tidak berkelas. Pernah dengar MUI memberikan fatwa haram terhadap pembuatan polisi tidur dengan alasan membahayakan pengendara kendaraan bermotor ? Serius ini terjadi di Kalimantan. Dan belum lama ini juga memberikan fatwa haram terkait penunjukan Kapolda Banten yang beragama Nasrani, gendeng !!
Saat ini saya lebih suka mendengarkan ceramah Kyai Anwar Zahid ketimbang omongan tidak jelas yang sumbernya dari MUI, maaf saja. Saya hanya mengkritisi MUI, tidak bermaksud untuk menghujat sama sekali, wajar kan, apalagi mereka juga mendapat kucuran dari APBN via Kemenag, disitu kan juga ada duit saya dan duit kalian yang dianggap kafir oleh sebagian ulama di MUI, hormat dan takdzim saya kepada Kyai Ma'ruf Amin sebagai ketuanya.
Akhirnya saya harus menyampaikan ini kepada para pendukung Ahok di DKI, ini adalah momentum untuk kita semua berkontemplasi dan introspeksi, dukunglah Ahok dengan cara yang sehat tanpa harus menghujat, apalagi dalam kondisi seperti ini. Beberapa bulan sebelum kasus ini bergulir kalian sudah sangat percaya diri hingga perlahan popularitas Ahok mulai menurun dan sekarang berada dalam titik paling kritis. Masih ada waktu untuk merubah cara dukungan kalian sehingga bisa lebih diterima oleh masyarakat tanpa terkesan arogan. Ingat, untuk kampanye saja sekarang Ahok sering mendapat ganjalan, ini PR besar. Sejenak lupakan materi, ada orang baik yang sedang dikriminalisasi dan butuh dukungan untuk kembali meraih simpati. Jangan sampai bikin ulah yang justru menimbulkan antipati warga DKI.
Selamat berjuang semoga Tuhan memberkati.
Wawancara Imajiner dengan AHY
Keesokan harinya aku berangkat lagi ke Puri Cikeas setelah semalam di telepon ndoro Roy yang sudah mendapat persetujuan dari pak beye.
Dengan mengenakan batik aku disuruh untuk menemui ndoro Roy sebelum bertemu AHY. Beda saat mewawancara Ahok yang terkesan lebih santai dengan suasana hahahihi, disini masih berlaku protokoler ala istana. Orang seperti Marno Blewah dan Agus Magelangan akan sangat sulit untuk menembus protokoler seperti ini.
"Ayo masuk dek, sudah ditunggu mas AHY dan mbak Anissa di belakang", kata ndoro Roy. Aku mengikuti langkah ndoro Roy memasuki ruangan dalam puri. Ndoro Roy mempersilakan aku untuk duduk sementara dia memanggil mas AHY dan Anissa, istrinya. Sesaat kemudian mereka datang dengan bergandengan tangan.
"Ya gimana ya mas Agus, menurut saya semua sudah terjadi, sekarang tinggal njenengan fokus aja ke pencalonan. Masih bersyukur njenengan banyak yang mencalonkan dan punya istri yang cantik. Saya punya teman namanya sama seperti njenengan, jangankan istri cantik, calon aja nggak ada."
Begitulah akhirnya acara wawancara berubah jadi ajang curcol seorang cagub. Di akhir sesi AHY tiba-tiba bertanya,
Wawancara Imajiner dengan Ahok
Wawancara Imajiner Dengan Ahok
( foto: netralnews.com)
Sebagai wartawan yang ditugaskan meliput dinamika politik di DKI aku mencoba untuk menembus pintu birokrasi supaya bisa sekedar kenal dengan para bakal calon gubernur yang belum lama ini mendaftar di KPUD dengan dukungan mesin partai.
Sebelumnya aku lebih sering meliput tentang gosip artis saat masih magang sebagai wartawan. Setelah hampir setahun melakukan peliputan di balaikota akhirnya dengan perjuangan yang tidak mudah aku berhasil melakukan wawancara eksklusif dengan ketiga calon dalam kesempatan yang berbeda. Dari ketiga cagub akses yang secara mudah didapatkan justru saat mewawancara Ahok. Mungkin karena sudah familiar dimata beliau, bahkan aku ditelepon secara pribadi oleh beliau tanpa lewat ajudan, apalagi relawan !!
"Hello mas Fauzan udh bangun belum, ayo ikut peresmian RPTRA bersama saya, ada Sophia Latjuba juga looh.." kata Ahok lewat telepon di suatu pagi.
"Oke Pak Ahok, siappp, jam berapa rencana berangkatnya ? Biar saya bisa bergabung dengan rekan wartawan lain saja" balasku sambil menghisap sebatang rokok.
"Lho nggak usah sama wartawan lain, anda nanti berangkat satu mobil dengan saya dan Sophia, katanya sekalian wawancara, setelah menemui warga didepan balaikota kita langsung berangkat ya." Ahok menjelaskan lagi.
"Tapi bukannya di mobil biasanya bapak juga bawa relawan ?" balasku
"Ck ah nggak penting itu, mereka nanti saya suruh pakai kendaraan lain saja, mereka sekarang sudah nggak terlalu dibutuhkan sebenarnya, apalagi sering melakukan blunder, hahahaa..." Ahok ketawa. Kampret juga ni orang, batinku.
"Gitu ya pak, oke pak saya siap-siap dulu ya, nanti segera meluncur ke balaikota"
"Oke mas Fauzan, saya tunggu ya...," kata Ahok mengakhiri pembicaraan subuh lewat telepon itu.
Pagi itu jam 7 aku sudah siap di balaikota lengkap dengan properti dan atribut sebagai wartawan. Seperti biasa sebelum melakukan kegiatan Ahok selalu menyempatkan diri bertemu dengan warga yang sudah antri didepan balaikota, mulai dari yang sekedar ingin bersalaman sampai dengan warga yang minta keringanan atau bantuan untuk berobat sanak familinya. Saat itu juga Ahok bisa mengambil keputusan setelah berkoordinasi dengan dinas terkait. Belum pernah ada gubernur seperti ini di daerah manapun di Indonesia, ini luar biasa. Agak heran ketika masih ada saja elemen masyarakat yang menolak dipimpin oleh Ahok hanya karena dia bukan muslim dan keturunan Tionghoa, alasan yang sangat absurd kalau tidak mau dikatakan goblok.
Setelah usai melayani warga Ahok menghampiriku, "Maaf ya agak lama menunggu, hari ini banyak warga yang harus dibantu", kata Ahok sambil menyalami saya. "Oh ya kenalin, ini mba Sophia Latjuba yang hari ini juga akan menyertai kita meresmikan RPTRA" kata beliau melanjutkan. "Hai mba Sophie, cantik sekali anda hari ini, tepatnya setiap hari sih,hehe" kataku. "Hallo mas Fauzan, senang berkenalan dengan anda, pagi-pagi sudah modus aja" kami bertiga tertawa. "Ayo kita berangkat.." kata Pak Ahok sambil memanggil sopirnya.
Tak berapa lama kami sudah berada di mobil, aku dan pak Ahok duduk ditengah dan Sophia Latjuba duduk di depan. Pak Ahok sendiri yang ngatur seperti ini, mungkin beliau ingin mempermudah proses wawancara, atau jangan2 dia nggak rela aku berduaan dengan Sophia Latjuba di seat tengah ? Hahahaaa...
"Bagaimana pak Ahok bisa dimulai wawancaranya ?" kataku sambil menyiapkan hape untuk merekam.
"Silakan, mau mulai darimana ?" balas beliau. Akupun membuka catatan yang sdh disiapkan.
"Kenapa Pak Ahok akhirnya memutuskan untuk maju jadi cagub lewat jalur parpol, banyak pendukung bapak yang kecewa loh pak", tanyaku memulai wawancara.
"Baiklah mas Fauzan walaupun pertanyaan ini sdh seringkali diajukan tapi khusus untuk mas Fauzan akan saya jawab secara lebih detil.."
"Loh berarti sebelumnya tdk dijawab secara detil pak ?
"Bukan begitu, tapi dlm kesempatan ini akan saya jelaskan secara gamblang, paham ya mas" jelas Pak Ahok
"Oke pak, sebuah kehormatan buat saya"
"Begini mas Fauzan, anda kan tahu sendiri saya itu paling nggak enak untuk menolak, saat itu ada sekumpulan anak muda yang saya tahu niat mereka baik untuk mendukung saya, daripada mengecewakan mereka ya saya terima saja dukungan mereka". "Kalau mas fauzan berada pada posisi saya pasti akan melakukan hal yang sama kan".
"Menurut Bapak, sejauh mana sih peran relawan terhadap program Pak Ahok yang sedang dikerjakan saat ini?"
"Saya sih membebaskan untuk melakukan apapun yang mereka mau, mereka juga memiliki Jakarta kan, tapi kadang ada saja yang melampaui batas."
"Maksud bapak melampaui batas seperti apa ya ?"
"Mas Fauzan ini seperti nggak pernah main twitter aja ya mba Sophia, hahaha.." pak Ahok dan Sophia tertawa bersama.
"Oh kalau itu saya juga tahu pak, tapi memangnya apa yang mereka lakukan di medsos berpengaruh ya terhadap elektabilitas pak Ahok ?"
"Ya pengaruh tetap ada, saya sering koordinasikan ini dengan relawan, tapi sepertinya belum ada perubahan ya, gak tau saya juga jarang lihat medsos kecuali untuk hal yang penting saja". "Malas juga rasanya baca mention yang kadang lebay gitu walaupun datang dari pendukung saya".
"Apa bapak juga tahu ada yang menunggangi relawan untuk kepentingan bisnis mereka?" "Bahkan ada lho yang dulu jadi haters, terus tiba-tiba sekarang jadi relawan..."
"Ya kalau itu sudah bukan rahasia lagi mas, tapi yang perlu dicatat, saya samasekali tidak ada urusan dengan bisnis mereka, itu untuk kepentingan mereka sendiri, sebenarnya dalam hal ini mereka jual nama saya, begitu kan ya mas?" "Iya pak...," tukasku.
"Tapi nggak papa mas, sepanjang tidak merugikan saya. Jaman sekarang mas, orang cari duit kan nggak mudah, silakan saja manfaatkan saya, tapi kalau bisa ya mbok jangan lebay gitu ya, hahaha..." kami bertiga tertawa.
"Hubungan Pak Ahok dengan Dhani gimana, dia bersama Ratna kan paling militan dalam melawan bapak?"
"Loh kalau saya kan pelayan masyarakat, saya ndak perduli mereka senang atau tidak kepada saya, ngapain saya harus menghabiskan energi untuk ngurusin Dhani sama Ratna yang tuntutannya nggak jelas, kalau Ratna dari dulu ya emang begitu, mana pernah dia berada di pihak pemerintah ?" Biarkan para relawan yang mengurus mereka, kalau saya tetap fokus kerja aja, toh masih banyak publik figur yang mendukung kebijakan saya, contohnya yang duduk didepan saya ini", lanjut pak Ahok nyengir sambil mengerlingkan matanya.
"Artinya relawan ada gunanya juga ya pak..?"
"Ya lumayanlah, untuk urusan-urusan yang nggak penting seperti itu mereka bisa diandalkan", kata Ahok sambil tersenyum.
"Tanggapan bapak terhadap video di kepulauan seribu dan demo FPI kemarin gimana pak?"
"Begini ya mas, mas fauzan sudah melihat secara utuh video aslinya kan ?" "Saya kira anak lulusan SD aja tahu apa makna dari video itu, nah kalau kemudian video itu beredar setelah diedit dan jadi ramai ya mestinya yang disalahkan yang nyebarin dan ngedit dong, logikanya kan begitu". "Dalam hal ini saya justru sebagai korban fitnah, kok malah saya yang harus diperiksa dengan alasan penistaan agama, bukan begitu mbak Sophie.." Sophia mengangguk seolah teringat kasus yang pernah menimpa Ariel, kekasihnya.
"Tapi MUI juga menjatuhkan fatwa bahwa bapak bersalah loh pak," tanyaku kemudian.
"Iya, tapi mereka tidak pernah meminta klarifikasi kepada saya, mestinya kan ada tabayyun dulu, kan seperti itu yang diajarkan oleh Islam dalam menyelesaikan masalah".
"Bapak ini seperti ngerti Islam saja, kan bapak Nasrani", pancingku.
"Hahaha, apa ada jaminan orang yang beragama Islam juga tau Islam, maaf sekali kalau saya bilang seperti ini, kebanyakan kan hanya KTP karena mereka lahir dari orangtua yang beragama Islam. Jangan salah mas, orang Yahudi dan Nasrani yang lebih tau agama Islam daripada pemeluk Islam juga banyak, itu karena mereka nggak diharamkan belajar tentang agama diluar keyakinan mereka mas". Pancinganku dimakan telak sama Pak Ahok.
Tidak terasa perjalananku sudah sampai di lokasi peresmian RPTRA dibilangan Jakarta Utara.
"Sudah sampai mas, saya harus bekerja dulu, lain kali kita sambung sambil kita makan, kali ini mas fauzan makan sendiri aja ya, saya nggak bawa duit buat nraktir, hahaha...".
"Insha Allah lain kali saya traktir mas fauzan..." kata Ahok mlengeh..
"Insha Allah ? Apa itu artinya pak, emang tau ?"
"Gak harus tau artinya, tapi saya tau pasti ada kebaikan dibalik kata itu kan...?"
"Oke pak saya tunggu undangannya, jangan cuma relawan aja yang diajak makan, kami wartawan juga punya kontribusi loh dalam membesarkan nama pak Ahok".
"Siap mas, salam ya buat teman-teman.." kata Ahok mengakhiri wawancara.
Wawancarapun berakhir dan Ahok janji akan menelepon saya lagi pada kesempatan lain. Sayapun turun dari mobil dan bersalaman dengan Pak Ahok dan Sophia Latjuba, duh senyumnya....




